“I love going to coffee shops and just sitting and listening.” -- Julie Roberts
Sabtu (04/04) siang itu, Banyuwangi seperti sedang memamerkan panas terbaiknya berupa terik yang menempel di kulit dan menyusup sampai ke tenggorokan. Setelah rangkaian silaturahmi yang cukup padat, mulai dari rumah Kepala Desa Sarimulyo, Kamituwo Sempu, hingga Kamituwo Rejomulyo, serta menyimak jalannya wawancara enumerator Yunifa Fatin Hanan Bilqis, S.AP di Dusun Sumberjeruk RT 02 RW 03 Desa Tamanagung, perjalanan pulang terasa seperti jeda yang sangat dinanti.
Di atas boncengan Field Supervisor COM-B Andhika Krisnaloka, S.Sos., angin yang berembus tak cukup mengusir lelah. Maka ketika sebuah tempat singgah muncul di tepian jalan, keputusan itu terasa begitu alami dengan berhenti sejenak.
![]() |
| Papan nama Papaluwa Kopi Indonesia di Benculuk, Kecamatan Cluring, Kabupaten Banyuwangi |
Tempat itu bernama Papaluwa Kopi Indonesia, sebuah kedai yang berdiri di Jalan Banyuwangi, Dusun Purwosari, Desa Benculuk, Kecamatan Cluring. Letaknya strategis, tepat di depan Pasar Benculuk dan tak jauh dari rimbunnya De Djawatan Forest. Dari luar, tampilannya sederhana namun mengundang; dari dalam, suasananya hangat dan estetik, seperti ruang kecil yang sengaja diciptakan untuk memperlambat waktu.
Di sana, kebetulan bersua dengan dua enumerator lain - Amanda Dewanata Puteri, S.AP dan Affan Uwais Al-Qorni, S.Sos. - yang juga tampak menikmati jeda mereka. Obrolan ringan pun mengalir, bercampur dengan suara mesin kopi dan denting gelas yang beradu pelan. Namun setelahnya, saya memilih duduk di teras depan di tepi jalan raya.
![]() |
| Salah satu barista Papaluwa Kopi Indonesia yang sedang membuat pesanan pengunjung |
Meski dikenal sebagai kedai kopi dengan pilihan menu seperti espresso, latte, hingga caramel macchiato, siang itu pilihan justru jatuh pada sesuatu yang berbeda berupa segelas Lychee Iced Tea. Barista muda di balik meja meraciknya dengan cekatan. Es batu, teh, dan sirup leci berpadu dalam gelas bening yang segera berembun.
Minuman itu datang seperti janji yang ditepati. Segar, ringan, dan manisnya tidak berlebihan. Aroma leci yang lembut memberi sentuhan tropis yang romantic, seolah-olah menghadirkan jeda kecil yang manis di tengah hari yang terik. Irisan jeruk tipis di dalamnya menambah kesan elegan sekaligus menyegarkan.
![]() |
| Sambil menunggu pesanan, mencoba mencatat hasil kunjungan lapangan dan membuat mind mapping untuk dilaporkan lewat website NIHR UB |
Leci sendiri bukan buah biasa. Ia punya sejarah panjang yang melintasi benua. Berasal dari selatan Tiongkok, menyusuri Burma, India, hingga akhirnya dikenal dunia. Dalam tradisi Tiongkok, leci bahkan menjadi simbol cinta; buahnya pernah digunakan Kaisar Li Longji untuk menyampaikan kasihnya. Dari sejarah panjang itu, kini ia hadir sederhana, dalam segelas teh dingin di sebuah kedai kecil di Benculuk.
Di samping kedai, berdiri pula Warung Sego Tempong Mbak Har yang legendaris, menjadi pelengkap lanskap kuliner yang membuat kawasan ini terasa hidup.
![]() |
| Segelas lychee iced tea dan sebuah notes |
Papaluwa bukan sekadar tempat minum kopi. Ia adalah ruang pertemuan, tempat orang-orang berhenti sejenak dari rutinitas, atau bahkan sekadar duduk tanpa tujuan. Seperti yang pernah dikatakan oleh Julie Roberts, seorang penyanyi musik country Amerika kelahiran 1979:
“Saya suka pergi ke kedai kopi dan hanya duduk sambil mendengarkan.”
Dan mungkin, di situlah letak esensinya. Bagi mereka yang tidak terlalu “coffee-minded” seperti saya, selalu ada pilihan lain sebagai segala sesuatu yang bisa dinikmati sambil membiarkan waktu berjalan lebih lambat, sambil mendengarkan percakapan, tawa, atau bahkan keheningan yang terasa cukup.
Di tengah perjalanan yang panjang dan panas yang menyengat, singgah sejenak di Papaluwa terasa seperti menemukan oase kecil sebagai tempat di mana lelah diluruhkan, dan cerita-cerita sederhana menemukan ruangnya. *** [190426]





Tidak ada komentar:
Posting Komentar