Senin, Maret 02, 2026

Dari Jawa untuk Dunia: Riwayat Ilmiah Kupu-Kupu Cincin Tiga

  Budiarto Eko Kusumo       Senin, Maret 02, 2026
Kupu-kupu cincin tiga (Ypthima pandocus) mengunjungibunga jotang di Dusun Krajan RT 02 RW 02 Desa Pujon Lor, Kecamatan Pujon, Kabupaten Malang


Di sela-sela kegiatan Pengabdian Masyarakat bertajuk The Impact of Air Pollution Due to Open Waste Burning on Cardiovascular Health in Rural Indonesia, Sabtu pagi itu (14/02), saya melihat sejumlah kupu-kupu berterbangan di kebun samping rumah Siti Solekhah, Dusun Krajan RT 02 RW 02, Desa Pujon Lor, Kecamatan Pujon, Kabupaten Malang. 
Udara desa yang masih bersih menghadirkan kontras dengan tema riset yang kami bawa. Di antara rumpun rumput dan bunga liar, sejumlah kupu-kupu menari ringan, seolah merayakan cahaya matahari yang turun perlahan di lereng pegunungan dengan bayang-bayang mendung yang terus bergerak.
Salah satu di antaranya yang menarik perhatian saya adalah kupu-kupu cincin tiga. Ia hinggap di bunga jotang (Acmella paniculata), membuka dan menutup sayapnya dengan ritme tenang. Saya beruntung dapat mengabadikannya tepat ketika sayapnya merekah, memperlihatkan pola khas di bagian bawah sayap belakang dengan tiga bintik menyerupai mata, masing-masing dilingkari warna kuning keemasan. Bintik-bintik itulah yang membuatnya dijuluki “Common Three Ring”.
Kupu-kupu ini dalam dunia fauna dikenal dengan nama ilmiah sebagai Ypthima pandocus (Moore, 1857), anggota famili Nymphalidae. kelompok kupu-kupu berkaki sikat yang banyak tersebar di kawasan tropis. 
Nama genus Ypthima berakar dari mitologi Yunani, merujuk pada sosok yang diasosiasikan dengan penglihatan. Sebuah rujukan yang terasa puitis, mengingat ocellus, bintik menyerupai mata, menjadi ciri paling menonjol pada sayapnya. Adapun epitet pandocus diyakini berasal dari khazanah klasik, meski maknanya tak sepenuhnya terang; sebagian menafsirkan nuansa “melihat segala”, selaras dengan kehadiran banyak “mata” pada sayapnya.
Nama spesies ini pertama kali dipublikasikan pada 1857 oleh entomolog Inggris, Frederic Moore [
1Horsfield, T. & F. Moore (1857): A Catalogue of the Lepidopterous Insects in The Museum of The Hon. East-India Company. Vol. I.: i-v, 1-278, appendix I-IV, index 1-11, pl. I-XII, pl. Ia-VIa. London (Wm. H. Allen and Co.). https://lepiforum.org/wiki/page/Ypthima_Pandocus
]. Dalam deskripsi awalnya, spesimen yang ia teliti berasal dari Jawa. Hal ini menegaskan bahwa Indonesia bukan sekadar habitat, melainkan bagian penting dari sejarah ilmiah kupu-kupu ini. 
Catatan dalam jurnal Novitates Zoologicae (1915) kemudian memperluas jejaknya. Pada awal 1911, spesies ini juga teramati di Bali - mulai dari Danau Bratan, Buleleng, hingga Kintamani [
2ROTHSCHILD, L., HARTERT, E., & JORDAN, K. (1915). NOVITATES ZOOLOGICAE . A Journal of ZooIoqy IN CONNECTION WITH THE TRING MUSEUM., 12(76). https://dn790000.ca.archive.org/0/items/novitateszoologi22lond/novitateszoologi22lond.pdf
]. 
Pergeseran ejaan dari Yphthima menjadi Ypthima (tanpa "ph") mencerminkan penyesuaian taksonomi mengikuti kaidah Kode Internasional Nomenklatur Zoologi (ICZN), sebuah proses ilmiah yang menunjukkan bagaimana sains terus merapikan dirinya.
Di Asia Tenggara - Malaysia, Singapura, hingga Indonesia - kupu-kupu ini tergolong umum dijumpai. Namun “umum” bukan berarti tak bermakna. Dalam kajian etnozoologi dan ekologi, Ypthima pandocus memang tidak dimanfaatkan langsung sebagai sumber pangan atau obat. 
Perannya justru lebih subtil. Ia menjadi penanda kesehatan ekosistem, penghias lanskap desa maupun kota, sekaligus pengingat bahwa keseimbangan alam seringkali bertumpu pada makhluk-makhluk kecil yang nyaris luput dari perhatian.
Siklus hidupnya bertaut erat dengan rumput liar bernama Ischaemum muticum, yang di Jawa dikenal sebagai suket resap. Pada tanaman inang inilah telur-telurnya diletakkan. Daun-daun rumput menjadi santapan larva yang kelak bermetamorfosis. Hubungan ini mencerminkan jalinan ekologis yang kompleks di mana tumbuhan menyediakan ruang hidup dan nutrisi, sementara larva mengambil bagian dari vitalitasnya.
Di kebun sederhana di Desa Pujon Lor itu, perjumpaan singkat dengan kupu-kupu cincin tiga terasa seperti jeda kontemplatif di tengah isu besar tentang polusi udara dan kesehatan kardiovaskular. 
Ia seakan mengingatkan bahwa kualitas lingkungan tak hanya tercermin dari angka-angka penelitian, tetapi juga dari kepakan sayap kecil yang masih setia berkelindan di antara bunga dan rumput. Selama kupu-kupu seperti Ypthima pandocus masih hadir, harapan tentang lanskap pedesaan yang lestari belumlah pudar. *** [020326]


logoblog

Thanks for reading Dari Jawa untuk Dunia: Riwayat Ilmiah Kupu-Kupu Cincin Tiga

Newest
You are reading the newest post

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Sahabat Blog