“Singing from your heart is like fresh air that heal you again from the pollution around you” -- Ahmed Farrag
Pada 11 September 2025, kabar duka itu datang seperti petir di langit cerah industri hiburan Tiongkok. Yu Menglong - atau yang juga dikenal sebagai Alan Yu - dilaporkan meninggal dunia di Beijing pada usia 37 tahun setelah terjatuh dari sebuah gedung. Konfirmasi resmi disampaikan oleh manajemennya, Yu Menglong Studio, melalui media sosial. Tak butuh waktu lama, linimasa dipenuhi ungkapan tak percaya, potongan adegan drama, dan satu lagu yang terus diputar berulang-ulang: Do You Miss Me Too.
Ironisnya, lagu itu justru menjadi semakin viral ketika sang penyanyinya telah tiada.
Lahir pada 15 Juni 1988 di Ürümqi, Xinjiang, perjalanan Yu Menglong menuju sorotan tidaklah instan. Ia memulai langkahnya lewat ajang pencarian bakat. Tahun 2007, ia mengikuti My Show! My Style! dan berhasil menembus 16 besar wilayah Xi’an. Tiga tahun berselang, ia mencoba peruntungan di Super Boy, namun gagal melangkah jauh.
Tak menyerah, ia kembali ke panggung yang sama pada 2013. Kali ini, namanya bertahan hingga 10 besar. Di tahun yang sama, ia merilis single perdana berjudul Just Nice, disusul mini album Toy (2015) dan album penuh Yu Menglong (2017). Musik adalah cita-citanya, panggung adalah rumah yang ingin ia tinggali.
Namun takdir membawanya ke jalan lain.
Aktor yang Lahir dari Kekhawatiran
Karena minimnya kesempatan merilis lagu, Yu mulai menjajal dunia akting untuk sekadar agar tidak “menganggur”. Keputusan yang awalnya praktis itu justru menjadi pintu besar menuju ketenaran. Namanya mencuat lewat serial web drama Go Princess Go (2015) sebagai Pangeran Kesembilan (Jiu Wang), karakter yang memikat dengan pesona lembut dan karisma aristokratiknya.
Popularitasnya kian melambung saat ia memerankan Bai Zhen dalam Eternal Love (2017). Sosoknya dijuluki “pria tertampan se-Eight Direction” - ikon visual sekaligus emosional dalam drama fantasi romantis tersebut.
Setelah itu, ia tampil konsisten dalam berbagai produksi populer seperti The Legend of White Snake (2019), The Moon Brightens for You (2020), Love Game in Eastern Fantasy (2024), hingga Feud (2025).
Di balik layar, ia dikenal profesional dan tahan banting. Ia pernah mengalami patah tulang akibat jatuh saat syuting Xuan-Yuan Sword: Han Cloud (2016), serta cedera mata ketika menjalani produksi The Love Lasts Two Minds (2020). Namun ia jarang mengeluh. Bagi Yu, bekerja sepenuh hati adalah bentuk penghormatan kepada profesi.
Dedikasinya diganjar berbagai penghargaan, termasuk Pendatang Baru Terbaik di Weibo TV Online Video Awards 2017 dan Aktor Terobosan Tahun Ini di Golden Bud Network Film and Television Festival 2019.
Pribadi yang Hangat di Balik Sorotan
Dengan lebih dari 26 juta pengikut di Weibo, Yu kerap membagikan potret keseharian, seperti berolahraga di gym, berjalan santai menikmati bunga, atau sekadar menyapa penggemar. Penampilan publik terakhirnya tercatat pada Festival Perahu Naga CCTV, 31 Mei 2025. Tak ada yang menyangka itu akan menjadi salam perpisahan tak resmi.
Kepergiannya yang mendadak meninggalkan ruang hening yang sulit diisi.
Ketika Lirik Menjadi Luka yang Hidup
Di tengah gelombang duka, Do You Miss Me Too berputar tanpa henti. Potongan liriknya terasa seperti pesan yang tertinggal:
“Maybe love just learns to waitBehind the doors we never faceIf you feel me late at nightThat's my heart still holding tight“
Lirik memiliki kekuatan yang melampaui melodi. Berbagai penelitian psikologi musik menunjukkan bahwa kata-kata dalam lagu dapat memicu respons emosional yang dalam melalui aktivasi sistem limbik otak. Meta-analisis 2024 dalam Psychology of Music terhadap 82 studi menemukan bahwa lirik berpengaruh signifikan terhadap suasana hati dan empati [
1Fitriani, A., Suryani, A., Situmorang, D. D. B., & Ifdil, I. (2024). Exploring the Emotional Impact of Contrasting Melodies and Lyrics: A Quasi-Experimental Study on Mood Alteration. COUNS-EDU: The International Journal of Counseling and Education, 9(1), 25–36. https://doi.org/10.23916/0020240948010
]. Lirik sedih mampu menurunkan mood, sementara lirik prososial meningkatkan empati dan dorongan membantu. Bahkan, dalam banyak kasus, kekuatan lirik lebih dominan daripada melodi dalam membentuk emosi pendengar.
Tak heran jika setelah kepergiannya, lagu ini terdengar berbeda. Bukan lagi sekadar balada tentang rindu, melainkan gema kehilangan yang nyata. Keterkaitan personal antara penggemar dan sosok Yu membuat setiap kata terasa lebih dalam, lebih personal, lebih perih.
Seorang penggemar dari komunitas Drachin Indonesia menulis di media sosial, “Do You Miss Me Too, Alan Yu Menglong?", sebuah kalimat sederhana yang berubah menjadi elegi kolektif.
Kutipan dari Ahmed Farrag terasa relevan untuk menggambarkan bagaimana lagu itu bekerja dalam duka:
“Bernyanyi dari hati itu seperti udara segar yang menyembuhkanmu dari polusi di sekitarmu.”
Dalam konteks ini, suara Alan Yu menjadi udara segar sekaligus kabut tipis kesedihan - menyembuhkan sekaligus mengingatkan bahwa ia telah pergi.
Warisan yang Tak Pernah Benar-Benar Pergi
Kematian mungkin menghentikan langkah, tetapi karya memperpanjang napas. Drama-drama yang ia bintangi akan terus diputar, adegan-adegan ikonisnya akan tetap dibagikan ulang, dan lagu-lagunya, terutama Do You Miss Me Too, akan terus dinyanyikan.
Kini, setiap kali lagu itu terdengar di ruang-ruang sunyi, pertanyaannya tak lagi retoris. Ia berubah menjadi percakapan dua arah antara kenangan dan kerinduan.
Dan mungkin, di antara bait-bait yang melayang di udara malam, para penggemar menemukan jawaban mereka sendiri:
Ya, kami merindukanmu juga.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar