Jelang siang itu, di hari Sabtu (14/02), udara Dusun Maron terasa sejuk. Kabut tipis masih menggantung di perbukitan Desa Pujon Lor, Kecamatan Pujon, Kabupaten Malang. Saya tengah mengikuti home visit dalam rangka Pengabdian Masyarakat bertajuk The Impact of Air Pollution Due to Open Waste Burning on Cardiovascular Health in Rural Indonesia.
Di halaman salah satu rumah warga lansia bernama Siti Asfiyah yang berada di RT 15 RW 07, saya melihat dan memotret rumpun anggrek yang menjulang tegak, berbunga lembut berwarna merah muda keunguan.
Bukan anggrek yang menempel di batang pohon seperti lazimnya. Ia tumbuh langsung dari tanah, berumpun, dengan batang beruas-ruas menyerupai bambu kecil. Itulah anggrek bambu, atau secara ilmiah dikenal sebagai Arundina graminifolia.
Anggrek bambu merupakan anggrek terrestrial yang hidup di tanah dan tumbuh tegak dengan tinggi antara 70 sentimeter hingga dua meter. Batangnya lurus, beruas, mengingatkan pada buluh muda. Daunnya linier-lanset, kaku, tersusun rapi dalam dua baris, menyerupai helaian rumput yang memanjang.
Di ujung batangnya, bunga bermekaran secara berurutan. Diameter tiap kuntum sekitar 4–6 sentimeter, berwarna merah muda keunguan dengan bibir bunga bercak kuning-putih yang kontras. Mekarnya tidak serentak, melainkan bergiliran, seolah memberi kesempatan bagi setiap bunga untuk tampil sendiri [
1Flora & Fauna Web. (n.d.). Arundina graminifolia. NParks. Retrieved March 01, 2026, from https://www.nparks.gov.sg/florafaunaweb/flora/1/6/1690
].Nama genus Arundina berakar dari bahasa Latin “arundo” (buluh), merujuk pada sosok batangnya yang mirip bambu. Sementara epitet spesifik graminifolia berasal dari gabungan kata Latin “gramineus” (rumput) dan “folium” (daun), mengacu pada bentuk daunnya yang menyerupai rumput.
Spesies ini pertama kali dideskripsikan tahun 1825 oleh botanis Skotlandia David Don (1799-1841) sebagai Bletia graminifolia dalam karyanya Prodromus Florae Nepalensis [
2Don, David, Hamilton, Francis, & Wallich, N. (1825). Prodromus florae Nepalensis: sive Enumeratio vegetabilium quae in itinere per Nepaliam proprie dictam et regiones conterminas, ann. 1802-1803. Detexit atque legit d. d. Franciscus Hamilton, (olim Buchanan) Accedunt plantae a. d. Wallich nuperius missae (p. iii). Londini: J. Gale. https://www.biodiversitylibrary.org/page/392889
]. Pada 1910, botanis Swiss Bénédict Pierre Georges Hochreutiner (1873-1959) merevisi klasifikasinya dan menempatkannya ke dalam genus Arundina, yang dipublikasikan dalam Bulletin of the New York Botanical Garden [3New York Botanical Garden & New York Botanical Garden. (1910). Bulletin of the New York Botanical Garden (Vol. 6, p. i). Published for the Garden by the New Era Printing Co. https://www.biodiversitylibrary.org/page/31041547
].Sebagai anggota famili Orchidaceae, anggrek bambu berasal dari kawasan Asia tropis dan subtropis. Ia dapat dijumpai di India, Nepal, Thailand, Malaysia, Singapura, Indonesia, Tiongkok Selatan, hingga kepulauan Pasifik [
4Kaur, H., Sena, S., Jha, P., Lekhak, M. M., Singh, S. K., Goutam, U., Arencibia, A. D., & Kumar, V. (2022). Arundina graminifolia (D.Don) Hochr. (Orchidaceae): A review of its medicinal importance, phytochemistry and pharmacology activities. South African Journal of Botany, 150, 956–964. https://doi.org/10.1016/j.sajb.2022.08.048
]. Habitat alaminya meliputi semak belukar, hutan terbuka yang cerah, serta tepian sungai hingga ketinggian sekitar 2.800 meter di atas permukaan laut [5Puccio, P. (n.d.). Arundina graminifolia - Monaco Nature Encyclopedia. Monaco Nature Encyclopedia. Retrieved February 26, 2026, from https://www.monaconatureencyclopedia.com/arundina-graminifolia/?lang=en
].Kemampuannya berbunga sepanjang tahun, asalkan tumbuh dalam kondisi optimal, membuatnya populer sebagai tanaman hias. Di berbagai negara, ia dikenal dengan beragam nama: bamboo orchid, grass orchid (Inggris); orchidée bambou (Prancis); orquídea-bambu (Portugis); teet pindalu (Nepal); wah-thit-kwa (Myanmar); khaem dok kho khaem lueang (Thailand); orkid buluh, tapah (Malaysia); anggrek bambu, hui bini, hui laki (Indonesia); zhú yè lán shǔ (China).
Namun, kisahnya tidak berhenti sekadar sebagai tanaman hias (ornamental plant) atau penghias taman saja.
Di Desa Peadundung, Sumatera Utara, sub-etnis Batak Toba memanfaatkan tunas mudanya sebagai sumber pangan. Tunas itu dipanggang di atas bara hingga empuk, menjadi sumber karbohidrat sederhana [
6Silalahi, M., Nisyawati, & Anggraeni, R. (2018). STUDI ETNOBOTANI TUMBUHAN PANGAN YANG TIDAK DIBUDIDAYAKAN OLEH MASYARAKAT LOKAL SUB-ETNIS BATAK TOBA, DI DESA PEADUNGDUNG SUMATERA UTARA, INDONESIA. Jurnal Pengelolaan Sumberdaya Alam Dan Lingkungan (Journal of Natural Resources and Environmental Management), 8(2), 241–250. https://doi.org/10.29244/jpsl.8.2.264-270
]. Di Malaysia Timur, varietas dataran tinggi diolah sebagai sayuran; bunganya ditumis, rasanya pahit menyerupai pare, dan dipercaya membantu mengendalikan tekanan darah [1Flora & Fauna Web. (n.d.). Arundina graminifolia. NParks. Retrieved March 01, 2026, from https://www.nparks.gov.sg/florafaunaweb/flora/1/6/1690
].Dalam ranah pengobatan tradisional Asia, anggrek bambu memiliki reputasi panjang. Di kalangan etnis Dai di Xishuangbanna, Yunnan, tanaman ini dikenal sebagai “Baiyangjie” atau “Wengshanghai”, yang secara harfiah berarti “obat mujarab untuk segala penyakit”. Ia digunakan sebagai penawar racun, terutama untuk keracunan makanan dan obat-obatan. Prinsip pengobatan Dai yang khas, “meredakan sebelum menyembuhkan”, menempatkan tanaman ini sebagai agen detoksifikasi utama.
Dalam teori pengobatan tradisional Tiongkok, anggrek bambu bersifat netral dengan rasa pahit. Khasiatnya dipercaya meliputi membersihkan panas, detoksifikasi, menghilangkan angin dan kelembapan, meredakan nyeri, serta bersifat diuretik. Secara empiris, ia digunakan untuk mengatasi infeksi paru-paru, hepatitis, edema beri-beri, artralgia rematik, gigitan ular, hingga cedera traumatis. Bahkan, ekstraknya telah dimasukkan dalam formulasi detoksifikasi Baogan No.1 yang diuji secara klinis sejak 1999 [
7Zhang, X., Chen, W., Du, Y., Su, P., Qiu, Y., Ning, J., & Liu, M. (2021). Phytochemistry and pharmacological activities of Arundina graminifolia (D.Don) Hochr. And other common Orchidaceae medicinal plants. Journal of Ethnopharmacology, 276, 114143. https://doi.org/10.1016/j.jep.2021.114143
].Penelitian etnofarmakologi mutakhir juga mencatat penggunaannya dalam pengobatan pneumonia, tuberkulosis, dan bronkitis di berbagai komunitas etnis di India [
4Kaur, H., Sena, S., Jha, P., Lekhak, M. M., Singh, S. K., Goutam, U., Arencibia, A. D., & Kumar, V. (2022). Arundina graminifolia (D.Don) Hochr. (Orchidaceae): A review of its medicinal importance, phytochemistry and pharmacology activities. South African Journal of Botany, 150, 956–964. https://doi.org/10.1016/j.sajb.2022.08.048
].![]() |
| Tanaman anggrek bambu (Arundina graminifolia) yang tumbuh subur bersanding dengan tanaman kaktus di Dusun Maron RT 15 RW 07 Desa Pujon Lor, Kecamatan Pujon, Kabupaten Malang |
Mekar di Halaman Sederhana
Di halaman rumah nenek Siti Asfiyah itu, anggrek bambu tidak sedang menjadi bahan penelitian atau ramuan obat. Ia hanya berdiri tegak, berbunga anggun, menyatu dengan udara desa yang bersih dan cahaya matahari menjelang siang itu.
Namun, di balik kelopaknya yang lembut, tersimpan kisah panjang, yaitu tentang perjalanan taksonomi lintas abad, tentang pemanfaatan sebagai pangan dan obat, serta tentang kebijaksanaan lokal yang merawatnya turun-temurun.
Anggrek bambu mengajarkan satu hal sederhana, bahwa keindahan tak selalu bergantung pada tempat tinggi. Ia tumbuh di tanah, berakar kuat, tetapi tetap mampu menjulang dan berbunga sepanjang musim. *** [010326]





Tidak ada komentar:
Posting Komentar