Senin, Agustus 03, 2026

Di Bawah Rindang Beringin, Menemukan Jeda di Warung Beringin Asri Talang

  Budiarto Eko Kusumo       Senin, Agustus 03, 2026
If not a big banyan tree, at least be like a mango tree under the shade of which a few people can rest.” -- Abhijit Naskar, Love, God & Neurons: Memoir of a scientist who found himself by getting lost
Gelas berisi es degan itu perlahan mengembunkan dindingnya. Butir-butir air mengalir turun, seolah ikut menyejukkan siang yang baru saja dipanggang terik matahari Banyuwangi. Di hadapan saya, air kanal peninggalan Belanda mengalir tanpa tergesa, memecah kesunyian dengan gemericik yang menenangkan. Sesekali semilir angin menggoyangkan dedaunan beringin tua yang menaungi warung sederhana itu. Di tempat seperti inilah, waktu seakan melambat.
Warung Beringin Asri Talang bukanlah restoran mewah ataupun kafe yang dipenuhi dekorasi modern. Namun, justru dalam kesederhanaannya, warung yang berada di Jalan Raya Gembolo, Dusun Krajan RT 05 RW 01, Desa Purwodadi, Kecamatan Gambiran, Kabupaten Banyuwangi, menyimpan daya tarik yang sulit dijelaskan dengan kata-kata.
Bagi para personel NIHR Global Health Research Centre for Non-Communicable Diseases and Environmental Change (NIHR-GHRC NCDs & EC) yang bertugas di Banyuwangi, nama Warung Beringin Asri sudah tidak asing lagi.
 
Pohon beringin tumbuh besar di dekat gapura daerah Talang yang berada di Dusun Krajan RT 05 RW 01 Desa Purwodadi, Kecamatan Gambiran, Kabupaten Banyuwangi, yang letaknya di perabatasan Gambiran dan Bangorejo

Sebagian enumerator cukup mengenalnya. Bahkan, di antara para enumerator laki-laki, warung ini kerap menjadi bahan perbincangan dan rekomendasi ketika mencari tempat melepas penat selepas menjalani aktivitas lapangan. Mengapa demikian? Mungkin setiap orang memiliki jawabannya sendiri.
Lokasinya yang berada di perbatasan Kecamatan Gambiran dan Bangorejo membuat Warung Beringin Asri menjadi tempat singgah yang strategis. Berada di jalur menuju Dam Sere, warung ini menawarkan lebih dari sekadar makanan dan minuman. Ia menghadirkan ruang untuk berhenti sejenak dari ritme pekerjaan yang padat.
Saya pertama kali mengenal tempat ini berkat ajakan Muhammad Wisnu Nafiri, S.E., enumerator baseline survey Desa Wringinagung. Seusai menghadiri kegiatan Posyandu ILP Sumberjaya 2 pada Sabtu (01/08), ia mengajak saya mencicipi tahu goreng petis di warung tersebut.
Gigitan pertama tahu goreng yang masih hangat berpadu dengan petis bercita rasa khas meninggalkan kesan yang sederhana, tetapi membekas. Mungkin karena disantap setelah seharian beraktivitas di lapangan, atau mungkin karena suasana warung memang membuat segala sesuatu terasa lebih nikmat.

Akar-akar beringin yang bergantungan menaungi sejumlah bangku Warung Beringin Asri

Dua hari kemudian, seusai menghadiri kegiatan Posyandu ILP Bogenvil 1 di Desa Tamanagung, saya kembali datang. Kali ini, saya memilih duduk tepat di bawah pohon beringin yang menjadi ikon warung tersebut. Segelas es degan menjadi teman menikmati siang.
Rasa segar air kelapa muda seolah menghapus lelah setelah berjam-jam berada di bawah sengatan matahari. Angin yang berembus lembut, suara air kanal yang terus mengalir, serta teduhnya pepohonan menghadirkan suasana yang sulit ditemukan di banyak tempat.
Nama Warung Beringin Asri ternyata bukan sekadar nama. Di halaman depannya berdiri kokoh sebuah pohon beringin berukuran besar yang telah lama menjadi penanda sekaligus pelindung warung itu.
Pohon beringin memiliki keunikan yang tidak dimiliki kebanyakan pohon. Ia tidak hanya bertumpu pada satu batang utama. Akar-akar gantungnya turun perlahan ke tanah, kemudian tumbuh menjadi batang-batang baru yang saling menopang. 
Ada yang tegak lurus, ada yang melengkung, ada pula yang saling bertaut. Bersama-sama mereka membentuk satu kesatuan yang kuat, menaungi siapa saja yang berada di bawahnya. Filosofi itu terasa hidup di Warung Beringin Asri.
 
Bangunan utama Warung Beringin Asri yang full wi-fi

Di bawah naungannya, saya bertemu kembali dengan seorang kader kesehatan dari Posyandu ILP Glowong 1, Dwi Oktaviani. Ia sedang menjalankan tugas dalam Sensus Ekonomi 2026 untuk mewawancarai pemilik warung tersebut. Tak jauh dari tempat saya duduk, beberapa sales dari berbagai perusahaan tampak menikmati makan siang sambil berbincang santai.
Tak ada sekat profesi ataupun status sosial. Semua duduk di tempat yang sama, menikmati keteduhan yang sama.
Warung ini seolah menjadi simpul perjumpaan. Tempat orang-orang beristirahat sebelum kembali melanjutkan perjalanan dan pekerjaannya masing-masing.
Di sela-sela percakapan, suara gemericik kanal tetap setia mengiringi. Riak-riak kecil air yang mengalir berpadu dengan desir angin yang memainkan dedaunan beringin menghadirkan harmoni yang sederhana, tetapi menenangkan. 
Suasana seperti ini membuat Warung Beringin Asri bukan hanya layak disebut tempat makan, melainkan juga ruang untuk memulihkan energi, menjernihkan pikiran, dan menemukan inspirasi.
Seorang neurosains terkenal, penulis ternama dengan lebih dari 120 buku, dan penyair bumi dengan lebih dari 3000 soneta asal India, Abhijit Naskar, pernah berujar dalam  Love, God & Neurons: Memoir of a scientist who found himself by getting lost (2016):
"Jika bukan pohon beringin yang besar, setidaknya jadilah seperti pohon mangga yang di bawah naungannya beberapa orang dapat beristirahat."
Kader Posyandu ILP Glowong 1 sedang melakukan Sensus Ekonomi 2026 di Warung Beringin Asri Talang

Kutipan itu terasa menemukan maknanya di Warung Beringin Asri Talang. Warung sederhana ini mungkin tidak berdiri megah, tetapi ia menghadirkan keteduhan yang nyata. Di bawah rindang beringin, setiap orang memperoleh ruang untuk berhenti sejenak, mengurai lelah, berbagi cerita, lalu kembali melanjutkan perjalanan dengan semangat yang diperbarui.
Di tengah kehidupan yang bergerak semakin cepat, mungkin yang paling dibutuhkan bukanlah tempat yang mewah. Cukup sebuah ruang yang teduh, secangkir minuman sederhana, aliran air yang tak pernah berhenti, dan pohon beringin yang setia menaungi siapa pun tanpa membeda-bedakan.
Warung Beringin Asri Talang telah membuktikan bahwa makna sebuah tempat tidak selalu diukur dari kemegahannya, melainkan dari banyaknya kisah yang tumbuh dan berakar di bawah naungannya. *** [030826]


logoblog

Thanks for reading Di Bawah Rindang Beringin, Menemukan Jeda di Warung Beringin Asri Talang

Previous
« Prev Post

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Sahabat Blog