Waktu istirahat siang saat mengikuti Training Enumerator Baseline Survey Theme 1: Primary Health Care Strengthening NIHR UB di Gedung A Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya (FKUB) menjadi kesempatan singkat untuk menghirup udara luar. Dari ruang pelatihan, langkah kaki membawa saya berkeliling sejenak di lingkungan kampus. Di sudut kawasan Pusat Tracer Study, dekat bundaran Universitas Brawijaya, terdapat sebuah kolam yang teduh. Di tepi kolam itulah saya menemukan penghuni kecil yang menarik perhatian.
Seekor capung dengan sayap merah tua menyala tampak melesat rendah di atas permukaan air. Gerakannya cepat dan lincah, sesekali berputar sebelum akhirnya hinggap di bebatuan pinggir kolam. Warna sayapnya yang merah pekat kontras dengan latar hijau tumbuhan di sekitarnya. Ketika seorang bocah yang tampaknya merupakan anggota keluarga salah seorang mahasiswa berlari mengelilingi kolam, capung itu segera terbang menjauh. Namun tidak lama kemudian, setelah suasana kembali tenang, ia kembali ke tempat semula, seolah batu-batu di tepi kolam itu adalah pos pengamatannya.
Capung yang saya jumpai tersebut dikenal di Indonesia sebagai capung jala lurus atau dalam bahasa Inggris akrab dengan Indonesian red-winged dragonfly, salah satu anggota keluarga Libellulidae yang mudah dikenali dari warna sayap jantannya yang merah gelap.
Di berbagai daerah, serangga ini memiliki nama lokal yang beragam. Masyarakat Sunda mengenalnya sebagai papatong beureum, sementara di sejumlah wilayah Jawa ia disebut capung merah atau capung sambel. Di Palangka Raya, nama yang digunakan adalah sensiur bawang. Keberagaman nama itu menunjukkan kedekatan masyarakat Nusantara dengan serangga yang kerap menghiasi pematang sawah, kolam, dan lahan basah tersebut.
Di dunia ilmiah, spesies ini bernama Neurothemis terminata Ris, 1911. Nama genus Neurothemis berasal dari bahasa Yunani. Kata neuro merujuk pada struktur linier pada organisme seperti urat, serat, atau pembuluh, yang dalam entomologi digunakan untuk menyebut pola pembuluh pada sayap serangga [
1Fliedner, H. (n.d.). The scientific names of the Odonata in Burmeister’s ‘Handbuch der Entomologie.’ Retrieved June 11, 2026, from https://www.entomologie-mv.de/download/virgo-9/9105%20aBurmeister%20Fliedner%20englisch.pdf
]. Sementara itu, themis berkaitan dengan keteraturan dan struktur. Gabungan keduanya menggambarkan pola urat sayap yang rumit, teratur, dan menjadi ciri khas kelompok capung ini. Bahkan, sejumlah ahli mengaitkan istilah tersebut dengan tradisi penamaan dalam Odonata yang mengambil inspirasi dari tokoh-tokoh mitologis, termasuk Themis, Dewi Ketertiban dalam mitologi Yunani [2Fliedner, H. (2020). The International Dragonfly Fund - Report Journal of the International Dragonfly Fund (M. Schorr, Ed.). Zerf: International Dragonfly Fund. https://dragonflyfund.org/wp-content/uploads/2024/06/IDF_Report_148_Fliedner_2020.pdf
].Adapun nama spesiesnya, terminata, berasal dari bahasa Latin terminatus, yang berarti “dibatasi” atau “berakhir pada suatu batas tertentu” [
3Merriam-Webster. (n.d.). Terminate. In Merriam-Webster.com dictionary. Retrieved June 11, 2026, from https://www.merriam-webster.com/dictionary/terminate
]. Julukan ini mengacu pada penampilan sayap capung jantan. Sebagian besar sayapnya berwarna merah tua, tetapi pada bagian ujung terdapat area bening atau transparan yang tampak seperti batas yang jelas antara dua warna. Karakter inilah yang kemudian menginspirasi penamaan terminata.![]() |
| Capung jala lurus atau Neurothemis terminata Ris, 1911 |
Perjalanan nama ilmiah capung ini ternyata cukup panjang. Pada tahun 1842, entomolog Prancis Jules Pierre Rambur (1801-18700 pertama kali menempatkannya dalam genus Polyneura dengan nama Polyneura apicalis. Namun kemudian diketahui bahwa nama genus tersebut telah lebih dahulu digunakan pada kelompok serangga lain, sehingga ahli zoologi Austria Friedrich Brauer memperkenalkan genus Neurothemis pada tahun 1867 sebagai penggantinya.
Ketika meninjau kembali kelompok ini, entomolog Swiss Friedrich Ris (1867-1931) memutuskan tidak mempertahankan nama spesies apicalis karena berpotensi menimbulkan konflik nomenklatur dengan spesies lain. Ia kemudian menetapkan nama terminata, yang merujuk pada pola warna sayap yang berakhir secara tegas di bagian ujungnya. Deskripsi ilmiah tersebut diterbitkan dalam karya Libellulinen Collections Zoologiques du Baron Edm. de Selys Longchamps: Catalogue Systématique et Descriptif [
4Ris, F. (1911). Libellulinen Collections Zoologiques Du Baron Edm. De Selys Longchamps: Catalogue Sytematatique et Descriptif (Vol. 2, Issue 12), Bruxelles: Hayez. https://www.biodiversitylibrary.org/page/9675935
].Sebagai anggota famili Libellulidae, Neurothemis terminata termasuk spesies yang persebarannya sangat luas di Asia. Keberadaannya tercatat mulai dari Semenanjung Malaysia dan Jepang hingga Kepulauan Sunda Kecil di Indonesia. Spesies ini juga relatif mudah dijumpai karena mampu beradaptasi dengan habitat yang telah dipengaruhi aktivitas manusia, seperti kolam taman, saluran air, sawah, maupun area terbuka di sekitar permukiman.
Capung jantan tampil mencolok dengan tubuh dan sayap berwarna merah, sedangkan betinanya berwarna kekuningan dengan corak yang lebih samar. Individu dewasa memiliki panjang tubuh sekitar 8–11 sentimeter [
5Neurothemis terminata (Ris, 1911) in Döring M (2022). English Wikipedia - Species Pages. Wikimedia Foundation. Checklist dataset https://doi.org/10.15468/c3kkgh accessed via GBIF.org on 2026-06-11.
]. Mereka sering terlihat bertengger di ujung rerumputan, ranting kering, daun, maupun bebatuan yang mendapat sinar matahari. Tidak jarang pula capung ini berbagi habitat dengan kerabat dekatnya, seperti Neurothemis fluctuans dan Neurothemis ramburii [6Nisita, R. A., Hariani, N., & Trimurti, S. (2020). Keanekaragaman odonata di kawasan bendungan lempake, sungai karang mumus dan sungai berambai samarinda. Edubiotik : Jurnal Pendidikan, Biologi Dan Terapan, 5(02). https://doi.org/10.33503/ebio.v5i02.774
].Namun, daya tarik Neurothemis terminata tidak hanya terletak pada warna sayapnya yang menawan. Dalam perspektif etnozoologi, capung jala lurus memiliki nilai penting bagi masyarakat Indonesia, terutama di wilayah pedesaan dan agraris. Kehadirannya sering dianggap sebagai penanda kualitas lingkungan yang baik. Karena fase hidupnya sangat bergantung pada air yang relatif bersih, kemunculan capung ini dapat menjadi indikator alami kesehatan ekosistem perairan dan udara di sekitarnya.
Selain itu, capung jala lurus juga merupakan predator siang hari yang sangat efektif. Dengan kemampuan terbang yang gesit, ia memangsa berbagai serangga kecil seperti nyamuk, lalat, hingga hama pertanian seperti wereng. Karena itulah masyarakat tradisional kerap memandangnya sebagai sekutu petani, pengendali hama alami yang bekerja tanpa pestisida.
Saat saya meninggalkan tepi kolam dan kembali menuju ruang pelatihan, capung merah itu masih bertengger di atas batu yang sama. Di tengah hiruk-pikuk kampus yang sibuk, kehadirannya menjadi pengingat bahwa bahkan di ruang-ruang yang didominasi aktivitas manusia, kehidupan liar tetap menemukan tempatnya. Seekor Neurothemis terminata yang tampak sederhana ternyata menyimpan kisah panjang tentang bahasa, sejarah ilmu pengetahuan, ekologi, dan hubungan manusia dengan alam. Sebuah kisah yang terbang ringan di atas permukaan kolam, lalu hinggap sejenak untuk diceritakan. *** [120626]


Tidak ada komentar:
Posting Komentar