Pada gelaran Pengabdian Masyarakat Forum Dekan Asosiasi Institusi Pendidikan Kedokteran Indonesia (FORDEK AIPKI) Wilayah V di Desa Krebet, Kecamatan Bululawang, Kabupaten Malang, pada Sabtu (09/05), peserta yang datang dari berbagai wilayah seperti Jawa Timur, Bali, NTB, dan NTT diajak melihat Bank Sampah “Berkah Jaya Makmur” (BJM), tak terkecuali Camat Bululawang.
Bangunan Bank Sampah BJM tampak cukup representatif. Bantuan infrastruktur maupun pendampingan dari NIHR Universitas Brawijaya (UB) terlihat mampu mendukung kesiapan tempat itu dalam menerima tamu.
Namun di balik itu, perhatian saya justru tertarik pada hasil budidaya para kader lingkungan yang memanfaatkan botol Aqua bekas berukuran besar untuk menanam bayam Brasil. Ada puluhan botol yang dicat warna-warni demi “memuliakan” tanaman tersebut.
“Enak rasanya kalau dibuat sayur, Pak,” seloroh Ketua Kader Lingkungan, Lilik Ati, kepada saya.
Sepintas tanaman ini menyerupai krokot. Namun bayam Brasil memiliki karakter yang berbeda. Tanaman ini dikenal dengan beberapa nama umum, antara lain Brazilian spinach, sissoo spinach, samba lettuce, sessile joyweed, dan dwarf copperleaf.
![]() |
| Bayam Brasil (Alternanthera sissoo) ditanam kader lingkungan di Desa Krebet, Kecamatan Bululawang, Kabupaten Malang |
Ia merupakan tanaman penutup tanah abadi yang dapat dimakan. Bayam Brasil membentuk hamparan padat setebal hampir satu kaki sehingga mampu menaungi tanah dan menekan pertumbuhan gulma.
Daunnya renyah tanpa tekstur berlendir sebagaimana sebagian jenis bayam lain. Tanaman ini tumbuh lebat, subur, dan mudah berakar ketika ruas batangnya menyentuh tanah. Ia juga menyukai tempat teduh.
Yang menarik, nama botani yang populer dipakai di kalangan hortikultura, yakni Alternanthera sissoo, ternyata tidak valid secara ilmiah atau dikenal sebagai nomen invalidum (Nom. Inval.).
Basis data taksonomi utama menganggap Alternanthera sissoo sebagai sinonim atau nama yang tidak diterima, serta mengelompokkannya sebagai varietas budidaya dari Alternanthera sessilis. Meski demikian, karena nama Alternanthera sissoo telanjur populer di dunia hortikultura sebagai bayam Brasil, nama itu tetap sering digunakan dalam praktik sehari-hari.
Nama genus Alternanthera berasal dari bahasa Latin alternus yang berarti “bergantian” dan anthera yang berarti “kepala sari” [
1Merriam-Webster. (n.d.). Alternanthera. In Merriam-Webster.com dictionary. Retrieved May 13, 2026, from https://www.merriam-webster.com/dictionary/alternanthera
]. Sementara itu, julukan khusus sissoo berasal dari bahasa Hindi siso, atau yang dalam bahasa Sanskerta dikenal dengan śiṁśapā [2Merriam-Webster. (n.d.). Sissoo. In Merriam-Webster.com dictionary. Retrieved May 13, 2026, from https://www.merriam-webster.com/dictionary/sissoo
]. Istilah “sissoo” sebenarnya lebih umum dipakai untuk menyebut Dalbergia sissoo, pohon rosewood India Utara. Diduga nama itu kemudian dilekatkan pada tanaman penutup tanah yang dapat dimakan ini sebagai penamaan tidak resmi, meskipun keduanya sama sekali tidak berkerabat.
Tanaman ini dilaporkan berasal dari wilayah Brasil di Amerika Selatan. Walaupun dikenal luas sebagai Alternanthera sissoo hort. (horticulture), tidak ditemukan deskripsi ilmiah resmi mengenai taksonominya.
![]() |
| Daun bayam Brasil (Alternanthera sissoo) |
Namun nama tersebut tercatat dalam tulisan Nancy Vander Velde, seorang Biological Consultant di Majuro, Republik Kepulauan Marshall, tahun 2003 berjudul The Vascular Plants of Majuro Atoll, Republic of the Marshall Islands [
3Velde, N. V. (2003). The Vascular Plants of Majuro Atoll, Republic of The Marshall Islands. In I. G. MacIntyre (Ed.), Atoll Research Bulletin Nos. 497-508 (pp. 1–141). National Museum of Natural History, Smithsonian Institution. https://dn790003.ca.archive.org/0/items/atollresear4975082003smit/atollresear4975082003smit.pdf
]. Dalam tulisan itu disebutkan bahwa bayam Brasil ditemukan di sejumlah kebun rumah tangga dan kebun mahasiswa di College of the Marshall Islands. Tanaman ini diperkenalkan dari Hawai’i pada awal 1990-an melalui Program Pertanian Atol PRAP untuk meningkatkan nutrisi masyarakat lewat pasokan sayuran segar. Di lingkungan atol, tanaman ini tumbuh sangat baik.
Bayam Brasil kemudian menjadi sayuran daun populer di berbagai wilayah tropis karena mudah dibudidayakan dan memiliki nilai gizi tinggi. Bagian yang dimanfaatkan terutama daun dan pucuk mudanya.
Pucuk muda yang lembut dapat dimakan mentah ataupun dikukus. Teksturnya renyah, bahkan lebih renyah dibandingkan bayam dari iklim sedang. Namun bila dikonsumsi dalam jumlah besar, daun sebaiknya direbus atau dikukus karena mengandung oksalat.
Dalam praktik kuliner, bayam Brasil dapat ditambahkan ke dalam quiche, pai, kari, dal, saus pasta, lasagna, hingga tumisan. Biasanya daun dimasukkan pada tahap akhir memasak sebagai pengganti bayam dengan tambahan rasa agak menyerupai kacang [
4Woodard, S. (2018, March 28). Alternanthera sissoo - Sissoo spinach, samba lettuce — Phytognosis. Phytognosis. https://regenerag.org/blog/2018/3/28/alternanthera-sissoo-sissoo-spinach-samba-lettuce
].![]() |
| Cabang lunak bayam Brasil (Alternanthera sissoo) |
Penelitian menunjukkan bahwa bayam Brasil sebaiknya dipanen pada usia 15–30 hari setelah tanam atau setelah pertumbuhan kembali untuk memperoleh kandungan flavonoid total yang tinggi [
5Sommai, S., Cherdthong, A., Suntara, C., So, S., Wanapat, M., & Polyorach, S. (2021). In Vitro Fermentation Characteristics and Methane Mitigation Responded to Flavonoid Extract Levels from Alternanthera sissoo and Dietary Ratios. Fermentation, 7(3), 109. https://doi.org/10.3390/fermentation7030109
]. Kandungan fitokimia seperti flavonoid, senyawa fenolik, dan vitamin menjadikan tanaman ini memiliki kapasitas antioksidan dan antibakteri yang cukup tinggi. Senyawa tersebut membantu menangkal radikal bebas dan mengurangi stres oksidatif dalam tubuh [6Amirah binti Zakaria, N. A., & Muryany Md Yasin, I. (2026). SYNERGISTIC ANTIBACTERIAL AND ANTIOXIDANT EFFECTS OF ALTERNANTHERA SISSOO AND COSMOS CAUDATUS METHANOL EXTRACTS. Journal of Academi, 14(1), 64–71. https://doi.org/https://doi.org/10.24191/joa.v14i1.10845
].Secara tradisional, daun bayam Brasil juga dimanfaatkan dalam pengobatan rakyat untuk membantu mengatasi peradangan dan gangguan pencernaan ringan, biasanya dalam bentuk infus ataupun kompres [
7admin. (n.d.). Brazilian Spinach / Alternanthera sissoo - Virtual Permaculture Costa Rica. Virtual Permaculture Costa Rica - Valle Escondido Virtual Library. https://virtualpermaculturecr.com/en/espinaca-brasil-alternanthera-sissoo/
]. Penelitian Saenghad dkk. (2022) [
8SAENGHA, W., KARIRAT, T., BURANRAT, B., KATISART, T., MA, N. L., & LUANG-IN, V. (2022). Antioxidant properties and cytotoxic effects of Alternanthera sissoo and Alternanthera bettzickiana extracts against cancer cells. Notulae Botanicae Horti Agrobotanici Cluj-Napoca, 50(3), 12776. https://doi.org/10.15835/nbha50312776
] bahkan melaporkan bahwa ekstrak etanol bagian atas tanaman Alternanthera sissoo menunjukkan sifat sitotoksik, antiproliferatif, dan antimigrasi terhadap sel kanker payudara, hati, dan serviks. Ketiga jenis sel kanker tersebut dilaporkan mengalami penghambatan pertumbuhan dan apoptosis setelah pemberian ekstrak tanaman ini.Tidak hanya untuk manusia, bayam Brasil juga dinilai potensial sebagai suplemen pakan ternak sapi potong. Tanaman ini dilaporkan memiliki efektivitas pakan yang baik serta mampu meningkatkan efisiensi fermentasi rumen sekaligus menurunkan jumlah protozoa [
9Sommai, S., Wanapat, M., Suntara, C., Prachumchai, R., & Cherdthong, A. (2024). Supplementation of Alternanthera sissoo pellets on feed digestion, rumen fermentation, and protozoal population in Thai native beef cattle. Heliyon, 10(9), e29972. https://doi.org/10.1016/j.heliyon.2024.e29972
].Di Desa Krebet, bayam Brasil bukan sekadar tanaman penghias pekarangan dalam botol-botol plastik bekas. Ia hadir sebagai simbol kreativitas lingkungan, pangan sehat, dan pengetahuan lokal yang bertemu dengan sains modern. Sebuah tanaman sederhana yang diam-diam menyimpan cerita Panjang, yakni dari atol Pasifik, kebun tropis Amerika Selatan, hingga sudut kampung di Bululawang, Kabupaten Malang. *** [140526]




Tidak ada komentar:
Posting Komentar