Kamis, Juni 18, 2026

Reuni dalam Reuni

  Budiarto Eko Kusumo       Kamis, Juni 18, 2026
SMAGA dalam Reuni FISIP UNS 87 di Kusuma Sahid Prince Hotel, Solo (14/06)

 A happy memory is a hiding place for "unforgotten treasures.” -- Paul L. Powers

Pukul 08.30 WIB, suasana di Kusuma Sahid Prince Hotel, Surakarta, mulai ramai. Satu per satu peserta Reuni Alumni FISIP UNS Angkatan 1987 berdatangan menuju lokasi yang terletak di Jalan Sugiyopranoto No. 20, Kampung Baru, Pasar Kliwon, pada Ahad (14/06). Alumni dari tiga jurusan - Administrasi Negara, Komunikasi Massa, dan Sosiologi - hadir dari berbagai kota untuk mengobati kerinduan yang telah tersimpan selama puluhan tahun.
Saya, alumni Sosiologi 1987, tiba sekitar pukul 08.51 WIB. Di tengah suasana yang hangat dan penuh sapaan akrab, sebuah kejutan kecil menanti. Tanpa diduga, saya bertemu dengan Farida Listyani, alumni Komunikasi Massa 1987, dan Danus, alumni Administrasi Negara 1987. Pertemuan itu terasa istimewa karena keduanya bukan hanya rekan sesama alumni FISIP UNS, melainkan juga teman semasa belajar di SMA Negeri 3 Surakarta.
Farida sebenarnya baru saja saya temui dalam reuni mini kelas A3-1 SMAN 3 Surakarta yang berlangsung di rumah Taufik Saleh pada 8 Juni 2025. Namun, kisah berbeda terjadi dengan Danus. Setelah sekian lama berpisah sejak menyelesaikan studi di FISIP UNS, baru pada kesempatan itulah kami kembali berjumpa.
Momen tersebut menghadirkan pengalaman yang unik, yakni sebuah reuni di dalam reuni. Di tengah gelaran Reuni FISIP UNS 1987, terselip reuni mini alumni kelas A3-1 SMAN 3 Surakarta. Sebuah pertemuan yang seolah mempertemukan kembali dua lapis kenangan dalam satu waktu dan tempat yang sama.
Sebelum acara utama dimulai, kami mengabadikan momen tersebut dengan berfoto bersama. Jepretan kamera itu bukan sekadar dokumentasi, melainkan simbol dari ikatan persahabatan yang mampu bertahan melampaui jarak, waktu, dan kesibukan hidup masing-masing.
Secara harfiah, reuni berarti pertemuan kembali sekelompok orang setelah sekian lama tidak berjumpa. Namun, lebih dari sekadar berkumpul, reuni memiliki makna yang jauh lebih dalam. Setidaknya ada tiga fungsi utama yang membuat reuni selalu dirindukan, yakni menyambung silaturahmi, bernostalgia, dan membangun jaringan.
Menyambung silaturahmi menjadi tujuan yang paling mendasar. Kesibukan pekerjaan, perpindahan domisili, hingga tuntutan keluarga sering kali membuat komunikasi antarteman lama terputus. Reuni menjadi ruang untuk menjahit kembali hubungan yang sempat renggang. Sapaan sederhana, jabat tangan hangat, atau obrolan ringan mampu menghidupkan kembali kedekatan yang pernah terjalin puluhan tahun lalu.
Selain itu, reuni juga menjadi wahana bernostalgia. Ingatan tentang masa sekolah dan masa kuliah seakan diputar ulang ketika teman-teman lama berkumpul. Cerita tentang guru atau dosen yang berkesan, kegiatan organisasi, kenakalan remaja, hingga kisah-kisah lucu yang pernah terjadi menjadi bahan perbincangan yang tidak pernah kehilangan daya tariknya.
Nostalgia memberi kesempatan bagi seseorang untuk menengok kembali perjalanan hidupnya, sekaligus menyadari betapa berharganya pengalaman yang pernah dilalui bersama.
Lebih jauh lagi, reuni juga berfungsi membangun jaringan. Setiap alumni menjalani jalan hidup yang berbeda. Ada yang meniti karier di pemerintahan, dunia pendidikan, sektor swasta, organisasi sosial, maupun bidang keagamaan. Pertemuan kembali membuka peluang untuk bertukar informasi, berbagi pengalaman, bahkan menjalin kolaborasi baru yang bermanfaat bagi kehidupan pribadi maupun profesional.
Hal itu tampak dalam perjumpaan kami bertiga di Pantiarjo Convention Hall. Farida dikenal aktif dalam berbagai kegiatan gerejawi, sementara Danus baru saja memasuki masa purnatugas dari lingkungan Pemerintah Kabupaten Semarang. Saya sendiri menempuh jalan yang berbeda, yaitu dunia penelitian. Perbedaan profesi dan pengalaman hidup justru membuat percakapan mengalir semakin hidup. Beragam perspektif bertemu dalam suasana yang santai dan penuh keakraban.
Di situlah sesungguhnya makna reuni menemukan bentuknya. Bukan sekadar mengenang masa lalu, melainkan juga merayakan perjalanan hidup yang telah ditempuh masing-masing. Setiap orang membawa cerita, pengalaman, dan kebijaksanaan yang berbeda, lalu saling membagikannya dalam ruang kebersamaan.
Dari sudut pandang psikologis, reuni sering menghadirkan perasaan hangat karena manusia pada dasarnya memiliki kebutuhan untuk tetap terhubung dengan akar sosialnya. Pertemuan kembali dengan teman-teman lama membantu seseorang mengingat identitas dirinya pada masa lalu sekaligus memperkuat rasa memiliki terhadap sebuah komunitas. Tidak mengherankan jika banyak orang pulang dari reuni dengan perasaan lebih bahagia dan penuh energi positif.
Makna itu sejalan dengan ungkapan penulis Paul L. Powers yang mengatakan, “Kenangan indah adalah tempat persembunyian bagi harta karun yang tak terlupakan.” Kenangan memang tidak dapat diputar kembali, tetapi melalui reuni, harta karun bernama persahabatan dapat ditemukan lagi, meski hanya untuk beberapa jam.
Dan pada Ahad pagi itu, di tengah Reuni FISIP UNS 1987, saya menemukan kembali harta karun tersebut. Bukan hanya bertemu sesama alumni kampus, melainkan juga bersua dengan sahabat-sahabat lama dari bangku SMA. Sebuah reuni yang menghadirkan reuni lainnya - reuni dalam reuni - yang menjadikan pertemuan itu terasa lebih hangat, lebih bermakna, dan tentu saja lebih berkesan. *** [180626]


logoblog

Thanks for reading Reuni dalam Reuni

Newest
You are reading the newest post

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Sahabat Blog