Sabtu, Juni 20, 2026

Jumpa Sineas di Reuni FISIP 87 UNS

  Budiarto Eko Kusumo       Sabtu, Juni 20, 2026
Ngobrol sesaat dengan sineas Gunawan Raharjo di sela-sela jumpa teman-teman SMA yang juga menjadi alumni FISIP 87 UNS

 

I count myself in nothing else so happy as in a soul rememb'ring my good friends.” -- William Shakespeare

Reuni sering kali menghadirkan kejutan-kejutan kecil yang menyenangkan. Bukan sekadar temu kangen dengan sahabat lama, tetapi juga membuka kembali simpul-simpul pertemanan yang pernah terjalin puluhan tahun silam. Itulah yang saya rasakan ketika menghadiri Reuni FISIP UNS Angkatan 1987.
Acara tersebut mempertemukan alumni dari tiga jurusan yang kala itu menjadi bagian dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sebelas Maret, yakni Administrasi Negara, Komunikasi Massa, dan Sosiologi. 
Jika dengan kawan-kawan Alumni Sosiologi Angkatan 1987 (ASA 87) saya sudah beberapa kali bertemu dalam berbagai kesempatan, maka reuni tingkat fakultas menawarkan ruang perjumpaan yang jauh lebih luas. Batas-batas jurusan seakan melebur dalam suasana akrab yang dibangun oleh kenangan masa muda.
Di sela-sela acara, saya berjumpa dengan dua teman lama yang memiliki ikatan ganda dalam perjalanan hidup saya. Mereka adalah Farida Listyani dan Danus, teman satu kelas ketika menempuh pendidikan di SMA Negeri 3 Surakarta sekaligus sesama alumni FISIP UNS Angkatan 1987. Momen kebersamaan itu semakin berkesan ketika kami berfoto bersama Menteri Perdagangan Republik Indonesia, Dr. Budi Santoso, M.Si., yang juga hadir dalam reuni tersebut.
Namun, ada satu perjumpaan lain yang memberi warna tersendiri pada reuni kali ini. Sebuah foto hasil bidikan lensa tim dokumentasi panitia mengabadikan momen ketika saya berbincang singkat dengan Gunawan Raharjo, alumni Jurusan Komunikasi Massa Angkatan 1987. 
Dalam foto itu tampak dua pria berkepala plontos berjabat tangan sambil terlibat percakapan ringan. Sekilas sederhana, tetapi sesungguhnya menyimpan cerita panjang tentang perjalanan profesi yang berbeda arah namun tetap berangkat dari almamater yang sama.
Nama Gunawan Raharjo sebenarnya tidak asing bagi saya. Jauh sebelum reuni berlangsung, kami pernah berkomunikasi melalui WhatsApp pada tahun 2017. Saat itu saya terlibat dalam kegiatan Ekspose Daftar Arsip PPFN: Seri Gelora Indonesia 1951–1976 yang diselenggarakan Direktorat Pengolahan Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI) di Kusuma Sahid Prince Hotel Solo pada Kamis (12/10/2017). Menjelang kegiatan tersebut, saya diminta membantu mengundang sejumlah pekerja seni. Nama pertama yang terlintas dalam pikiran saya adalah Gunawan Raharjo.
Sayangnya, saat itu ia tidak dapat hadir. Namun, seperti lazimnya jejaring profesional yang sehat, Gunawan tidak berhenti pada kata "tidak". Ia justru merekomendasikan sineas lain yang juga alumnus FISIP UNS, yakni Tonny Trimarsanto, untuk menggantikannya. Dari situlah saya melihat bagaimana hubungan antarsesama alumni tetap memberi manfaat bagi banyak pihak, bahkan ketika pertemuan fisik belum terjadi.
Kesempatan bertemu langsung akhirnya hadir dalam Reuni FISIP 87 UNS pada Ahad (14/06). Percakapan kami memang tidak panjang, tetapi cukup untuk mengingatkan bahwa perjalanan hidup dapat membawa seseorang ke medan pengabdian yang berbeda-beda.
Gunawan Raharjo memilih jalur dunia perfilman. Jejak digitalnya menunjukkan kiprah yang produktif sebagai penulis skenario, penulis cerita, produser eksekutif, hingga produser pelaksana. Namanya tercatat dalam sejumlah film Indonesia yang mendapat perhatian publik, antara lain Jingga (2015), 22 Menit (2018), dan Yang Tak Tergantikan (2020). Ia juga terlibat sebagai produser pelaksana dalam film Aisyah: Biarkan Kami Bersaudara (2016), selain berbagai produksi drama dan film horor nasional lainnya.
Filmografi yang dimilikinya memperlihatkan rentang peran yang luas, mulai dari penulis cerita, penulis naskah, sutradara pendamping hingga produser. Dalam dunia perfilman, filmografi merupakan daftar karya yang mendokumentasikan kontribusi seseorang dalam berbagai produksi film. Dari sanalah publik dapat menelusuri rekam jejak kreatif seorang sineas sepanjang kariernya.
Selain berkarya di industri film, Gunawan juga aktif menulis artikel opini di harian Kompas. Tulisan-tulisannya banyak mengulas dinamika perfilman, televisi, budaya populer, dan berbagai fenomena sosial yang berkembang di masyarakat. Dengan demikian, ia tidak hanya menjadi pelaku industri kreatif, tetapi juga turut memberi perspektif kritis terhadap perkembangan dunia yang digelutinya.
Sementara itu, jalan hidup saya bergerak ke arah yang berbeda. Dunia penelitian dan pengembangan masyarakat (community development) menjadi ruang yang saya tekuni selama bertahun-tahun. Karena itu, percakapan singkat kami terasa unik. 
Di satu sisi ada seorang sineas yang sehari-hari bergelut dengan cerita, visual, dan produksi film. Di sisi lain ada peneliti yang lebih akrab dengan data, dinamika sosial, dan pemberdayaan masyarakat. Dua profesi yang berbeda, tetapi sama-sama berupaya memahami manusia dan kehidupannya.
Barangkali di situlah makna penting sebuah reuni. Ia bukan sekadar ajang bernostalgia, melainkan ruang berbagi pengalaman, bertukar informasi, dan melakukan refleksi atas perjalanan hidup masing-masing. Perbedaan profesi tidak menciptakan jarak, justru memperkaya perspektif. Setiap orang membawa cerita, pengetahuan, dan pelajaran yang dapat saling melengkapi.
Pertemuan singkat dengan Gunawan Raharjo menjadi pengingat bahwa waktu boleh berlalu hampir empat dekade, tetapi jejaring pertemanan yang dibangun sejak masa kuliah tetap memiliki daya hidupnya sendiri. 
Dalam suasana hangat reuni, kami bukan lagi seorang sineas dan seorang peneliti yang berasal dari dunia berbeda, melainkan dua alumni FISIP UNS yang dipertemukan kembali oleh kenangan, persahabatan, dan rasa memiliki terhadap almamater yang sama.
Ungkapan William Shakespeare (1564-1616), seorang dramawan, pujangga, dan aktor Inggris, tampaknya tepat untuk menggambarkan suasana itu: 
“Tidak ada hal lain yang membuatku sebahagia ini selain jiwaku yang mengenang sahabat-sahabatku.” 
Kalimat tersebut seakan menjadi ruh dari setiap reuni. Sebab pada akhirnya, yang paling berharga bukanlah jabatan, profesi, ataupun pencapaian yang diraih, melainkan kesempatan untuk kembali menyapa sahabat lama dan merayakan perjalanan hidup yang telah ditempuh bersama, meski melalui jalan yang berbeda. *** [200626]


logoblog

Thanks for reading Jumpa Sineas di Reuni FISIP 87 UNS

Newest
You are reading the newest post

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Sahabat Blog