Selasa, Mei 26, 2026

Pachyrhizus erosus, Bengkuang yang Tumbuh Subur di Lahan Bekas Pabrik Sitrun Kepanjen

  Budiarto Eko Kusumo       Selasa, Mei 26, 2026
Sore itu, lahan bekas pabrik sitrun di Kepanjen tampak lengang. Semak liar tumbuh di sana-sini, sementara reruntuhan bangunan tua masih menyisakan jejak masa industri yang pernah hidup di kawasan itu. 
Di tengah lanskap tersebut, Mas Agus - tetangga Sekretariat NIHR SMARThealth yang baru - mengajak saya menyusuri bagian timur lahan sambil “ramban”, mencari daun-daun muda tanaman yang masih bisa dikenali untuk pakan kambingnya.
“Ini bengkuang,” katanya sembari menunjuk sulur hijau yang merambat rendah di tanah.

Bunga bengkuang (Pachyrhizus erosus)

Saya mendekat. Tumbuhan itu tampak sederhana, bahkan nyaris tersembunyi di antara rerumputan. Batangnya menjalar, daunnya majemuk dengan tiga anak daun, dan di beberapa bagian terlihat bunga kecil berwarna ungu kebiruan. 
Jika tidak diperhatikan sungguh-sungguh, orang mungkin tak akan menyangka bahwa di bawah tanahnya tersimpan umbi putih renyah yang selama ini akrab sebagai buah meja atau campuran lotis atau rujak.
Bengkuang ternyata tumbuh subur di lahan bekas pabrik itu. Tanaman yang dikenal masyarakat Jawa sebagai bengkuang atau besusu ini memiliki banyak nama di Nusantara. Orang Aceh menyebutnya singkuwang, masyarakat Batak dan Sunda mengenalnya sebagai bangkuwang, orang Bali menamainya jampingan, sementara masyarakat Lombok menyebutnya uwi pisak. Di berbagai daerah, nama boleh berbeda, tetapi kesegaran umbinya tetap mudah dikenali.

Sulur tanaman bengkuang (Pachyrhizus erosus)

Bengkuang mempunyai nama ilmiah Pachyrhizus erosus (L.) Urb., anggota suku polong-polongan atau Fabaceae. Nama genus Pachyrhizus berasal dari bahasa Yunani pachys yang berarti “tebal” dan rhiza yang berarti “akar” [
1Merriam-Webster. (n.d.). Pachyrhizus. In Merriam-Webster.com dictionary. Retrieved May 24, 2026, from https://www.merriam-webster.com/dictionary/Pachyrhizus
], merujuk pada akar tunggangnya yang membesar dan menyimpan pati. Adapun nama spesies erosus berasal dari bahasa Latin erodere, menggambarkan tepian daun yang tampak berlekuk tidak beraturan seperti bergerigi halus [
2Merriam-Webster. (n.d.). Erose. In Merriam-Webster.com dictionary. Retrieved May 24, 2026, from https://www.merriam-webster.com/dictionary/erose
].
Jejak ilmiah tanaman ini membentang panjang sejak abad ke-18. Botanis Swedia Carolus Linnaeus (1707-1778) pertama kali mendeskripsikannya pada 1753 dengan nama Dolichos erosus [
3Linné, Carl von, & Salvius, Lars. (1753). Caroli Linnaei ... Species plantarum: exhibentes plantas rite cognitas, ad genera relatas, cum differentiis specificis, nominibus trivialibus, synonymis selectis, locis natalibus, secundum systema sexuale digestas... (Tomus II). Holmiae: Impensis Laurentii Salvii. https://www.biodiversitylibrary.org/page/358580
]. Lebih dari satu abad kemudian, tepatnya pada 1905, botanis Jerman Ignatz Urban (1848-1931) merevisi klasifikasinya dan memindahkannya ke genus Pachyrhizus [
4Urban, Ignatz. (1903-1911). Symbolae Antillanae, seu, Fundamenta florae Indiae Occidentalis (Vol. 4). Lipsiae, Parisiis, Londini: Fratres Borntraeger ;Paul Klincksieck; Williams & Norgate. https://www.biodiversitylibrary.org/page/666087
], nama yang digunakan hingga sekarang.
Meski kini akrab di Indonesia, bengkuang sejatinya berasal dari Meksiko dan Amerika Tengah. Dari kawasan asalnya itu, tanaman ini menyebar ke berbagai wilayah tropis dan subtropis dunia, seperti Tiongkok, Brasil, Thailand, Filipina, India, Indonesia hingga negara-negara Afrika. Di Meksiko, ia dikenal sebagai jicama, nama yang kemudian populer secara internasional.

Daun bengkuang (Pachyrhizus erosus)

Yang membuat bengkuang tetap bertahan lintas budaya mungkin adalah kesederhanaannya. Umbinya mengandung sekitar 87 persen air, dengan pati, protein, dan serat dalam jumlah cukup tinggi [
5González-Vázquez, M., Calderón-Domínguez, G., Mora-Escobedo, R., Salgado-Cruz, M. P., Arreguín-Centeno, J. H., & Monterrubio-López, R. (2022). Polysaccharides of nutritional interest in jicama (Pachyrhizus erosus) during root development. Food Science & Nutrition, 10, 1146–1158. https://doi.org/10.1002/fsn3.2746
]. Rasanya renyah, manis, dan berair. Di Asia Tenggara, bengkuang lazim dimakan segar, dijadikan salad, campuran sup, tumisan, hingga acar. Pati dari akarnya juga kerap dimanfaatkan sebagai bahan puding dan custard [
6Pati, K., Behera, S., Jena, B., Chauhan, V.B.S. (2025). Yam Bean (Pachyrhizus erosus L. Urban) Genetic Resources. In: Kalia, P. (eds) Vegetable Crops. Handbooks of Crop Diversity: Conservation and Use of Plant Genetic Resources. Springer, Singapore. https://doi.org/10.1007/978-981-97-8949-8_47
].
Namun tanaman ini menyimpan paradoks. Umbinya aman dikonsumsi, tetapi biji dan daunnya justru mengandung glukosida beracun [
7Plants For A Future. (n.d.). Pachyrhizus erosus - (L.) Urb. Plants For A Future. Retrieved May 25, 2026, from https://pfaf.org/user/Plant.aspx?LatinName=Pachyrhizus erosus
]. Sebab itu, masyarakat tradisional umumnya hanya memanfaatkan bagian akarnya saja.
Dalam beberapa tahun terakhir, perhatian terhadap bengkuang tidak lagi sebatas bahan pangan. Penelitian Jing Xiang dan koleganya (2025) melaporkan bahwa umbi Pachyrhizus erosus kaya akan protein, karbohidrat, inulin, vitamin, mineral, serta serat pangan dengan kalori rendah. Kandungan tersebut menjadikannya masuk dalam kelompok pangan kesehatan yang bernilai tinggi.

Umbi bengkuang (Pachyrhizus erosus)

Lebih jauh lagi, berbagai studi fitokimia menemukan sekitar lima puluh senyawa bioaktif yang berhasil diisolasi dari biji, umbi, dan daun bengkuang. Senyawa-senyawa itu meliputi flavonoid, triterpen, fenolat, saponin, asam organik, dan asam lemak. Dari sana terungkap beragam potensi biologis bengkuang: antioksidan, antidiabetes, antikanker, antivirus, imunomodulator, antiosteoporosis, hingga efek anti-obesitas dan anti penuaan [
8Xiang, J., Huang, S., Wu, X., He, Y., Shen, H., Tang, S., Zhu, F., & Luo, Y. (2025). Phytochemical Profile and Antioxidant Activity of the Tuber and Peel of Pachyrhizus erosus. Antioxidants, 14(4), 416. https://doi.org/10.3390/antiox14040416
].
Saya kembali memandangi sulur bengkuang yang merambat tenang di tanah bekas pabrik sitrun itu. Di tempat yang dahulu dipenuhi mesin dan aroma asam nitrat, kini tumbuh tanaman yang menyimpan kesegaran, gizi, sekaligus sejarah panjang peradaban manusia.
Barangkali alam memang selalu menemukan caranya sendiri untuk mengambil kembali ruang yang pernah ditinggalkan manusia. Dan di Kepanjen itu, bengkuang menjadi salah satu penandanya. *** [260526]


logoblog

Thanks for reading Pachyrhizus erosus, Bengkuang yang Tumbuh Subur di Lahan Bekas Pabrik Sitrun Kepanjen

Previous
« Prev Post

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Sahabat Blog