Sore hari memiliki daya tarik tersendiri sejak Sekretariat NIHR SMARThealth menempati lokasi baru di Jalan Banurejo RT 05 RW 01, Kelurahan Kepanjen, Kabupaten Malang. Di samping bangunan sekretariat terbentang lahan luas bekas pabrik sitrun Kepanjen yang kini perlahan diambil alih oleh berbagai tumbuhan liar. Bagi penghuni sekretariat, hal tersebut menjadi ruang berjalan santai sekaligus laboratorium alam terbuka untuk mengamati gulma dan serangga yang hidup bebas di dalamnya.
Pada Jumat sore (12/06), ketika saya berjalan mendekati sungai kecil di sebelah utara lahan tersebut, saya tanaman yang sekilas tampak seperti putri malu (Mimosa pudica). Daunnya menutup ketika disentuh, menampilkan reaksi yang sama seperti kerabatnya yang lebih terkenal.
Namun setelah diamati lebih dekat, tanaman itu ternyata bukan putri malu biasa. Ukurannya jauh lebih besar, batangnya menjalar dan dipenuhi duri. Inilah sikejut besar, atau Mimosa diplotricha.
Nama "sikejut besar" memang terasa tepat. Jika putri malu (Mimosa pudica) umumnya tumbuh rendah dan mungil, Mimosa diplotricha tampil jauh lebih agresif. Batangnya bergerombol dan sering merambat di atas tumbuhan lain. Pada batangnya terlihat empat sudut yang masing-masing dipersenjatai deretan duri tajam melengkung. Daunnya berwarna hijau cerah, berbulu halus, dan tersusun menyerupai helaian pakis.
![]() |
| Bunga sikejut besar (Mimosa diplotricha) yang sudah mulai rontok |
Di berbagai daerah Indonesia, tumbuhan ini dikenal dengan beragam nama lokal. Masyarakat Melayu menyebutnya simeduri-dura, orang Sunda mengenalnya sebagai jukut borang, sementara masyarakat Jawa menyebutnya rembete [
1Stuart Jr., G. U. (n.d.). Makahiyang-lalaki,Mimosa diplotricha, GIANT SENSITIVE PLANT/ Alternative Medicine. StuartXchange. Retrieved June 23, 2026, from https://www.stuartxchange.org/MakahiyangLalaki
]. Meski berbeda nama, semuanya merujuk pada tumbuhan yang sama, yaitu gulma berduri dengan kemampuan "mengejutkan" siapa saja yang menyentuhnya.Nama ilmiahnya menyimpan kisah menarik. Kata Mimosa berasal dari bahasa Yunani mimos, yang berarti peniru atau aktor. Nama itu diberikan karena gerakan daunnya yang sensitif seolah meniru respons makhluk hidup lain ketika menghadapi gangguan [
2Chlorobase. (n.d.). Mimosa - Genus overview & species. Chlorobase. Retrieved June 23, 2026, from https://chlorobase.com/us/plants/mimosa
].Sementara itu, kata diplotricha berasal dari gabungan kata Yunani diploos yang berarti ganda dan thrix yang berarti rambut [
1Stuart Jr., G. U. (n.d.). Makahiyang-lalaki,Mimosa diplotricha, GIANT SENSITIVE PLANT/ Alternative Medicine. StuartXchange. Retrieved June 23, 2026, from https://www.stuartxchange.org/MakahiyangLalaki
], mengacu pada karakteristik rambut atau bulu yang dimiliki tumbuhan ini.Spesies ini pertama kali dideskripsikan secara ilmiah pada tahun 1868 oleh kolektor botani Amerika, Charles Wright (1811–1885), dan dipublikasikan dalam Anales de la Academia de Ciencias Médicas, Físicas y Naturales de la Habana (Vol. 5) [
3Academia de Ciencias Médicas, Físicas y Naturales de La Habana. (1868). Anales de la Academia de Ciencias Médicas, Físicas y Naturales de la Habana (Vol. 5). Academia de Ciencias Médicas, Físicas y Naturales de la Habana. https://www.biodiversitylibrary.org/page/4232568
].![]() |
| Polong tanaman sikejut besar (Mimosa diplotricha) |
Sejak saat itu, Mimosa diplotricha dikenal luas dalam literatur botani dan memiliki beragam nama umum di berbagai negara, mulai dari giant false sensitive plant di dunia berbahasa Inggris hingga makahiyang-lalaki di Filipina dan duri semalu di Malaysia.
Sikejut besar (Mimosa diplotricha) termasuk anggota famili Fabaceae atau suku polong-polongan. Tumbuhan menahun ini tumbuh sangat cepat dan menghasilkan banyak biji yang tersimpan dalam polong-polong kecil bergerombol di ketiak daun. Asal-usulnya berasal dari kawasan Amerika Selatan, membentang dari Meksiko hingga Argentina dan wilayah Karibia.
Namun kemampuan tumbuhnya yang luar biasa membuat tanaman ini tidak tinggal diam di habitat asalnya. Sejak diperkenalkan ke berbagai wilayah tropis dan subtropis, termasuk Asia Tenggara, Afrika, Australia, dan pulau-pulau Pasifik, Mimosa diplotricha berkembang menjadi spesies invasif.
Di Indonesia sendiri, keberadaannya telah tercatat sejak sekitar tahun 1900 di Sumatra dan Jawa sebelum menyebar ke berbagai negara lain di Asia, Australia, dan Afrika [
4Sharma, L. N., Magar, R. P., & Shrestha, B. B. (n.d.). Tracking the introduction of Mimosa diplotricha in Nepal. Forestaction. Retrieved June 23, 2026, from https://forestaction.org/wp-content/uploads/2023/12/Tracking-Mimosa-diplotricha.pdf
].![]() |
| Pucuk tanaman sikejut besar (Mimosa diplotricha) |
Dalam perjalanannya, tanaman ini telah dimanfaatkan secara luas. Sistem perakarannya yang kuat dan kemampuannya mengikat nitrogen membuatnya digunakan sebagai tanaman penutup tanah dan pupuk hijau di berbagai perkebunan.
Di India, tumbuhan ini ditanam di bawah kelapa. Di Sumatra digunakan pada perkebunan tembakau, sedangkan di Jawa membantu memperbaiki kesuburan tanah perkebunan teh. Perannya juga tercatat pada perkebunan kopi di Pantai Gading, kakao di Kamerun, karet di Sri Lanka, hingga lahan jagung di Thailand.
Akan tetapi, manfaat tersebut memiliki sisi gelap. Pertumbuhan Mimosa diplotricha yang sangat rapat mampu menekan regenerasi tumbuhan asli dan menghambat pertumbuhan spesies lain. Di banyak tempat, tanaman ini berubah menjadi gulma yang sulit dikendalikan.
Selain itu, seluruh bagian tumbuhan mengandung mimosin, sejenis asam amino non-protein yang bersifat toksik bagi hewan pemakan tumbuhan. Pada ternak, senyawa ini dapat memicu kerusakan jaringan pembuluh darah, gangguan hati dan jantung, serta anemia [
5Uncultivated. (n.d.). Mimosa diplotricha. Uncultivated. Retrieved June 23, 2026, from https://www.uncultivated.info/mimosa-diplotricha
].![]() |
| Batang sikejut besar (Mimosa diplotricha) berbentuk empat persegi dengan banyak duri |
Meski demikian, kisah sikejut besar belum berhenti pada reputasinya sebagai gulma invasif. Dunia ilmu pengetahuan modern justru menemukan potensi baru dari tanaman yang sering dianggap pengganggu ini.
Penelitian terbaru melaporkan ditemukannya sejumlah senyawa kimia unik seperti diplochalcolin A dan B, diplomero terpenoid A–F, diplotrin A–C, serta diplotasin D. Berbagai studi sebelumnya juga menunjukkan bahwa ekstrak tumbuhan ini memiliki aktivitas biologis yang menjanjikan, antara lain sebagai antidiare, antiinflamasi, antioksidan, trombolitik, antikanker, antinosiseptif, insektisida, dan antimikroba [
6Naima, J., Islam, M. R., Akter, B., Nahar, A., Jahan, N., Nisat, U. T., & Hossain, M. K. (2025). Phytochemical and pharmacological investigation on hypoglycemia, sedation, antianxiety, free-radical scavenging, and cytotoxicity actions of Mimosa diplotricha C. Wright (Nila grass). Clinical Phytoscience, 11(1). https://doi.org/10.1186/s40816-025-00397-y
].Di lahan bekas pabrik sitrun Kepanjen, sikejut besar tumbuh tanpa banyak perhatian. Ia mungkin hanya tampak sebagai semak berduri yang merambat liar di antara vegetasi lain. Namun di balik gerakan daunnya yang menutup ketika disentuh, tersimpan kisah panjang tentang perjalanan lintas benua, manfaat bagi pertanian, ancaman sebagai spesies invasif, sekaligus harapan baru bagi dunia pengobatan.
Terkadang, sebuah sentuhan ringan pada daun yang menutup perlahan sudah cukup untuk mengingatkan bahwa bahkan gulma yang sering diabaikan pun menyimpan cerita yang luar biasa. *** [230626]





Mantap pak budi, semangat
BalasHapus