Minggu, Juli 05, 2026

Loreng Kecil di Kala Musim Bediding

  Budiarto Eko Kusumo       Minggu, Juli 05, 2026
Awal Juli selalu membawa wajah yang berbeda di Sumberwaru. Pagi datang bersama embun yang enggan beranjak, sementara udara dingin menggantung di sela-sela pepohonan. Warga menyebutnya musim bediding, saat angin kemarau menusuk kulit.
Pagi itu, menjelang pukul delapan, saya meninggalkan basecamp Tim Enumerator Baseline Survey di Jalan Pahlawan, Dusun Sumberwaru, Desa Tamanagung, Kecamatan Cluring, Banyuwangi. Tujuannya sederhana, yakni berjalan kaki menyusuri saluran air Kampung Ciut untuk mengusir hawa dingin yang masih bertahan.
Langkah saya terhenti di sebuah dam kecil. Di sisi utara jembatan, rumpun gulma tumbuh rapat di tepian saluran. Di antara daun-daun liar itulah seekor kumbang kecil sedang bertengger dengan tenang. Sekilas ia tampak seperti serpihan warna yang sengaja diletakkan alam di atas hamparan hijau.
Tubuhnya didominasi warna kuning jingga yang dihiasi garis-garis hitam menyerupai loreng harimau. Dari kepalanya menjulur sepasang sungut yang panjang. Perpaduan warna dan bentuk itu membuatnya mudah dikenali sebagai salah satu anggota kumbang tanduk panjang atau famili Cerambycidae.


Dialah Chlorophorus annularis (Fabricius, 1787). Nama ilmiahnya menyimpan cerita yang tak kalah menarik dibanding penampilannya. Kata Chlorophorus berasal dari bahasa Yunani, chlorós yang berarti "hijau" dan phorós yang berarti "membawa" atau "memakai" [
1Özdikmen, Hüseyin. (2022). ETYMOLOGY OF CERAMBYCOIDEA IN TURKEY: PART III - TAXON NAMES ATTRIBUTED TO DIAGNOSTIC ADJECTIVES, OBJECTS, CONCEPTS, HOST PLANTS, ETC… (COLEOPTERA: CERAMBYCOIDEA). Munis Entomology and Zoology Journal. 17. 1203-1267. https://www.researchgate.net/publication/360996374_ETYMOLOGY_OF_CERAMBYCOIDEA_IN_TURKEY_PART_III_-_TAXON_NAMES_ATTRIBUTED_TO_DIAGNOSTIC_ADJECTIVES_OBJECTS_CONCEPTS_HOST_PLANTS_ETC_COLEOPTERA_CERAMBYCOIDEA
]. Nama itu diberikan karena beberapa kerabat dekatnya memiliki warna kehijauan yang khas. 
Sementara itu, epitet annularis berasal dari bahasa Latin yang berarti "berbentuk cincin" [
2Missouri Botanical Garden. (n.d.). A Grammatical Dictionary of Botanical Latin. Mobot. Retrieved July 03, 2026, from https://www.mobot.org/mobot/latindict/keyDetail.aspx?keyWord=annularis
], merujuk pada salah satu struktur anatomi di bagian belakang tubuh yang memiliki bentuk melingkar [
3Kroh, A.; Mooi, R. (2021). World Echinoidea Database. Goniopygus annularis Vaziri & Arab, 2012 †. Accessed at: http://marinespecies.org/echinoidea/aphia.php?p=taxdetails&id=738293 on 2026-06-24
].
Namun, nama itu tidak lahir begitu saja. Lebih dari dua abad silam, tepatnya pada tahun 1787, entomolog Denmark Johann Christian Fabricius (1745-1808) pertama kali memperkenalkannya kepada dunia ilmu pengetahuan dengan nama Callidium annulare. Seiring berkembangnya kajian taksonomi, spesies ini beberapa kali berpindah "alamat" ilmiah, sempat ditempatkan dalam genus Clytanthus dan Rhaphuma [
4cabicompendium.12946, CABI Compendium, doi:10.1079/cabicompendium.12946, CABI, Chlorophorus annularis (bamboo tiger longicorn), (2022).
], sebelum akhirnya menetap dalam genus Chlorophorus yang didirikan entomolog Prancis Louis Alexandre Auguste Chevrolat (1799-1884) pada tahun 1863 [
5Fu, Z. J., Chen, L., & Li, Z. (2024). Taxonomic notes on the genus Chlorophorus Chevrolat, 1863 (Coleoptera, Cerambycidae), with one new synonym and four newly recorded species from China. ZooKeys, 1214, 1–14. https://doi.org/10.3897/zookeys.1214.131143
].
Perjalanan panjang tersebut menggambarkan bagaimana ilmu pengetahuan terus berkembang mengikuti temuan-temuan baru, hingga nama Chlorophorus annularis diterima sebagai nama ilmiah yang sah hingga sekarang.


Di berbagai belahan dunia, kumbang ini memiliki banyak sebutan. Masyarakat berbahasa Inggris mengenalnya sebagai bamboo longhorn beetle atau bamboo borer. Nama itu bukan sekadar julukan, melainkan petunjuk tentang tempat tinggal sekaligus kebiasaannya. Hampir seluruh siklus hidup Chlorophorus annularis berpusat pada rumpun bambu.
Kumbang dewasa biasanya dijumpai di sekitar tanaman bambu untuk mencari makan sekaligus menemukan pasangan. Setelah kawin, induk betina menyisipkan telur-telurnya ke dalam batang bambu.
Ketika menetas, larva mulai menggerek jaringan kayu di bagian dalam, terutama pada batang yang telah mengering. Lorong-lorong kecil yang mereka buat menjadi ruang tumbuh hingga metamorfosis selesai. 
Saat tiba waktunya menjadi kumbang dewasa, serangga ini keluar melalui lubang bundar berdiameter sekitar dua hingga tiga milimeter, meninggalkan jejak kecil sebagai penanda berakhirnya satu siklus kehidupan.
Bagi manusia, aktivitas larva tersebut sering dipandang sebagai gangguan karena dapat menurunkan kualitas bambu yang dimanfaatkan sebagai bahan bangunan, perabot, maupun kerajinan.
 

Namun, dari sudut pandang ekologi, kumbang ini merupakan bagian dari proses alami dekomposisi. Larva membantu mempercepat pelapukan bambu yang telah menua atau mati sehingga unsur hara dapat kembali ke tanah dan dimanfaatkan oleh organisme lain. Dalam ekosistem, tidak ada makhluk yang benar-benar hadir tanpa peran.
Indonesia yang kaya akan jenis bambu menjadi habitat ideal bagi berbagai anggota famili Cerambycidae. Tidak mengherankan apabila Chlorophorus annularis memiliki persebaran yang luas dan kerap dijumpai di kawasan pedesaan yang masih mempertahankan rumpun-rumpun bambu sebagai bagian dari lanskapnya.
Pertemuan saya dengan kumbang kecil itu hanya berlangsung beberapa menit. Ia tetap diam di atas daun, seolah tidak terusik oleh kehadiran manusia yang sedang mengamatinya. Namun, dari perjumpaan yang singkat itulah terbuka sebuah kisah panjang tentang sejarah penamaan ilmiah yang telah berlangsung lebih dari dua abad, tentang kehidupan yang sepenuhnya bergantung pada bambu, dan tentang betapa setiap sudut alam selalu menyimpan cerita yang menunggu untuk ditemukan.
Barangkali, keajaiban alam memang tidak selalu hadir dalam wujud satwa berukuran besar atau pemandangan yang megah. Kadang, ia hanya berupa seekor kumbang kecil berlurik hitam-kuning yang sedang menikmati hangatnya matahari pagi di tengah dinginnya musim bediding. *** [050726]


logoblog

Thanks for reading Loreng Kecil di Kala Musim Bediding

Previous
« Prev Post

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Sahabat Blog