Rabu, Februari 25, 2026

Allium cepa var. aggregatum, Tanaman Bawang yang Umbinya Berwarna Merah dan Berkelompok

  Budiarto Eko Kusumo       Rabu, Februari 25, 2026
Kurang lebih dua puluh meter dari Gedung Posyandu Kartini IV, lokasi tempat berlangsungnya kegiatan pengabdian masyarakat bertajuk The Impact of Air Pollution Due to Open Waste Burning on Cardiovascular Health in Rural Indonesia pada Sabtu (14/02), saya sempat melihat pada serumpun tanaman yang tumbuh bersahaja di tepi parit. 
Di depan sebuah rumah warga Dusun Maron RT 14 RW 08, Desa Pujon Kidul, Kecamatan Pujon, Kabupaten Malang, rumpun itu berdiri segar, seolah tak terusik oleh aktivitas sekitar.
Brambang,” ujar pemiliknya singkat. Dalam bahasa Jawa, demikianlah masyarakat menyebut bawang merah.
Tanaman yang dalam dunia botani dikenal sebagai Allium cepa var. aggregatum G. Don ini memang tampil sederhana. Ia berupa herba abadi yang kerap dibudidayakan sebagai tanaman tahunan. Ciri khasnya terletak pada umbinya yang tidak tunggal, melainkan tumbuh berkelompok, kecil, aromatik, dengan bentuk lonjong hingga membulat. Lapisan luarnya tipis seperti kertas, berwarna cokelat kemerahan sampai ungu, sementara daunnya berongga dengan semburat hijau kebiruan yang khas.

Tanaman bawang merah (Allium cepa var. aggregatum) di halaman depan rumah warga Dusun Maron RT 14 RW 08 Desa Pujon Kidul, Kecamatan Pujon, Kabupaten Malang

Nama genus Allium berasal dari bahasa Latin āllium yang berarti bawang putih [
1Merriam-Webster. (n.d.). Allium. In Merriam-Webster.com dictionary. Retrieved February 22, 2026, from https://www.merriam-webster.com/dictionary/allium
], sedangkan kata cepa merujuk pada “bawang” [
2Allium cepa L. in Döring M (2022). English Wikipedia - Species Pages. Wikimedia Foundation. Checklist dataset https://doi.org/10.15468/c3kkgh accessed via GBIF.org on 2026-02-23
]. Adapun penanda varietas aggregatum berasal dari kata Latin aggregatus, bermakna “terkumpul” atau “berkelompok” [
3Blake, James A. (2025). New species and records of Scalibregmatidae (Annelida) from the Atlantic Ocean, Indian Ocean, Pacific Ocean, Southern Ocean, and adjacent seas. Megataxa. 16(1): 1–232. available online at https://mapress.com/mt/article/view/megataxa.16.1.1
], sebuah penamaan yang jujur menggambarkan formasi umbinya. 
Nama ilmiah Allium cepa var. aggregatum pertama kali dipublikasikan pada 1827 oleh botanis dan kolektor tanaman asal Skotlandia George Don (1798-1856) dalam karya Memoirs of the Wernerian Natural History Society [
4Wernerian Natural History Society. (n.d.). Memoirs of the Wernerian Natural History Society, The Years 1826-31 (Vol. 6) with six engravings. [The Society]. Edinburgh: Adam Black. https://www.biodiversitylibrary.org/page/46959446
].
Sebagai anggota famili Amaryllidaceae, tanaman ini diperkirakan berasal dari Asia Tengah sebelum akhirnya menyebar luas ke berbagai belahan dunia. Ia memiliki banyak nama: potato onion, shallot, ever-ready onion (Inggris); scalottenlök (Swedia); Kartoffelzwiebel, Schalotte (Jerman); sjalot (Belanda); ail d'Ascalon, oignon patate, échalote (Prancis); chalote, escaluña (Spanyol); chalotas, chalotinha (Portugis); scalogno (Italia).
 
Umbi bawang merah (Allium cepa var. aggregatum) yang berkelompok

Namun di Indonesia, ia lebih akrab sebagai bawang merah yang kerap menjadi bumbu dasar yang hampir tak pernah absen dari dapur Nusantara. Sulit membayangkan tumis sayur, sambal, atau kuah sate tanpa irisan bawang merah. Pada sepiring sate ayam atau sate kambing, taburan irisan mentahnya memberi sentuhan pedas-manis yang segar. 
Di Filipina, tanaman ini dikenal sebagai “lasona” dan kerap ditanam untuk diambil daunnya sebagai sayuran. Di India, irisan umbinya dicampur minyak kelapa dan garam, direbus, lalu digunakan sebagai kompres luka, sebuah praktik pengobatan tradisional yang diwariskan turun-temurun [
5Saraswathi, T., Sathiyamurthy, V. A., Tamilselvi, N. A., & Harish, S. (2017). Review on Aggregatum Onion (Allium cepa L. var. aggregatum Don.). International Journal of Current Microbiology and Applied Sciences, 6(4), 1649–1667. https://doi.org/10.20546/ijcmas.2017.604.201
].
Di balik aromanya yang tajam, bawang merah menyimpan kekayaan senyawa bioaktif. Ia mengandung flavonoid - terutama quercetin - yang bersifat antioksidan, antiinflamasi, hingga antikanker. Senyawa organosulfur seperti allicin dan diallyl disulfide turut berperan dalam meningkatkan imunitas dan menghambat pertumbuhan sel kanker [
6Sunniyyah Farah Tsaabitah. (2025). Potensi Bawang Merah (Allium Cepa L. Var. Aggregatum) sebagai Imunomodulator dan Agen Antikanker: A Literature Review. VitaMedica: Jurnal Rumpun Kesehatan Umum, 3(3), 314–326. https://doi.org/10.62027/vitamedica.v3i3.456
]. Bahkan, konsumsi bawang merah, baik mentah, dimasak, maupun dalam bentuk ekstrak, dikaitkan dengan penurunan kadar gula darah serta penghambatan agregasi trombosit.

Akar bawang merah (Allium cepa var. aggregatum) yang pendek dan dangkal

Tak heran jika tanaman hortikultura ini memiliki nilai ekonomi tinggi sekaligus potensi terapeutik yang menjanjikan. Ia bukan sekadar pelengkap rasa, melainkan juga bagian dari sistem pangan dan kesehatan masyarakat [
7Madayag, R. E., Jr, R. P. G., Quiñones-Arribado, K. J. O., Timog, E. B. S., Bartolome, M. C. B., Cruz, J. R. A. V., Borromeo, T. H., Endonela, L. E., & Coronado, N. B. (2025). The Complete Chloroplast Genome of “Lasona” (Allium cepa var. Aggregatum G. Don), an Important Indigenous Vegetable in the Northern Philippines. Agricultural Science Digest - A Research Journal, Of. https://doi.org/10.18805/ag.df-531
].
Di Dusun Maron, rumpun bawang merah itu tumbuh tanpa banyak tuntutan. Tanah sederhana di tepi parit cukup baginya untuk berkembang, membentuk kelompok-kelompok umbi merah yang rapat. 
Dari sejengkal lahan di depan rumah warga, Allium cepa var. aggregatum mengajarkan bahwa sesuatu yang tampak biasa saja, ketika dipahami lebih dalam, menyimpan kisah panjang tentang botani, budaya, dan kebermanfaatan bagi manusia. *** [250226]


logoblog

Thanks for reading Allium cepa var. aggregatum, Tanaman Bawang yang Umbinya Berwarna Merah dan Berkelompok

Previous
« Prev Post

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Sahabat Blog