Senin, Juni 22, 2026

Euphaea variegata, Capung Beludru Sunda yang Beraneka Warna

  Budiarto Eko Kusumo       Senin, Juni 22, 2026
Gemercik air terdengar nyaris tanpa jeda ketika saya menyusuri mata air Sumber Kluwih di Dusun Banyuurip, RT 07 RW 10, Desa Pagak, Kecamatan Pagak, Kabupaten Malang. Perjalanan kecil itu ditemani dua enumerator etnografi, Muhammad Kanda Setia Putra, S.IP dan Fitri Adilla Ningrum, S.E. 
Di sela aliran luapan mata air yang membentuk kubangan-kubangan alami pada lembah karst, kehidupan liar tampil dalam bentuk yang sederhana namun memikat. Puluhan capung berkelebat lincah di atas permukaan air.
Sebagian hinggap di ranting yang tersangkut bebatuan di aliran kubangan, sebagian lain terus berpatroli mengikuti aliran air jernih. Meskipun jumlahnya banyak, tidak mudah mengabadikan mereka. Capung dikenal sangat peka terhadap gerakan. Sedikit langkah terlalu dekat saja cukup membuat mereka terbang menjauh. 
Dengan kamera Xiaomi 14 Pro 5G di tangan dan kesabaran yang diuji berulang kali, akhirnya satu individu berhasil terekam. Seekor capung jarum berwarna mencolok bertengger di dekat kubangan, seolah memberi kesempatan singkat untuk diamati lebih dekat.
Capung itulah yang kemudian teridentifikasi sebagai Euphaea variegata, spesies yang di Indonesia lebih dikenal sebagai capung beludru Sunda. Sebagian masyarakat juga mengenalnya sebagai capung-intan Sunda atau capung jarum Sunda. Kehadirannya di Sumber Kluwih seakan menjadi penanda bahwa mata air tersebut masih menyimpan kualitas lingkungan yang baik.

Kepak sayap capung beludru Sunda (Euphaea variegata) jantan yang terbuka, terdapat warna biru muda

Euphaea variegata
memiliki ciri khas yang mudah dikenali. Seperti capung jarum pada umumnya, tubuhnya ramping dan memanjang dengan sepasang mata majemuk besar yang terpisah. Antenanya sangat pendek sehingga hampir tidak terlihat. 
Perbedaan antara jantan dan betina juga cukup jelas. Individu jantan umumnya memiliki warna lebih gelap dengan kilau metalik yang menarik perhatian, sementara betina berwarna cokelat kusam sehingga tampak lebih sederhana. Perbedaan ini membuat identifikasi jenis kelamin relatif mudah dilakukan langsung di lapangan.
Nama ilmiah spesies ini menyimpan kisah menarik. Genus Euphaea berasal dari bahasa Yunani, gabungan awalan eu- yang berarti “baik”, “indah”, atau “sempurna”, dengan phaûos yang berarti “cahaya” atau “bersinar”. Nama tersebut terasa tepat mengingat banyak anggota kelompok ini memiliki sayap yang berkilauan ketika terkena sinar matahari [
1Guillon, B. (2025, April 26). Sarawak - Eupaea impar (Selys, 1859) -English version. Mes Libellules. https://www.meslibellules.fr/blog/2025/04/26/euphaea-impar-male/
]. 
Sementara itu, epitet spesifik variegata berasal dari bahasa Latin yang bermakna “beraneka ragam” atau “memiliki variasi warna yang tidak beraturan”, merujuk pada pola warna kompleks yang menjadi daya tarik spesies ini [
2WoRDSS. (n.d.). Deep-Sea taxon details: Syllis variegata Grube, 1860. World Register of Deep-Sea Species. Retrieved June 21, 2026, from https://www.marinespecies.org/deepsea/aphia.php?p=taxdetails
].
Nama ilmiah tersebut pertama kali dipublikasikan pada tahun 1842 oleh entomolog Prancis, Jules Pierre Rambur (1810-1870), dalam karya monumentalnya Histoire Naturelle des Insectes. Névroptères [
3Rambur, Jules Pierre. (1842). Histoire Naturelle des Insectes. Névroptères, Paris: Librairie Encyclopedique de Roret. https://gallica.bnf.fr/ark:/12148/bpt6k61025298
]. Dalam literatur ilmiah, spesies ini juga pernah dikenal dengan nama sinonim Euphaea intermedia Krüger. Di dunia internasional, capung ini dikenal dengan nama umum Sundanese gossamerwing.

Capung beludru Sunda (Euphaea variegata) bertengger di atas ranting bambu yang tersangkut di kubangan air dengan latar siluet cekungan bongkahan bebatuan karst

Sebagai anggota famili Euphaeidae, capung beludru Sunda merupakan spesies asli Indonesia yang penyebarannya meliputi Sumatera, Jawa, dan Bali [
4Biodiversitas Nusantara. (n.d.). Euphaea variegata (Euphaea variegata) — Biodiversitas Nusantara | Biodiversitas Nusantara. Biodiversitas Nusantara. Retrieved June 21, 2026, from https://www.gbif.co.id/spesies/euphaea-variegata
]. Habitat favoritnya adalah sungai berbatu, mata air pegunungan, serta aliran sungai yang masih dikelilingi vegetasi alami. Lingkungan seperti mata air Sumber Kluwih menyediakan kondisi ideal bagi keberlangsungan hidupnya, dengan air yang jernih, arus yang relatif stabil, dan ekosistem yang masih terjaga.
Keberadaan capung ini tidak hanya memperindah lanskap perairan. Ia juga memainkan peran ekologis yang sangat penting. Pada fase nimfa yang hidup di dalam air, Euphaea variegata merupakan predator rakus bagi berbagai organisme kecil, terutama larva nyamuk. Peran ini membantu mengendalikan populasi serangga yang berpotensi menjadi vektor penyakit bagi manusia. 
Setelah bermetamorfosis menjadi individu dewasa, naluri berburu tersebut tidak hilang. Capung beludru Sunda tetap aktif memangsa serangga-serangga kecil di sekitar habitatnya, sehingga turut menjaga keseimbangan ekosistem.
Menariknya, sebagian besar kehidupan capung ini justru berlangsung di bawah permukaan air. Fase larva dapat bertahan hingga lima tahun sebelum akhirnya berubah menjadi capung dewasa. Sebaliknya, masa hidup dewasanya relatif singkat [
5Picture Insect. (n.d.). Sundanese gossamerwing (Euphaea variegata). Picture Insect. Retrieved June 21, 2026, from https://pictureinsect.com/wiki/Euphaea_variegata.html
]. Kontras ini menunjukkan bahwa apa yang terlihat terbang di atas sungai hanyalah bagian kecil dari perjalanan hidup yang panjang dan kompleks.
Karena sangat bergantung pada kualitas perairan, capung beludru Sunda sering dianggap sebagai indikator alami kesehatan sungai. Kehadirannya menandakan bahwa aliran air masih cukup bersih untuk mendukung kehidupan berbagai organisme akuatik. Ketika populasi capung jenis ini menurun, perubahan tersebut sering kali menjadi sinyal awal adanya gangguan lingkungan, seperti pencemaran atau kerusakan habitat.

Kilauan sayap capung beludru Sunda (Euphaea variegata) saat terpapar sinar mentari memperlihatkan aneka warna metalik

Di luar nilai ekologinya, Euphaea variegata juga memiliki potensi besar sebagai daya tarik ekowisata. Sayap jantan yang berkilau, gerak terbang yang anggun, serta habitatnya yang berada di kawasan mata air dan sungai alami menjadikannya objek menarik bagi fotografer alam, pengamat serangga, maupun pecinta capung. Bagi komunitas percapungan, bertemu spesies ini di alam merupakan pengalaman yang selalu menyenangkan.
Saat ini, status konservasi capung beludru Sunda menurut Daftar Merah IUCN masih berada pada kategori Risiko Rendah (Least Concern/LC). Populasinya dinilai masih cukup melimpah di berbagai wilayah persebarannya. 
Namun, kelimpahan bukan berarti terbebas dari ancaman. Degradasi habitat akibat pencemaran sungai, perubahan tata guna lahan, dan berkurangnya kawasan hutan penyangga tetap dapat mengancam keberlangsungan spesies ini di masa depan.
Di tengah riuh pembangunan dan perubahan bentang alam yang terus berlangsung, sosok kecil yang saya jumpai di mata air Sumber Kluwih mengingatkan bahwa kesehatan lingkungan sering kali tercermin dari keberadaan makhluk-makhluk yang luput dari perhatian. 
Capung beludru Sunda bukan sekadar serangga berwarna indah. Ia adalah penjaga keseimbangan ekosistem perairan sekaligus penanda bahwa alam masih bekerja sebagaimana mestinya. Menjaga habitatnya berarti menjaga sumber kehidupan yang lebih besar, termasuk mata air dan sungai yang menjadi penopang kehidupan manusia. *** [220626]


logoblog

Thanks for reading Euphaea variegata, Capung Beludru Sunda yang Beraneka Warna

Previous
« Prev Post

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Sahabat Blog