Suara anak-anak yang datang bersama ibunya memecah pagi di Posyandu Anggrek II, Jalan Sultan Agung Nomor 161, Dusun Sumberjeruk RT 01 RW 03, Desa Tamanagung, Kecamatan Cluring, Kabupaten Banyuwangi.
Di rumah Ibu Pujiati itu, kegiatan penimbangan balita, pemeriksaan kesehatan, dan penyuluhan berlangsung seperti biasa. Sementara para kader sibuk melayani warga, saya coba melangkah ke sebidang lahan kosong di samping posyandu.
Lahan itu tampak apa adanya. Pohon-pohon jati (Tectona grandis) berdiri menaungi sebagian tanah, rumpun pisang tumbuh di beberapa sudut, sedangkan beragam tumbuhan liar memenuhi ruang yang tersisa.
![]() |
| Bunga menting (Senna occidentalis) berwarna kuning |
Sebagian orang mungkin hanya melihatnya sebagai semak belukar yang tak terurus. Namun, bagi pecinta tumbuhan, tempat seperti itu sering kali menjadi "perpustakaan alam" yang menyimpan banyak cerita.
Di antara rerumputan liar, saya tertarik pada semak dengan bunga-bunga kuning cerah. Batangnya kemerahan, daunnya tersusun rapi menyirip, sementara buah polongnya tampak mulai melengkung. Ketika salah satu daunnya diremas perlahan, tercium aroma khas yang kurang sedap. Rupanya, inilah menting, tanaman liar yang selama ini sering luput dari perhatian.
Boleh jadi, sebagian orang menganggap menting tidak lebih dari gulma. Ia tumbuh tanpa ditanam, muncul di lahan kosong, tepi jalan, atau kebun yang jarang dirawat. Padahal, di balik penampilannya yang sederhana, tumbuhan ini menyimpan perjalanan ilmiah yang panjang sekaligus potensi yang mengundang perhatian para peneliti.
![]() |
| Kuncup bunga dan polong muda menting (Senna occidentalis) |
Dalam dunia botani, menting dikenal dengan nama Senna occidentalis (L.) Link. Tanaman ini termasuk semak semusim yang dapat tumbuh antara setengah hingga dua setengah meter. Batangnya berbentuk segi empat dengan warna kemerahan, daunnya majemuk menyirip lengkap dengan kelenjar kecil di pangkal tangkai, sedangkan bunganya berwarna kuning terang yang mudah dikenali. Ciri lainnya adalah aroma menyengat yang muncul ketika bagian tanamannya diremas.
Nama "menting" ternyata hanya satu dari sekian banyak sebutan yang dimiliki tumbuhan ini, terutama di Jawa. Di Sumatra, masyarakat mengenalnya sebagai kopi andelan, sementara orang Sunda menyebutnya kasingsat.
Di berbagai negara lain, namanya pun berubah mengikuti bahasa setempat. Ada yang menyebutnya coffee senna, negro coffee, ant bush, cassie puante, Stinkkassie, fedegoso-verdadeiro, hingga wàng jiāng nán. Banyaknya nama lokal menunjukkan bahwa tanaman ini telah lama menyebar dan berinteraksi dengan berbagai budaya di dunia.
| Polong menting (Senna occidentalis) |
Nama ilmiahnya juga memiliki makna tersendiri. Nama genus Senna berasal dari bahasa Arab, sanā, yang sejak dahulu digunakan untuk menyebut tanaman dengan sifat pencahar [
1Flora & Fauna Web. (n.d.). Senna alata. NParks. Retrieved July 05, 2026, from https://www.nparks.gov.sg/florafaunaweb/flora/2/4/2450
]. Sementara itu, kata occidentalis berasal dari bahasa Latin yang berarti "barat" atau "matahari terbenam". Nama tersebut mengingatkan pada tanah kelahirannya, yakni kawasan tropis dan subtropis Benua Amerika [2Ecosostenibile. (n.d.). Senna occidentalis: Systematics, Etymology, Habitat, Cultivation. An Eco-Sustainable World. Retrieved July 05, 2026, from https://antropocene.it/en/2023/01/29/senna-occidentalis-2/
].Sejarah penamaannya bahkan melibatkan beberapa tokoh besar dalam dunia botani. Pada tahun 1753, ahli botani Swedia Carolus Linnaeus (1707-1778) pertama kali mendeskripsikan spesies ini sebagai Cassia occidentalis dalam buku legendaris Species Plantarum [
3Linné, Carl von, & Salvius, Lars. (1753). Caroli Linnaei ... Species plantarum: exhibentes plantas rite cognitas, ad genera relatas, cum differentiis specificis, nominibus trivialibus, synonymis selectis, locis natalibus, secundum systema sexuale digestas... (Vol. 1). Holmiae: Impensis Laurentii Salvii. https://www.biodiversitylibrary.org/page/358012
] berdasarkan spesimen dari Jamaika. Setahun berselang, botanis Skotlandia Philip Miller (1691-1771) mengusulkan agar kelompok Senna dipisahkan dari Cassia karena memiliki perbedaan bentuk bunga dan buah. Meski gagasan itu sempat diperdebatkan, akhirnya pada tahun 1831 ahli botani Jerman Johann Georg Heinrich Link (1767-1851) menetapkan nama Senna occidentalis [
4Link, Heinrich Friedrich, & Willdenow, Karl Ludwig. (1831). Handbuch zur Erkennung der nutzbarsten und am häufigsten vorkommenden Gewächse (Vol. 2). Berlin: der Haude und Spenerschen Buchhandlung. https://www.biodiversitylibrary.org/page/53266049
], nama yang digunakan hingga sekarang.![]() |
| Daun menting (Senna occidentalis) |
Sebagai anggota famili Fabaceae atau suku polong-polongan, menting berasal dari kawasan tropis kering Amerika. Kini persebarannya hampir meliputi seluruh wilayah tropis dunia. Indonesia menjadi salah satu tempat yang cocok bagi pertumbuhannya. Tidak mengherankan apabila tanaman ini mudah ditemukan di tanah kosong, tepi sawah, semak belukar, bahkan di pekarangan yang kurang terawat.
Julukan coffee senna sering membuat orang mengira tanaman ini masih berkerabat dekat dengan kopi atau bahkan mengandung kafein. Dugaan itu ternyata keliru. Menting sama sekali tidak mengandung kafein. Nama tersebut muncul karena bijinya yang telah disangrai sejak lama dimanfaatkan sebagai pengganti kopi, terutama di Jamaika dan beberapa wilayah Amerika Latin [
5PictureThis. (n.d.). Kasingsat. PictureThis. Retrieved July 05, 2026, from https://www.picturethisai.com/id/wiki/Senna_occidentalis.html
]. Saat kopi sulit diperoleh, biji menting menjadi alternatif minuman yang cukup populer.Namun, seperti banyak tanaman obat lainnya, menting memiliki dua sisi. Daun dan bijinya diketahui mengandung senyawa yang dapat bersifat racun bagi ternak apabila dikonsumsi dalam jumlah tertentu. Karena itu, pemanfaatannya harus dilakukan secara hati-hati dan berdasarkan pengetahuan yang memadai.
![]() |
| Batang menting (Senna occidentalis) |
Meski demikian, justru di balik sifat itulah tersimpan potensi yang besar. Selama berabad-abad, berbagai masyarakat memanfaatkan menting sebagai bagian dari pengobatan tradisional. Di Kenya, misalnya, masyarakat Luhya, Digo, dan Duruma merebus akar menting, lalu meminum air rebusannya tiga kali sehari selama tiga hingga empat hari sebagai terapi tradisional untuk malaria [
6Mogaka, S., Molu, H., Kagasi, E., Ogila, K., Waihenya, R., Onditi, F., & Ozwara, H. (2023). Senna occidentalis (L.) Link root extract inhibits Plasmodium growth in vitro and in mice. BMC Complementary Medicine and Therapies, 23(1). https://doi.org/10.1186/s12906-023-03854-8
].Penelitian modern kemudian mulai mengungkap alasan di balik praktik-praktik tersebut. Berbagai kajian fitokimia menunjukkan bahwa Senna occidentalis mengandung beragam senyawa aktif yang memiliki aktivitas antibakteri, antijamur, antioksidan, antiinflamasi, antidiabetes, antikanker, antimutagenik, hingga bersifat melindungi hati [
7Kalombo, A. S.-P. K., Mukeba, F. B., Idrissa, A. Z., Divengi, J.-P. N., Mbuyi, P. L., Kayembe, J.-P. K., & N’Da, D. D. (2022). Review on the Ethnobotany, Phytochemical and Pharmacological Profile of Senna occidentalis L. (Fabaceae): Potential Application as Remedy in the Treatment of Dysmenorrhea. European Journal of Medicinal Plants, 44–62. https://doi.org/10.9734/ejmp/2022/v33i630472
]. Penelitian Idohou et. al. (2025) [
8Idohou, A. F. R., Wouyou, H., Agbangba, E. ., & Dossou, A. (2025). Utilitarian diversity of Senna occidentalis in Benin, West Africa: Ethnobotanical insights and sustainable management. Ethnobotany Research and Applications, 30, 1–14. Retrieved from https://ethnobotanyjournal.org/index.php/era/article/view/6795
] bahkan melaporkan bahwa berbagai bagian tanaman ini menunjukkan aktivitas antihiperglikemik, antihiperlipidemik, antioksidatif, antihepatotoksik, antibakteri, serta antidiabetes. Temuan-temuan tersebut membuka peluang pemanfaatan menting sebagai sumber bahan baku obat alami untuk membantu penanganan penyakit seperti diabetes, malaria, tifus, dan rematik.![]() |
| Tanaman menting (Senna occidentalis) yang tumbuh subur di lahan kosong samping Posyandu Anggrek II Dusun Sumberjeruk, Desa Tamanagung, Kecamatan Cluring, Kabupaten Banyuwangi |
Pagi itu saya memandang semak yang tumbuh liar di samping Posyandu Anggrek II. Barangkali sebagian orang akan mencabutnya tanpa berpikir panjang karena dianggap gulma. Namun, setelah mengenal kisahnya, sulit rasanya memandang menting hanya sebagai tanaman pengganggu.
Ia adalah pengingat bahwa alam sering menyembunyikan kekayaan pengetahuan di tempat-tempat yang paling sederhana. Sebatang semak yang tumbuh tanpa perhatian ternyata menyimpan sejarah ilmiah selama hampir tiga abad, dikenal oleh berbagai bangsa, dimanfaatkan dalam pengobatan tradisional, dan terus diteliti oleh ilmuwan modern.
Mungkin itulah pelajaran terbesar dari menting. Jangan terburu-buru menilai sesuatu dari tempat ia tumbuh. Sebab, di balik semak liar yang kerap diabaikan, bisa jadi tersimpan manfaat yang kelak memberi arti bagi kehidupan banyak orang. Tak berlebihan jika Senna occidentalis layak dijuluki sebagai si menting yang penting. *** [060726]






Tidak ada komentar:
Posting Komentar