Rabu, Juni 24, 2026

Wah, Bisa Mampir di Sego Tempong Mbok Wah

  Budiarto Eko Kusumo       Rabu, Juni 24, 2026
Chili is not so much food as a state of mind. Addictions to it are formed early in life and the victims never recover. On blue days in October, I get this passionate yearning for a bowl of chili, and I nearly lose my mind.” -- Margaret Cousins
Di Banyuwangi, ada satu kuliner yang hampir selalu direkomendasikan ketika seseorang bertanya tentang makanan khas yang wajib dicoba. Namanya Sego Tempong Mbok Wah. Kesempatan mencicipi kuliner legendaris itu datang tanpa direncanakan ketika saya dan Muhammad Wisnu Nafiri, S.E., enumerator Desa Wringinagung, selesai mengantar surat pemberitahuan bahwa Tim Enumerator Baseline Survey Banyuwangi akan segera melakukan data collecting ke Kantor Dinas Kesehatan Kabupaten Banyuwangi pada Senin (24/06).
Perjalanan menuju warung ini menghadirkan kesan tersendiri. Lokasinya tidak berada di tepi jalan besar. Justru sebaliknya, warung yang beralamat di Jalan Gembrung No. 220, Lingkungan Watu Ulo R, Kelurahan Bakungan, Kecamatan Glagah itu tersembunyi di dalam kawasan permukiman dengan akses jalan yang relatif sempit. Namun, begitu tiba di lokasi, kesan "tersembunyi" itu langsung sirna oleh ramainya pengunjung yang datang silih berganti.

Sego Tempong Mbok Wah Banyuwangi

Tak berlebihan jika Sego Tempong Mbok Wah disebut sebagai salah satu ikon kuliner Banyuwangi. Warung ini telah menjadi tujuan berbagai kalangan, mulai dari mahasiswa, pekerja kantoran, warga lokal, hingga wisatawan yang penasaran dengan sensasi sambal tempong yang melegenda.
Nama “tempong” sendiri berasal dari bahasa Osing, bahasa masyarakat asli Banyuwangi, yang berarti “tampar”. Sebuah nama yang terdengar unik, namun sangat tepat menggambarkan sensasi pedas sambalnya. Sekali suapan, rasa pedas itu seolah datang menghantam lidah tanpa aba-aba.
Saat memesan, sepiring nasi hangat terlebih dahulu ditata bersama aneka sayuran rebus, tahu, tempe, dan ikan asin. Tak lama kemudian, semangkuk kecil sambal tempong hadir melengkapi sajian. Untuk lauk, pengunjung bebas memilih sesuai selera. Siang itu saya menjatuhkan pilihan pada ikan gembung dan petai.

Makan siang di Sego Tempong Mbok Wah

Perpaduan rasanya sungguh menggoda. Sayuran rebus yang segar dengan sedikit rasa manis bertemu sambal yang meledak-ledak di lidah. Pedasnya bukan sekadar pedas, melainkan pedas yang memiliki karakter. Di balik sengat cabai rawit, terdapat aroma kencur yang kuat dan khas. Inilah salah satu rahasia yang membedakan sambal tempong Mbok Wah dari banyak sambal tempong lainnya.
Ada pula rasa segar yang muncul di setiap suapan. Setelah dicermati, sumbernya berasal dari tomat ranti, varietas tomat lokal khas Banyuwangi yang menjadi salah satu bahan utama sambal tersebut. Bentuknya sedikit bergelombang dengan daging buah yang padat dan kandungan air melimpah. Kehadirannya menghadirkan sensasi asam segar yang juicy, menyeimbangkan ledakan pedas cabai yang mendominasi.
Ketika sambal mulai membuat keringat bercucuran, saya teringat sebuah kutipan dari aktivis dan penulis asal Irlandia, Margaret Cousins (1878-1954):
“Cabai bukan sekadar makanan, melainkan sebuah keadaan pikiran. Kecanduan terhadapnya terbentuk sejak usia dini dan para korbannya tidak pernah pulih. Di hari-hari mendung di bulan Oktober, saya merasakan kerinduan yang mendalam akan semangkuk cabai, dan saya hampir kehilangan akal sehat.”
Nasi (sego) tempong dan lauknya ikan gembong serta petai

Kutipan itu terasa begitu relevan saat menikmati sambal tempong Mbok Wah. Pedasnya memang seperti tamparan, tetapi justru di situlah letak kenikmatannya. Ada sensasi yang membuat tangan terus bergerak mengambil nasi, mencocol sambal, lalu mengulanginya lagi dan lagi.
Untuk meredakan panas yang masih membara di lidah, saya memilih segelas es temulawak. Minuman tradisional itu terasa sangat pas menemani santap siang di bawah terik matahari Banyuwangi. Rasa segarnya seakan menjadi penyeimbang setelah serangan pedas yang bertubi-tubi.
Warung Sego Tempong Mbok Wah sendiri memiliki perjalanan panjang. Berdiri sejak awal 1990-an, warung ini mulanya hanyalah usaha sederhana milik Puji Lestari untuk melayani kebutuhan makan anak-anak kos di sekitar rumahnya di Bakungan. Berkat cita rasa yang khas dan harga yang terjangkau di kantong, pelanggan terus berdatangan.
 
Es temulawak di Sego Tempong Mbok Wah

Dari sebuah warung kecil, usaha tersebut berkembang menjadi destinasi kuliner yang dikenal luas, bahkan kini dilengkapi bangunan baru yang terintegrasi dengan toko oleh-oleh dan butik.
Siang itu, mampir ke Sego Tempong Mbok Wah bukan sekadar mengisi perut setelah menyelesaikan tugas. Ada pengalaman kuliner yang mempertemukan saya dengan salah satu identitas rasa Banyuwangi: pedas, sederhana, tetapi sulit dilupakan.
Dan benar seperti makna namanya, sambal tempong itu memang "menampar". Namun tamparan yang satu ini justru membuat siapa pun ingin kembali lagi. *** [240626]


logoblog

Thanks for reading Wah, Bisa Mampir di Sego Tempong Mbok Wah

Newest
You are reading the newest post

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Sahabat Blog