Selasa, Juni 23, 2026

Nososticta insignis, Capung Jarum Sunda yang Mungil

  Budiarto Eko Kusumo       Selasa, Juni 23, 2026
Capung jarum Sunda (Nososticta insignis) sedang bertengger di atas tanaman suplir (Adiantum raddianum) di daerah mata air Sumber Kluwih di Dusun Banyuurip, Desa Pagak, Kecamatan Pagak, Kabupaten Malang

Perjalanan siang itu sebenarnya hampir usai. Setelah menyusuri cekungan lembah karst yang membentuk kubangan dari luapan mata air Sumber Kluwih bersama dua enumerator etnografi, Muhammad Kanda Setia Putra dan Fitri Adilla Ningrum, saya berniat segera kembali menuju kegiatan Posyandu Melati 5 di Dusun Banyuurip RT 07 RW 10 Desa Pagak, Kecamatan Pagak, Kabupaten Malang.
Namun, alam sering kali menyimpan kejutan kecil yang membuat langkah tertahan. Ketika meninggalkan cekungan mata air dan mulai mendaki menuju jalan setapak di atasnya, saya melihat seekor capung yang berbeda dari jenis-jenis yang sebelumnya saya jumpai. 
Ukurannya sangat kecil, nyaris luput dari perhatian. Panjang tubuhnya hanya sekitar 10 mm. Sosok mungil itu bertengger tenang di atas helaian tanaman suplir (Adiantum raddianum) yang tumbuh di tepi aliran air yang teduh.
Semakin diamati, semakin terlihat keunikannya. Mata majemuknya berwarna hitam pekat pada bagian atas. Toraksnya dihiasi garis-garis kuning terang yang kontras dengan warna dasar hitam. Abdomen yang panjang dan ramping tersusun atas ruas-ruas dengan bercak kuning serta biru muda yang mencolok. Sayapnya transparan dengan pterostigma berwarna hitam di bagian ujung.
Capung mungil ini dikenal sebagai capung jarum Sunda atau capung ekor benang Sunda. Dalam dunia ilmiah, ia bernama Nososticta insignis (Selys, 1886), salah satu anggota famili Platycnemididae yang keberadaannya tersebar di Sumatra bagian selatan, Jawa, dan Bali [
1Nafisah, Nur & Nugraha, Faizal & Rakhmawati, Nova. (2019). Inventarisasi Capung (Insecta: Odonata) di Sungai Grojogan dan Sungai Ambyarsari, Taman Nasional Bali Barat. https://www.researchgate.net/publication/332266396_Inventarisasi_Capung_Insecta_Odonata_di_Sungai_Grojogan_dan_Sungai_Ambyarsari_Taman_Nasional_Bali_Barat
].
Nama ilmiahnya menyimpan kisah tersendiri. Genus Nososticta berasal dari bahasa Yunani, gabungan kata nosos yang berarti penyakit dan stiktos yang berarti berbintik atau bertanda. Dalam kajian Odonata, istilah tersebut sering dikaitkan dengan pterostigma pada sayap [
2Endersby, I., & Fliedner, H. (2015). The Naming of Australia’s Dragonflies (First). Eltham Victoria: Busybird Publishing. https://library.dbca.wa.gov.au/FullTextFiles/631853.pdf
]. 
Sementara itu, nama spesies insignis berasal dari bahasa Latin yang berarti bertanda atau berbeda, merujuk pada pola warna khas yang membuat spesies ini mudah dikenali, terutama pada bagian abdomen [
3FishBase. (n.d.). Erimystax insignis (Hubbs & Crowe, 1956): Blotched chub. FishBase. Retrieved June 22, 2026, from https://www.fishbase.se/summary/Erimystax-insignis
].
Sejarah penamaannya juga cukup panjang. Odonatolog Belgia, Michel Edmond de Selys Longchamps (1813-1900), pertama kali mendeskripsikan spesies ini pada tahun 1886 dengan nama Alloneura insignis
Seiring perkembangan kajian taksonomi, spesies tersebut kemudian dipindahkan ke genus Notoneura menjadi Notoneura insignis (Selys) Selys, sebelum akhirnya ditempatkan pada genus Nososticta dan dikenal hingga kini sebagai Nososticta insignis (Selys, 1886) [
4GBIF. (n.d.). Nososticta insignis (Selys, 1886). GBIF. Retrieved June 22, 2026, from https://www.gbif.org/taxon/47RK6
].
Selain itu, spesies ini juga pernah dikenal dengan nama sinonim Alloneura fruhstorferi. Dalam bahasa Inggris, ia memiliki beberapa nama umum, antara lain Sundanese threadtail dan white-legged damselfly.
Habitat capung jarum Sunda sangat khas. Ia menyukai sungai-sungai kecil yang bersih dengan air jernih dan di bawah naungan vegetasi hutan. Kondisi seperti itu ditemukan di sekitar mata air Sumber Kluwih, tempat saya menemukannya bertengger di tanaman suplir. Lingkungan yang sejuk, lembap, dan gangguan minimal merupakan habitat ideal bagi spesies ini.
Keberadaan Nososticta insignis bukan sekadar menambah keragaman hayati kawasan sungai. Sama seperti capung beludru Sunda (Euphaea variegata), spesies ini merupakan indikator alami kesehatan ekosistem perairan. 
Kehadirannya menunjukkan bahwa kualitas air masih baik, tingkat pencemaran rendah, dan aliran sungai tetap terjaga. Dengan kata lain, ketika capung jarum Sunda masih dapat ditemukan, alam sedang memberi kabar bahwa sungai tersebut masih bernapas dengan sehat.
Bagi masyarakat pedesaan, capung umumnya dikenal sebagai pemburu nyamuk dan berbagai serangga kecil lainnya. Meski peran spesifik Nososticta insignis jarang disadari, keberadaannya tetap memberikan manfaat ekologis yang penting dalam menjaga keseimbangan rantai makanan di sekitar perairan.
Di tengah ancaman perubahan lingkungan yang terus berlangsung, kabar baiknya spesies ini masih berstatus Least Concern (LC) atau berisiko rendah menurut International Union for Conservation of Nature (IUCN). Meski demikian, keberlangsungan hidupnya tetap bergantung pada kelestarian sungai-sungai kecil yang bersih dan teduh.
Siang itu, perjumpaan singkat dengan seekor capung berukuran kecil menjadi pengingat bahwa kekayaan alam tidak selalu hadir dalam wujud yang besar dan mencolok. Terkadang, justru pada sosok mungil yang bertengger diam di atas ranting kecil suplir, tersimpan cerita panjang tentang evolusi, kesehatan lingkungan, dan pentingnya menjaga mata air yang menjadi sumber kehidupan. *** [230626]


logoblog

Thanks for reading Nososticta insignis, Capung Jarum Sunda yang Mungil

Previous
« Prev Post

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Sahabat Blog