Pagi itu, suasana Dusun Tamanrejo RT 02 RW 02, Desa Wringinrejo, Kecamatan Gambiran, Kabupaten Banyuwangi, berjalan seperti biasa. Setelah mengikuti pemeriksaan spirometri di Gedung Koperasi Desa Merah Putih, saya jalan-jalan menuju Taman Siti Ganjaran yang berada tepat di sisi selatan gedung tersebut. Jaraknya hanya beberapa langkah, cukup untuk menikmati teduhnya pepohonan yang menaungi taman.
Di dekat pohon pule (Alstonia scholaris) yang tumbuh di sebelah selatan pendopo taman, perhatian saya tiba-tiba tertuju pada sosok mungil yang berdiri tenang di atas hamparan paving block. Seekor burung hantu kecil dengan tatapan mata kuning-oranye yang tajam seolah sedang mengamati setiap gerak di sekitarnya. Sekilas tampak liar, tetapi ternyata burung itu merupakan celepuk Jawa peliharaan salah seorang warga sekitar yang sedang diumbar sejenak.
Pertemuan singkat itu menghadirkan rasa kagum. Meski ukurannya hanya sekitar 20–23 sentimeter, penampilannya memancarkan kewibawaan khas burung hantu. Tubuhnya didominasi bulu cokelat dengan garis-garis halus pada dada dan perut. Jumbai telinga yang menjulang menjadi ciri paling mencolok, berpadu dengan cakram wajah yang tegas sehingga memberikan ekspresi seolah selalu waspada. Warna bulunya merupakan kamuflase sempurna ketika berada di habitat alaminya, hutan pegunungan yang rimbun.
Burung mungil tersebut dikenal secara ilmiah sebagai Otus angelinae (Finsch, 1912), salah satu burung hantu endemik Pulau Jawa yang kini keberadaannya semakin jarang dijumpai.
Nama genus Otus berasal dari bahasa Yunani ōtos, turunan dari ous yang berarti "telinga" [
1Merriam-Webster. (n.d.). Otus. In Merriam-Webster.com dictionary. Retrieved July 27, 2026, from https://www.merriam-webster.com/dictionary/Otus
], merujuk pada jumbai telinga yang menjadi ciri khas kelompok burung hantu ini [2Greenberg, Z. (n.d.). Long-eared Owl: Asio otus . Hawk Mountain Sanctuary. Retrieved July 27, 2026, from https://www.hawkmountain.org/raptors/long-eared-owl
]. Sementara itu, nama spesies angelinae diberikan sebagai penghormatan kepada Angeline Henriette Caroline Bartels née Maurenbrecher (1877–1920), seorang ilustrator burung sekaligus istri pemilik perkebunan dan naturalis Belanda Max Bartels yang banyak melakukan penelitian satwa di Jawa [3Birds of the World. (n.d.). The Key to Scientific Names. Birds of the World; CornellLab of Ornithology. Retrieved July 27, 2026, from https://birdsoftheworld.org/bow/key-to-scientific-names/search?q=angelinae
].![]() |
| Celepuk Jawa (Otus angelinae) yang sedang diumbar di Taman Siti Ganjaran, Dusun Tamanrejo RT 02 RW 02 Desa Wringinrejo, Kecamatan Gambiran, Kabupaten Banyuwangi |
Spesies ini pertama kali dideskripsikan pada tahun 1912 oleh naturalis dan penjelajah asal Jerman, Friedrich Hermann Otto Finsch (1839-1917), dengan nama Pisorhina angelinae dalam Ornithologische Monatsberichte volume 20 [
4Finsch. O. (1912). Über eine neue Art Zwergohreule von Java. Ornithologische Monatsberichte (Vol. 20). Berlin: Verlag von R. Friedländer & Sohn. https://www.biodiversitylibrary.org/page/32584192
]. Seiring perkembangan kajian taksonomi, burung ini kemudian ditempatkan sebagai spesies tersendiri dalam genus Otus.Di berbagai negara, burung ini memiliki beragam nama umum. Dalam bahasa Inggris dikenal sebagai Javan Scops Owl, dalam bahasa Jerman disebut Angelina-Zwergohreule, di Belanda dikenal sebagai Angelinadwergooruil, di Prancis sebagai petit-duc de Java, sementara masyarakat Indonesia mengenalnya sebagai celepuk Jawa. Beragam nama tersebut menunjukkan bahwa meskipun penyebarannya sangat terbatas, spesies ini telah lama menarik perhatian para peneliti dunia.
Celepuk Jawa termasuk famili Strigidae, kelompok burung hantu tipikal. Sebagai satwa endemik, penyebarannya hanya terdapat di Pulau Jawa, terutama di kawasan pegunungan seperti Gunung Salak, Gunung Pangrango, Gunung Tangkuban Parahu, Gunung Ciremai, hingga Dataran Tinggi Ijen di Jawa Timur.
Catatan ilmiah mengenai keberadaan Otus angelinae memang tidak banyak. Selama bertahun-tahun, spesies ini hanya dikenal dari sejumlah kecil spesimen museum. Spesimen tipe berupa seekor betina dikumpulkan Max Bartels pada Agustus 1911 di lereng selatan Gunung Pangrango pada ketinggian sekitar 2.000 meter di atas permukaan laut, kawasan yang kini termasuk Taman Nasional Gunung Gede Pangrango [
5Andrew, P., & Milton, G. R. (1985). A NOTE ON THE JAVAN SCOPS-OWL Otus angelinae FINSCH. Kukila.Org. https://kukila.org/index.php/KKL/article/view/366/338
].![]() |
| Warna paruh celepuk Jawa (Otus angelinae) |
Penelitian berikutnya menemukan spesimen lain dari Gunung Tangkuban Parahu serta Dataran Tinggi Ijen. Peninjauan ulang terhadap koleksi museum bahkan memperkuat bahwa burung ini merupakan satu-satunya burung hantu celepuk pegunungan yang benar-benar endemik Pulau Jawa [
6Becking, J. H. (1994). On the biology and voice of the Javan Scops Owl Otus angelinae. Bulletin of the British Ornithologists’ Club, 114(4), 211–222. https://dn720001.ca.archive.org/0/items/biostor-112135/biostor-112135.pdf
].Habitat alaminya berada di hutan pegunungan pada ketinggian sekitar 1.500–2.500 meter di atas permukaan laut. Burung ini lebih menyukai kanopi bawah hingga menengah dengan vegetasi yang rapat. Sebagai satwa nokturnal, celepuk Jawa mulai aktif ketika malam tiba.
Pendengaran dan penglihatannya yang luar biasa tajam menjadi senjata utama dalam berburu. Kepakan sayapnya nyaris tanpa suara, memungkinkan ia mendekati mangsa tanpa terdeteksi. Makanan utamanya berupa berbagai jenis serangga, tetapi sesekali juga memangsa reptil berukuran kecil.
Sayangnya, masa depan spesies ini tidak sepenuhnya aman. Berkurangnya hutan akibat deforestasi serta alih fungsi kawasan menjadi lahan pertanian maupun permukiman terus menggerus habitat alaminya. Burung yang dahulu menghuni hutan-hutan pegunungan kini semakin sulit ditemukan di alam liar.
![]() |
| Tatapan tajam celepuk Jawa (Otus angelinae) |
Di balik statusnya sebagai satwa langka, burung hantu memiliki tempat istimewa dalam berbagai kebudayaan. Sejak zaman Yunani kuno, burung hantu telah menjadi lambang kebijaksanaan melalui sosok Dewi Athena yang kerap digambarkan bersama burung tersebut.
Di sejumlah negara lain, burung hantu scops dipercaya membawa keberuntungan dan menjadi bagian dari cerita rakyat. Sosoknya yang tenang, tatapannya yang tajam, serta perilakunya yang misterius membuat burung ini terus memikat perhatian manusia [
7DIY.org. (n.d.). Otus Facts For Kids. DIY.Org. Retrieved July 27, 2026, from https://www.diy.org/article/otus
], baik sebagai objek penelitian maupun inspirasi dalam karya seni dan sastra.Pertemuan singkat saya dengan seekor celepuk Jawa di Taman Siti Ganjaran mungkin hanya berlangsung beberapa menit. Namun, dari tatapan mata mungilnya tersimpan kisah panjang tentang kekayaan hayati Pulau Jawa, sejarah penemuan ilmiah, hingga pentingnya menjaga hutan pegunungan sebagai rumah terakhir satwa endemik.
Di tengah aktivitas masyarakat desa pada pagi hari, burung hantu kecil itu seolah mengingatkan bahwa alam selalu memiliki cerita menarik bagi siapa pun yang bersedia berhenti sejenak untuk memperhatikannya. *** [280726]




Tidak ada komentar:
Posting Komentar