“A college is a place one can never forget.” -- Shakil Kamboh
Ada tempat-tempat yang tak pernah benar-benar ditinggalkan. Waktu boleh berjalan puluhan tahun, bangunan boleh berubah wajah, dan kehidupan membawa setiap orang ke arah yang berbeda. Namun, ada ruang yang selalu menyimpan jejak langkah pertama tentang mimpi, persahabatan, dan perjalanan menjadi dewasa. Bagi Alumni Sosiologi Angkatan 1987 (ASA 87), ruang itu bernama Kampus FISIP Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta.
Usai mengikuti Reuni FISIP 87 UNS di Kusuma Sahid Prince Hotel pada Ahad (14/06), rombongan ASA 87 melanjutkan perjalanan yang lebih bermakna, yakni napak tilas kampus di Jalan Ir. Sutami No. 36A Kentingan, Jebres, Surakarta. Bukan sekadar kunjungan seremonial, melainkan perjalanan pulang ke tempat yang pernah membentuk cara pandang mereka tentang kehidupan.
![]() |
| ASA 87 berpose di halaman depan, tempat parkir dosen FISIP UNS |
Napak tilas kampus selalu memiliki daya magis tersendiri. Ia menghidupkan kembali memori kolektif yang mungkin lama tersimpan di sudut ingatan. Di tempat yang sama, para alumni kembali melihat kampus yang dulu mereka kenal, sekaligus menyaksikan bagaimana almamater terus bertumbuh mengikuti perkembangan zaman, baik secara fisik maupun akademik.
Perjalanan nostalgia itu diawali dengan sesi foto bersama di halaman depan area parkir dosen. Senyum mengembang, tawa ringan mengalir, sementara kamera mengabadikan pertemuan antara masa lalu dan masa kini. Setelah itu, langkah-langkah mereka mengarah ke lobi FISIP UNS yang kini tampil lebih modern dengan ikon bertuliskan “FISIP UNS leading the Future Society” berlatar gunungan wayang yang artistik dan menjadi spot favorit pengunjung.
![]() |
| Lobi Kampus utama FISIP UNS |
Dari sana, ASA 87 menyusuri lorong-lorong kampus yang dulu akrab dengan rutinitas kuliah, tugas, dan diskusi panjang. Mereka melintasi jembatan layang yang menghubungkan gedung utama dengan kompleks ruang perkuliahan dan perpustakaan.
Setiap sudut seakan memanggil kembali kenangan yang pernah hidup di sana. Ada yang menunjuk ruang kelas lama, ada yang mengenang dosen favorit, dan ada pula yang sekadar tersenyum mengingat cerita-cerita sederhana yang hanya dipahami oleh mereka yang pernah mengalaminya bersama.
![]() |
| Serambi gedung perkuliahan FISIP UNS, tempat mahasiswa menunggu dosen datang untuk memulai kuliah |
Setibanya di lantai dua gedung perkuliahan, rombongan perlahan menuruni tangga menuju lantai pertama. Di lobi bawah, suasana kembali riuh oleh ajakan berfoto. Berbagai pose diabadikan dengan latar logo “FISIP UNS leading the Future Society” dan identitas FISIP UNS yang kini menjadi simbol transformasi kampus. Di balik jepretan kamera telepon genggam, tersimpan perasaan yang sama, yaitu kebanggaan pernah menjadi bagian dari tempat ini.
Kampus memang bukan hanya kumpulan gedung dan ruang kelas. Ia adalah ruang tempat persahabatan tumbuh, cita-cita dirajut, dan karakter dibentuk. Karena itu, sebagaimana ungkapan penulis Pakistan, Shakil Kamboh:
“Kampus adalah tempat yang tak akan pernah terlupakan.”
![]() |
| Lobi lantai pertama gedung perkuliahan FISIP UNS |
Kalimat itu terasa hidup di setiap langkah ASA 87 siang itu. Sebab, yang mereka kunjungi bukan hanya sebuah institusi pendidikan, melainkan rumah kenangan yang tetap menyala meski puluhan tahun telah berlalu.
Napak tilas berakhir ketika rombongan bergerak menuju Gayasa Restaurant & Café di Jalan Ir. Sutami No. 33 yang telah dibooking khusus untuk agenda nongkrong dan berbincang santai. Namun sesungguhnya, perjalanan itu tidak berhenti di sana. Sebab, setiap sudut kampus yang disinggahi telah kembali menghidupkan kisah-kisah lama yang sempat terlipat oleh waktu.
![]() |
| ASA 87 berpose di outlet resepsionis gedung perkuliahan FISIP UNS |
Di antara bangunan yang terus berubah dan generasi yang terus berganti, ASA 87 menyadari satu hal, bahwa kampus mungkin telah menjadi bagian dari masa lalu, tetapi kenangan yang lahir di dalamnya akan selalu menemukan jalan untuk pulang.
Sebab pada akhirnya, manusia bukan hanya hidup oleh langkah yang sedang ditempuhnya, melainkan juga oleh jejak-jejak yang pernah membentuk siapa dirinya hari ini; dan di sanalah waktu mengajarkan bahwa tempat terbaik untuk mengenang bukanlah masa lalu itu sendiri, melainkan hati yang tetap setia menyimpannya. *** [160626]






Tidak ada komentar:
Posting Komentar