Rabu, Juni 17, 2026

Nongki ASA 87 di Gayasa: Merawat Jejaring, Menyulam Kenangan

  Budiarto Eko Kusumo       Rabu, Juni 17, 2026
I love cafe culture, art and intellect, the long hello and sweet goodbye.” -- Melody Gardot
Sore itu, Ahad (14/6), langkah-langkah yang sebelumnya menelusuri lorong kenangan di kampus FISIP Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta belum benar-benar ingin berhenti. Setelah menuntaskan agenda napak tilas, Alumni Sosiologi Angkatan 1987 (ASA 87) melanjutkan perjalanan menuju sebuah ruang perjumpaan yang berbeda, yaitu Gayasa Restaurant & Café di Jalan Ir. Sutami No. 33, Pucangsawit, Jebres, Surakarta.
Bagi rombongan ASA 87, tempat ini bukan sekadar lokasi untuk bersantap makan. Gayasa menjadi ruang yang mempertemukan kembali cerita-cerita lama, tawa yang tak pernah benar-benar hilang, serta berbagai gagasan untuk masa depan komunitas alumni yang telah terjalin hampir dua belas tahun ini, sejak komunitas ASA 87 dibentuk pada Sabtu (25/10/2014) di Tawangmangu.
Mengusung konsep harmoni alam dan cita rasa Nusantara, Gayasa yang secara etimologi diambil dari kata Gaia dalam mitologi Yunani yang artinya tanah atau bumi, hadir dengan ambisi menjadi salah satu ikon kuliner baru di Kota Surakarta, atau yang beken disebut dengan Kota Solo. Letaknya yang strategis, tidak jauh dari kampus UNS, menjadikannya mudah dijangkau dan berpotensi menjadi salah satu titik temu favorit warga kota maupun kalangan akademisi.

Pintu Masuk Resto Gayasa Solo

Begitu memasuki area restoran, kesan pertama yang muncul adalah perpaduan antara kemewahan dan kehangatan. Interior yang tertata rapi dengan sentuhan desain yang estetik membuat setiap sudut ruangan tampak menarik untuk dipandang. Tak berlebihan jika tempat ini cepat menjadi salah satu destinasi nongki yang digemari. Setiap detail ruang dirancang dengan cermat, menghadirkan suasana yang nyaman tanpa kehilangan sentuhan elegan.
Di bagian belakang, sebuah taman kecil yang asri menjadi pelengkap suasana. Rindangnya tanaman dan tata ruang yang terbuka menciptakan atmosfer santai yang membuat percakapan mengalir begitu saja. Bagi anggota ASA 87 yang sudah lama tidak berjumpa secara langsung, suasana seperti ini terasa ideal untuk menghidupkan kembali kedekatan yang selama ini dijaga melalui berbagai media komunikasi.
Sembari menunggu hidangan yang telah dipesan masing-masing anggota, obrolan berkembang ke berbagai arah. Ada pembahasan mengenai penyegaran kepengurusan ASA 87, perencanaan agenda kegiatan mendatang, inisiatif pengumpulan dana sosial, hingga wacana pemilahan grup komunikasi alumni ke dalam dua kategori, yakni grup yang bernuansa gojekan dan grup yang lebih serius serta informatif.

Ruangan yang dibooking untuk nongki ASA 87di Resto Gayasa

Percakapan berlangsung cair, diselingi canda dan gelak tawa yang sesekali memecah suasana. Di meja-meja itu, kenangan masa kuliah berbaur dengan pembicaraan tentang keluarga, pekerjaan, hingga harapan-harapan yang ingin diwujudkan bersama. Tidak ada jarak yang berarti. Waktu seolah bergerak mundur, membawa mereka kembali menjadi para mahasiswa yang dulu sering berdiskusi di sudut-sudut kampus.
Pilihan menu yang beragam semakin melengkapi pengalaman sore itu. Berbagai hidangan Nusantara yang tersaji tidak hanya memanjakan lidah, tetapi juga memperkuat kesan bahwa Gayasa berhasil memadukan kekuatan rasa dengan kenyamanan ruang. Kombinasi suasana estetik dan kualitas kuliner menjadikan setiap pertemuan terasa lebih berkesan.
Jika ditinjau dari perspektif sosiologi perkotaan, apa yang terjadi dalam pertemuan ASA 87 di Gayasa dapat dipahami melalui konsep third place atau “tempat ketiga” yang diperkenalkan oleh sosiolog Amerika, Ray Oldenburg (1931-2022). Ia mendefinisikan third place sebagai ruang publik tempat orang-orang berkumpul secara sukarela, informal, dan penuh kegembiraan di luar lingkungan rumah dan pekerjaan.

Nongki ASA 87 di salah satu  ruangan di Resto Gayasa Solo

Dalam pandangan Oldenburg, rumah adalah first place dan tempat kerja merupakan second place. Sementara itu, kafe, kedai kopi, restoran, atau ruang publik serupa berfungsi sebagai third place, ruang yang memungkinkan individu melepaskan sejenak berbagai beban rutinitas dan menikmati kebersamaan melalui percakapan yang hangat. Tempat-tempat semacam ini, menurut penulis The Great Good Place, memiliki peran penting dalam membangun vitalitas komunitas dan memperkuat relasi sosial dalam kehidupan masyarakat.
Gayasa sore itu menjelma menjadi contoh nyata dari konsep tersebut. Ia bukan hanya tempat makan, melainkan ruang sosial yang mempertemukan kembali orang-orang dengan sejarah bersama, memperkuat solidaritas, dan membuka peluang kolaborasi di masa depan. Di sana, nostalgia tidak berhenti sebagai kenangan, tetapi berkembang menjadi energi untuk merawat jejaring dan kepedulian sosial.
Suasana itu terasa selaras dengan ungkapan musisi jazz asal Amerika, Melody Gardot:
“Saya menyukai budaya kafe, seni dan intelektualitas, sapaan yang panjang dan perpisahan yang manis.” 
Menu yang dipilih salah seorang personil ASA 87: Kiwi Orange & Mie Ayam Gayasa

Kutipan tersebut seolah menggambarkan apa yang terjadi dalam pertemuan ASA 87 di Gayasa. Ada budaya percakapan yang hidup, pertukaran gagasan yang mengalir alami, sapaan hangat yang panjang karena lama tak bersua, serta perpisahan yang manis karena setiap orang pulang membawa kebahagiaan dan harapan untuk kembali bertemu.
Ketika senja perlahan turun di langit Solo, pertemuan itu pun berakhir. Namun seperti halnya fungsi sebuah third place, yang tertinggal bukan hanya jejak rasa dari hidangan yang disantap, melainkan juga kenangan baru yang memperkaya persahabatan lama. 
Di Gayasa, ASA 87 tidak sekadar nongki atau nongkrong. Mereka merawat ikatan, memperkuat komunitas, dan membuktikan bahwa persahabatan yang dibangun sejak bangku kuliah tetap menemukan ruang hidupnya, bahkan setelah puluhan tahun berlalu. *** [170626]


logoblog

Thanks for reading Nongki ASA 87 di Gayasa: Merawat Jejaring, Menyulam Kenangan

Previous
« Prev Post

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Sahabat Blog