Di halaman bekas pabrik sitrun di Jalan Banurejo RT 05 RW 01, Kelurahan Kepanjen, Kecamatan Kepanjen, Kabupaten Malang, waktu seolah berjalan ke masa lalu. Dinding-dinding tua yang mulai kusam berdiri menghadap rel kereta api Stasiun Kepanjen, sementara angin dari hamparan sawah di seberangnya datang bergelombang membawa aroma tanah. Di antara semak dan gulma invasif yang merebut pelataran pabrik terbengkalai itu, rumpun-rumpun rumput benggala tumbuh cukup mencolok.
Orang Jawa menyebutnya suket londo. Di kalangan masyarakat Madura, ia dikenal sebagai rebha luh-buluhan. Ketika angin sore menyapu halaman kosong bekas pabrik, helaian daunnya yang panjang melambai seperti pita hijau raksasa. Batangnya tegak, kuat, dan menjulang hingga tiga meter. Malai bunganya yang lebat bergoyang pelan, menciptakan kesan liar sekaligus anggun, seolah tumbuhan ini sedang mempertontonkan daya hidup yang tak mudah dipatahkan.
Di dunia botani, rumput itu memiliki nama ilmiah yang terdengar megah: Megathyrsus maximus. Nama genus Megathyrsus berasal dari bahasa Yunani, gabungan kata mega yang berarti besar atau agung, dan thyrsus, tongkat berhias yang dalam mitologi Yunani kerap diasosiasikan dengan simbol kesuburan. Nama itu merujuk pada bentuk bulirnya yang besar, bercabang banyak, dan rimbun [
1Rojas-Sandoval, J and Acevedo-Rodríguez, P, cabicompendium.38666, CABI Compendium, doi:10.1079/cabicompendium.38666, CABI, Megathyrsus maximus (Guinea grass), (2022)
]. Adapun kata maximus dalam bahasa Latin berarti “yang terbesar” [2Merriam-Webster. (n.d.). Maximum. In Merriam-Webster.com dictionary. Retrieved May 23, 2026, from https://www.merriam-webster.com/dictionary/maximum
].![]() |
| Malai rumput benggala atau suket londo (Megathyrsus maximus) |
Tumbuhan ini pertama kali dideskripsikan pada 1781 oleh botanis Austria kelahiran Belanda, Nikolaus Joseph von Jacquin (1727-1817), dengan nama Panicum maximum [
3Jacquin, Nikolaus Joseph. (1781). Icones plantarum rariorum (Vol. 1). Vindobonae: Christianum Fridericum Wappler. https://www.biodiversitylibrary.org/page/270349
]. Lebih dari dua abad kemudian, pada 2003, dua botanis Australia, Bryan Kenneth Simon (1943-2015) dan Surrey Wilfrid Laurance Jacobs (1946-2009), merevisi klasifikasinya dan memindahkannya ke genus Megathyrsus [4Queensland Herbarium. (2003). Austrobaileya: A Journal of Plant Systematics (Vol. 6, Issue 3). Queensland Herbarium, Dept. of Primary Industries. https://www.biodiversitylibrary.org/page/59895257
]. Sejak saat itu, dunia ilmiah mengenalnya sebagai Megathyrsus maximus.Meski tumbuh liar di sudut-sudut kota dan lahan terbengkalai, rumput benggala sesungguhnya bukan tanaman sembarangan. Ia berasal dari Afrika dan termasuk keluarga Poaceae, suku besar rumput-rumputan yang menopang banyak ekosistem tropis.
Di berbagai negara, tumbuhan ini memiliki nama yang berbeda-beda: guineagrass di dunia berbahasa Inggris, herbe de Guinée di Prancis, capim-da-guiné di Brasil, hingga zacate Guinea di Honduras. Nama “rumput Guinea” sendiri mengingatkan pada jejak geografis asal-usulnya dari benua Afrika.
![]() |
| Batang dan daun rumput benggala atau suket londo (Megathyrsus maximus) |
Di negeri-negeri tropis, rumput ini lebih sering dipandang sebagai sumber kehidupan ketimbang gulma. Pertumbuhannya cepat, produksi daun dan bijinya tinggi, serta tahan terhadap kekeringan dan tanah salin [
5Wolele, M. A., Zeleke, F. M., Chekol, Y. M., Limenih, B. A., & Zegeye, Z. B. (2025). Guinea grass (Megathyrsus maximus) agronomic performances in mixed cultivation using irrigation condition, North-Western Ethiopia. PloS one, 20(2), e0316565. https://doi.org/10.1371/journal.pone.0316565
]. Dalam kondisi hujan maupun irigasi, produksi bahan keringnya dapat mencapai puluhan ton per hektare setiap tahun. Karena itulah, rumput benggala banyak dimanfaatkan sebagai pakan ternak, bahan silase, jerami, hingga tanaman penggembalaan [6Khalid, F. E., Zakaria, N. N., Azmi, A. A., Shaharuddin, N. A., Sabri, S., Khalil, K. A., Gomez-Fuentes, C., Zulkharnain, A., Lim, S., & Ahmad, S. A. (2023). Guinea Grass (Megathyrsus maximus) Fibres as Sorbent in Diesel Bioremediation. Sustainability, 15(5), 3904. https://doi.org/10.3390/su15053904
].Akar serabutnya yang menghunjam dalam juga memberi manfaat ekologis: membantu menahan erosi tanah dan menambah kandungan bahan organik di lahan tropis. Belakangan, sejumlah peneliti bahkan mulai meliriknya sebagai “rumput energi”, sumber biomassa yang potensial untuk kebutuhan energi terbarukan [
7Purdue University. (n.d.). Panicum maximum. Purdue. Retrieved May 23, 2026, from https://hort.purdue.edu/newcrop/duke_energy/Panicum_maximum.html
].Namun kisah rumput benggala tidak berhenti pada urusan peternakan dan ekologi. Dalam praktik pengobatan tradisional, tanaman ini juga menyimpan reputasi panjang. Air perasan dari tanaman segarnya digunakan untuk membantu menyembuhkan luka dan bisul. Ada pula tradisi mengikat rumput ini di kepala untuk meredakan sakit kepala. Di beberapa tempat, rumput benggala dimanfaatkan untuk mengatasi mulas dan perut kembung [
8Nawaz, S., & Bhatt, C. (n.d.). Megathyrsus maximus - Guinea Grass. Flowers of India. Retrieved May 23, 2026, from https://www.flowersofindia.net/catalog/slides/Guinea Grass.html
].![]() |
| Rumpun rumput benggala atau suket londo (Megathyrsus maximus) di pelataran bekas pabrik sitrun di Jalan Banurejo RT 05 RW 01 Kelurahan Kepanjen, Kecamatan Kepanjen, Kabupaten Malang |
Penelitian modern mulai memberi penjelasan ilmiah atas berbagai kegunaan itu. Sejumlah studi menemukan bahwa keluarga Poaceae kaya akan senyawa bioaktif dengan aktivitas antioksidan, antiinflamasi, dan antibakteri [
9Dash, S., S, R., Hota, R., Mohanty, A., & Das, C. (2025). An Overview of the Phytopharmacological Characteristics of Urochloa Distacht (L.) and Selected Forage Grasses (Poaceae). Current Traditional Medicine, 12. https://doi.org/10.2174/0122150838307582240929225650
]. Penelitian Ong dan koleganya pada 2024 bahkan menunjukkan bahwa suplementasi Megathyrsus maximus berpotensi menjadi pengganti antibiotik dalam produksi unggas tropis [10Ong, Y. L., Chung, E. L. T., Nayan, N., Ab Aziz, M. F., Jesse, F. F. A., & Sazili, A. Q. (2024). Phytobiotic effects of Guinea grass supplementation on production and health performances of coloured-broilers. Italian Journal of Animal Science, 24(1), 149–163. https://doi.org/10.1080/1828051x.2024.2444457
].Mungkin karena itu, rumput benggala selalu tampak seperti paradoks kecil di pinggir kota. Ia dianggap gulma, tetapi diam-diam berguna; tumbuh liar, tetapi menyimpan nilai ekonomi dan pengobatan; diabaikan, namun sanggup bertahan di tengah tanah keras dan bangunan yang ditinggalkan.
Di halaman bekas pabrik sitrun Kepanjen, rumpun-rumpun suket londo terus bergoyang diterpa angin dari persawahan dan rel kereta. Di mata sebagian orang, ia mungkin hanya rumput liar yang tumbuh tanpa diundang. Tetapi bagi alam, rumput itu adalah penanda tentang betapa kehidupan selalu menemukan cara untuk kembali tumbuh, bahkan di tempat-tempat yang nyaris dilupakan manusia. *** [240526]




Tidak ada komentar:
Posting Komentar