Minggu, April 19, 2026

Menyesap Waktu di Oemah Dewe: Ketika Kuliner Jadul dan Kenangan Bertemu di Sudut Banyuwangi

  Budiarto Eko Kusumo       Minggu, April 19, 2026
Mehmet Murat ildan  -- “اعطني بيت قديم مملوء بالذكريات و سأعطيك مئات الروايات..” 
Dalam perjalanan pulang usai meninjau proses pengumpulan data di Dusun Plosorejo, Desa Kaliploso, Kecamatan Cluring, Jumat (03/04) sore itu terasa lebih hangat dari biasanya. Bersama Field Supervisor COM-B, Andhika Krisnaloka. S.Sos., langkah kami berbelok sejenak menuju sebuah sudut Banyuwangi yang menawarkan lebih dari sekadar tempat singgah:, yakni Café Oemah Dewe.
Berada di Dusun Kampung Baru, Desa Jajag, Kecamatan Gambiran, kafe ini bukan sekadar ruang untuk mengisi perut, melainkan ruang untuk menapak jejak waktu. Dari luar, bangunannya tampak seperti rumah lama yang bersahaja. Namun begitu melangkah masuk, suasana berubah menjadi lorong nostalgia dengan membawa pengunjung pada fragmen kehidupan tempo dulu yang kental dan autentik
.
Fasad Cafe Oemah Dewe di Jalan PB SudirmanDusun Kampung Baru, Desa Jajag, Kecamatan Gambiran, Kabupaten Banyuwangi

Rumah yang kini disulap menjadi kafe ini konon dibangun pada tahun 1958 dan dahulu dikenal dengan nama “Tresno Sudoro” (TS), diambil dari nama sang pemilik, Bapak Mustakim. Dahulu, tempat ini menjadi ruang berkumpul - “panggon ngumpul karo konco dewe” - yang sarat kehangatan dan cerita. 
Kini, semangat itu diwariskan oleh sang cucu, yang menghidupkannya kembali dalam bentuk kafe dengan konsep sejarah keseharian (life style history), menghadirkan kenangan dalam balutan kuliner.

Meja kasir maupun pemesanan menu makanan

Interiornya dipenuhi benda-benda peninggalan keluarga, seperti meja dan kursi kayu lawas, televisi tabung, radio klasik, hingga pit onthel yang berdiri anggun di sudut ruangan. Setiap sudut seperti menyimpan cerita, seolah waktu tidak benar-benar berlalu, hanya berdiam dan menunggu untuk dikenang kembali.
Saya memilih duduk di area outdoor, tepat di halaman belakang. Di sana, semilir angin sore dan suasana alami berpadu dengan nuansa klasik, menciptakan pengalaman bersantai yang intim dan reflektif.
 
Penunjuk fasilitas di halaman belakang Cafe Oemah Dewe

Pilihan menu saya jatuh pada Sego Goreng Seafood dan Es Temulawak Gula Aren, dua sajian yang tidak hanya memanjakan lidah, tetapi juga menghadirkan harmoni rasa yang khas.
Sego Goreng Seafood di sini tampil dengan cita rasa gurih yang seimbang. Nasi yang digoreng hingga pulen berpadu dengan aneka seafood seperti udang dan cumi yang dimasak tidak berlebihan, sehingga tetap mempertahankan tekstur alaminya.
 
Gazebo yang bersebalah dengan ruang outdoor di halaman belakang Cafe Oemah Dewe

Bumbu yang digunakan cenderung sederhana namun kaya rasa. Tidak terlalu pedas, tetapi cukup untuk menghangatkan lidah. Aroma bawang putih dan kecap yang meresap menjadi ciri khas yang mengingatkan pada masakan rumahan zaman dulu.
Sementara itu, Es Temulawak Gula Aren menjadi penutup yang menyegarkan sekaligus menyehatkan. Temulawak yang dikenal memiliki rasa sedikit pahit diolah dengan proporsi tepat, dipadukan dengan manisnya gula aren yang lembut dan alami.
 
Nongkrong di ruang outdoor halaman belakang Cafe Oemah Dewe

Hasilnya adalah minuman yang tidak hanya menyegarkan, tetapi juga memberi sensasi “tradisional” yang jarang ditemukan dalam minuman kekinian. Kombinasi ini menciptakan keseimbangan rasa yang unik antara pahit, manis, dan segar dalam satu tegukan.
Sejak dibuka untuk umum pada 3 November 2020, Café Oemah Dewe dengan cepat menjadi tujuan favorit berbagai kalangan, mulai dari anak muda hingga profesional. Namun daya tarik utamanya bukan hanya pada menu, melainkan pada pengalaman yang ditawarkan, yaitu menikmati kuliner sambil menyusuri kenangan.

Nasi goreng seafood ala Cafe Oemah Dewe

Kafe ini seolah membuktikan bahwa ruang dan rasa dapat menjadi medium untuk menghidupkan kembali masa lalu. Bukan sekadar mengenang, tetapi merasakan kembali.
Seperti yang pernah diungkapkan oleh Mehmet Murat Ildan, seorang penulis drama, novelis, dan pemikir kontemporer Turki:

Es Temulawak Gula Aren


“Berikan aku sebuah rumah tua yang penuh kenangan, dan aku akan memberimu ratusan cerita.”
Di Café Oemah Dewe, kutipan itu terasa nyata. Setiap sudutnya bercerita, setiap hidangannya menghadirkan rasa, dan setiap kunjungan menjadi perjalanan kecil melintasi waktu - tempat di mana nostalgia dan kuliner berpadu dalam kehangatan yang tak lekang. *** [190426]


logoblog

Thanks for reading Menyesap Waktu di Oemah Dewe: Ketika Kuliner Jadul dan Kenangan Bertemu di Sudut Banyuwangi

Previous
« Prev Post

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Sahabat Blog