Jumat, Juli 03, 2026

Di Balik Duri Cangkring: Pohon Penjaga Tepi Irigasi yang Menyimpan Sejuta Khasiat

  Budiarto Eko Kusumo       Jumat, Juli 03, 2026
Udara pagi di Dusun Sumberwaru, Desa Tamanagung, Kecamatan Cluring, Banyuwangi, terasa dingin. Musim bediding sedang mencapai puncaknya. Embusan angin yang dingin membuat tubuh enggan beranjak dari tempat beristirahat. 
Namun, sebelum mandi, saya memilih berjalan kaki sekitar 300 meter dari basecamp enumerator baseline survey NIHR Global Health Research Centre for Non-Communicable Diseases and Environmental Change (NIHR-GHRC NCDs & EC) di Jalan Pahlawan RT 01 RW 06 menuju saluran irigasi Sumberwaru Kampung Ciut. Harapannya sederhana, mencari kehangatan matahari yang mulai meninggi.
Pukul 08.30 WIB, sinar mentari telah menyapu permukaan air irigasi. Cahaya keemasannya memantul lembut, menghangatkan udara yang sejak subuh terasa menusuk. Sambil menikmati hangat matahari, langkah saya melambat ketika pandangan tertuju pada sebuah pohon besar yang berdiri kokoh di tepian saluran, tepat di sebelah utara jembatan.

Batang dan ranting cangkring (Erythrina fusca) membentuk kanopi yang rimbun

Pohon itu tampak begitu akrab dengan kehidupan warga. Di bawah kerimbunan tajuknya, beberapa sepeda motor milik buruh tani diparkir berjajar. Pohon tersebut seolah menjadi kanopi alami yang melindungi kendaraan dari sengatan matahari.
Rasa penasaran pun muncul.
"Pak, pohon apa ini?" tanya saya kepada seorang pekerja yang baru saja selesai memarkir motornya.
"Itu cangkring," jawabnya singkat.
Nama itu langsung memancing perhatian. Sepintas bentuknya memang menyerupai pohon dadap (Erythrina subumbrans) yang lazim dijumpai di pedesaan. Namun ketika diamati lebih seksama, perbedaannya sangat jelas. Batangnya dipenuhi duri-duri tajam yang rapat. Bahkan duri itu menjalar hingga ke tulang daun. Penampilannya seolah memberi pesan agar siapa pun berhati-hati mendekat.
Di balik sosoknya yang garang, pohon cangkring ternyata menyimpan kisah panjang. Secara ilmiah, tanaman ini bernama Erythrina fusca Lour., anggota famili Fabaceae, kelompok besar tumbuhan polong-polongan.
 
Daun-daun cangkring (Erythrina fusca) yang majemuk yang diiringi ranting berduri

Nama genus Erythrina berasal dari bahasa Yunani eruthros yang berarti merah, merujuk pada warna bunga dan bijinya yang mencolok [
1Lithudzha, E., Behr, K., & Reynolds, Y. (2004, March). Erythrina zeyheri | PlantZAfrica. SANBI. https://pza.sanbi.org/erythrina-zeyheri
]. Adapun kata fusca berasal dari bahasa Latin yang berarti gelap, mengacu pada warna kelopak bunga yang cenderung oranye tua pada sebagian individu [
2Guedes-Oliveira R, Fortuna-Perez AP, Pederneiras LC, Mansano VF (2023) Erythrina L. (Phaseoleae, Papilionoideae, Leguminosae) of Brazil: an updated nomenclatural treatment with notes on etymology and vernacular names. PhytoKeys 232: 1-43. https://doi.org/10.3897/phytokeys.232.101105
].
Nama ilmiah tersebut diperkenalkan pertama kali oleh naturalis Portugis João de Loureiro (1717-1791) pada tahun 1790 melalui karya monumentalnya Flora Cochinchinensis [
3Loureiro, João de & Academia das Ciências de Lisboa. (1790). Flora cochinchinensis: sistens plantas in regno Cochinchina nascentes. Quibus accedunt aliae observatae in Sinensi imperio, Africa Orientali, Indiaeque locis variis. Omnes dispositae secundum systema sexuale Linnaeanum. Labore (Tomus II). Ulyssipone: Typis, et expensis academicis. https://www.biodiversitylibrary.org/page/48850535
]. Saat itu ia sedang bertugas di Cochinchina, wilayah Vietnam bagian Selatan [
4Britannica Editors (2023, July 14). Cochinchina. Encyclopedia Britannica. https://www.britannica.com/place/Cochinchina
].
Perjalanan cangkring ternyata tidak berhenti di sana. Pohon ini merupakan salah satu spesies tropis yang memiliki wilayah persebaran sangat luas. Habitat alaminya membentang dari India, Sri Lanka, Bangladesh, Indochina, kawasan Malesia termasuk Indonesia, Papua Nugini, Australia bagian utara, Afrika Timur, Madagaskar, hingga Amerika Tengah, Karibia, dan Amerika Selatan. 
Luasnya penyebaran tersebut menunjukkan kemampuan adaptasinya terhadap berbagai ekosistem tropis, terutama daerah rawa, bantaran sungai, dan lahan yang tergenang air.
Sebagaimana masyarakat di berbagai belahan dunia mengenalnya dengan nama yang berbeda-beda, masyarakat Nusantara pun memiliki sebutan lokal yang beragam. Orang Betawi menyebutnya dadap petis. Masyarakat Sunda mengenalnya sebagai dadap cucuk, dadap rangrang, atau dadap cangkring.
 
Batang bagian bawah cangkring (Erythrina fusca) yang cukup besar

Di Jawa lebih populer dengan nama cangkring atau dadap ri, sedangkan masyarakat Bali menyebutnya canging, masyarakat Sasak mengenalnya sebagai rope, orang Makassar menyebutnya kane, dan masyarakat Bugis menamainya rase.
Nama "cangkring" sendiri menyimpan cerita menarik. Dalam tradisi masyarakat Jawa, pohon ini dipercaya dapat digunakan untuk mengobati penyakit cangkrangen, yaitu sejenis demam yang dikenal dalam pengobatan tradisional [
5hijau-admin. (n.d.). Cangkring / Dadap Duri (Erythrina frusca) -. Hijau. Retrieved July 02, 2026, from https://hijau.or.id/cangkring/
]. Dari sinilah diduga nama cangkring berasal, memperlihatkan bagaimana masyarakat tempo dulu menamai tumbuhan berdasarkan manfaat yang mereka rasakan.
Cerita mengenai khasiat cangkring ternyata tidak berhenti pada cerita rakyat. Berbagai penelitian etnobotani menunjukkan bahwa pohon ini telah menjadi bagian dari sistem pengobatan tradisional di banyak negara selama berabad-abad.
I Nyoman Arsana, dalam Seminar Nasional Perhimpunan Masyarakat Etnobiologi Indonesia tahun 2021 [
6Arsana, I. N. (2021). Pemanfaatan Tumbuhan Dapdap dan Canging (Erythrina) dalam Pengobatan Usada. In PROSIDING Seminar Nasional Etnobiologi Ke-5 Perhimpunan Masyarakat Etnobiologi Indonesia (Vol. 1, pp. 144–152). PERHIMPUNAN MASYARAKAT ETNOBIOLOGI INDONESIA. http://repo.unhi.ac.id/bitstream/123456789/1823/9/Erythrina.pdf
], mencatat bahwa Erythrina fusca merupakan salah satu tanaman penting dalam usada Bali. Berbagai bagian tanaman dimanfaatkan untuk membantu mengatasi batuk, gangguan buang air kecil, sakit mata, perut kembung, gangguan pada bayi, hingga penyakit yang dalam kepercayaan masyarakat digolongkan sebagai penyakit nonmedis.

Kulit batang cangkring (Erythrina fusca)

Di India, masyarakat Ghats memanfaatkan tanaman ini sebagai obat tradisional untuk membantu penyembuhan patah tulang. Di Sri Lanka, kulit batangnya digunakan untuk mengatasi kerusakan jaringan akibat gigitan ular.
Menariknya, ilmu pengetahuan modern mulai menemukan penjelasan ilmiah di balik pemanfaatan tersebut. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa kulit batang Erythrina fusca mengandung senyawa bioaktif yang berpotensi sebagai antimalaria, antiplasmodium, anti-tuberkulosis, serta antikanker melalui mekanisme penghambatan pertumbuhan sel dan pemicu kematian sel kanker.
Kajian Anjum dkk  (2021) [
7Anjum, A., Sultan, M. Z., Ferdosh, S., Kaisarul Islam, M., Rashid, M. A., Nahar, L., & Sarker, S. D. (2021). Flavonoid, pterocarpans and steroid from Erythrina fusca Lour. growing in Bangladesh: isolation, and antimicrobial and free-radical scavenging activity. Journal of Medicinal Plants, 20(79), 37–46. https://doi.org/10.52547/jmp.20.79.37
] juga melaporkan bahwa dalam pengobatan tradisional Thailand, rebusan kulit batang digunakan untuk membantu mengatasi malaria, penyakit hati, beri-beri, serta gangguan tidur. Daunnya dimanfaatkan untuk membersihkan luka bernanah dan meredakan sakit gigi, sedangkan bunganya dipercaya membantu meredakan batuk.
Penelitian yang lebih mutakhir oleh Nhung dan Quoc pada tahun 2024 [
8Nhung, T. T. P., & Quoc, L. P. T. (2024). Exploring the therapeutic potential of ethanol extract of Erythrina fusca Lour. roots as an analgesic, antipyretic, and anti-inflammatory agent in experimental animals. Plant Science Today. https://doi.org/10.14719/pst.3198
] bahkan menunjukkan bahwa Erythrina fusca memiliki potensi sebagai analgesik, antiinflamasi, penenang, sekaligus memiliki aktivitas neuroinhibitory yang menjanjikan untuk pengembangan obat berbasis bahan alam.

Pohon cangkring (Erythrina fusca) menjulang di tepi saluran irigasi di Dusun Sumberwaru, Desa Tamanagung, Kecamatan Cluring, Kabupaten Banyuwangi

Semua pengetahuan itu berawal dari sebuah pohon yang pagi itu hanya saya lihat sebagai tempat berteduh para petani.
Di bawah rimbun tajuknya, sepeda motor diparkir. Di batangnya yang penuh duri, tersimpan kisah evolusi dan adaptasi. Di balik namanya yang sederhana, tersimpan sejarah penjelajahan botani sejak abad ke-18. Dan di dalam kulit batang, daun, bunga, hingga akarnya, tersimpan pengetahuan pengobatan yang diwariskan lintas generasi dan lintas benua.
Perjalanan singkat mencari kehangatan matahari di musim bediding akhirnya berubah menjadi perjalanan mengenal salah satu pohon asli Nusantara yang selama ini mungkin luput dari perhatian. 
Cangkring mengajarkan bahwa alam sering kali menyimpan cerita paling menarik pada sosok-sosok yang tampak biasa. Di balik batangnya yang penuh duri, pohon ini justru menawarkan pelajaran tentang hubungan panjang antara manusia, pengetahuan tradisional, dan kekayaan hayati yang patut terus dijaga. *** [030726]


logoblog

Thanks for reading Di Balik Duri Cangkring: Pohon Penjaga Tepi Irigasi yang Menyimpan Sejuta Khasiat

Newest
You are reading the newest post

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Sahabat Blog