Perhatian saya sempat teralihkan saat menghadiri kegiatan Posyandu ILP Lestari 1 di rumah Kamituwo Suryo Hadi, Dusun Plosorejo RT 92 RW 02, Desa Kaliploso, Kecamatan Cluring, Kabupaten Banyuwangi, pada Senin (13/07). Di samping teras rumah, berdiri sebuah pot putih berisi tanaman yang sekilas tampak seperti kaktus.
Batangnya tebal, bersegi, dipenuhi duri, tetapi di ujung rantingnya tumbuh daun-daun hijau yang lebar dan berdaging. Rasa penasaran membawa saya mengenal tanaman yang ternyata bernama sesudu (Euphorbia neriifolia L.), salah satu tumbuhan yang telah lama dimanfaatkan sebagai tanaman obat di berbagai negara Asia.
Meski penampilannya menyerupai kaktus, sesudu sebenarnya bukan anggota famili Cactaceae. Tanaman ini termasuk famili Euphorbiaceae atau suku getah-getahan. Sesudu merupakan perdu atau pohon kecil sukulen yang mampu bertahan di daerah kering karena batangnya dapat menyimpan cadangan air. Ciri khas lainnya adalah batang silindris berduri, daun yang hanya tumbuh di ujung cabang, serta bunga majemuk kecil yang menjadi karakter khas genus Euphorbia.
Nama ilmiahnya menyimpan kisah menarik. Genus Euphorbia diambil dari nama Euphorbus, seorang tabib Yunani yang menjadi dokter Raja Juba II dari Numidia sekitar abad pertama sebelum Masehi. Raja Juba II dikenal sebagai pecinta flora dan mendorong pemanfaatan tumbuhan yang menghasilkan getah sebagai bahan pengobatan [
1Plantae Paradise. (n.d.). Euphorbia neriifolia variegated - Shop. Plantae Paradise. Retrieved July 31, 2026, from https://www.plantaeparadise.com/shop/euphorbia-neriifolia-variegated-742686276/?srsltid=AfmBOorarp32kDLTqKo6egy-JS8KfAqh4KIvMFW9v2-HvmCsyWXjYUIO
].![]() |
| Tanaman sesudu (Euphorbia neriifolia) di samping teras depan rumah kamituwo Plosorejo di Dusun Plosorejo RT 02 RW 02 Desa Kaliploso, Kecamatan Cluring, Kabupaten Banyuwangi |
Sementara itu, nama spesies neriifolia berasal dari bahasa Latin, yakni nerium yang berarti oleander dan folium yang berarti daun. Penamaan ini diberikan karena bentuk daun sesudu sangat mirip dengan daun oleander (Nerium oleander) [
2Giromagi Cactus and Succulents. (n.d.). Euphorbia neriifolia f. cristata variegata. Giromagi Cactus and Succulents. Retrieved July 31, 2026, from https://www.giromagicactusandsucculents.com/euphorbia-neriifolia-f-cristata-variegata/
]. Nama ilmiah Euphorbia neriifolia pertama kali dideskripsikan oleh botanis Swedia Carolus Linnaeus (1707-1778) pada tahun 1753, dan dipublikasikan dalam Species Plantarum [
3Linné, Carl von, & Salvius, Lars. (1753). Caroli Linnaei ... Species plantarum: exhibentes plantas rite cognitas, ad genera relatas, cum differentiis specificis, nominibus trivialibus, synonymis selectis, locis natalibus, secundum systema sexuale digestas... (Tomus I). Ho;miae: Impensis Laurentii Salvii. https://www.biodiversitylibrary.org/page/358012
].Sesudu memiliki banyak nama di berbagai belahan dunia. Masyarakat Indonesia mengenalnya sebagai sesudu atau sudu-sudu, di Filipina disebut soro-soro, di Thailand dikenal sebagai som chao, dan dalam bahasa Sansekerta dikenal dengan snuhi, snuk, svarasana, nistrinsapatra, nagarika.
Orang Arab, menyebutnya jauarulkalb, azfurzukkum, dihu minguta. Sedangkan dalam bahasa Inggris populer dengan nama Indian spurge tree, hedge euphorbia, atau oleander spurge. Beragam nama tersebut menunjukkan bahwa tanaman ini telah lama dikenal dan dimanfaatkan oleh banyak masyarakat.
Habitat alaminya tersebar di kawasan Baluchistan, India, Bangladesh, Myanmar, hingga Malaysia. Kini sesudu lebih sering dijadikan tanaman hias karena bentuknya yang unik dan mudah tumbuh di daerah panas. Namun, di balik tampilannya yang eksotis, sesudu menyimpan sejarah panjang sebagai tanaman obat tradisional.
Dalam literatur Ayurveda kuno seperti Caraka Samhita, Susruta Samhita, dan Vagbhata Purana, sesudu telah disebutkan sebagai tanaman yang digunakan untuk mengatasi berbagai gangguan kesehatan. Getah putih yang keluar dari batang ketika terluka dimanfaatkan sebagai pencahar, obat sakit telinga, serta ramuan untuk membantu mengatasi gangguan pernapasan, terutama asma. Dalam praktik pengobatan tradisional India, getah tersebut kerap dicampur madu atau ghee sebelum digunakan.
![]() |
| Batang sesudu (Euphorbia neriifolia) yang masih muda berwarna hijau |
Daunnya juga memiliki banyak kegunaan. Masyarakat tradisional memanfaatkannya untuk membantu meredakan nyeri, peradangan, bronkitis, batuk, pilek, dan wasir. Daun yang dikukus ditempelkan pada luka untuk mempercepat penyembuhan, sedangkan sari daun digunakan sebagai obat sakit telinga di Filipina dan Malaysia. Dalam beberapa pengobatan tradisional, sari daun yang dicampur sirup sederhana dilaporkan digunakan untuk membantu meredakan serangan asma spasmodik.
Batangnya pun tidak luput dari pemanfaatan. Batang yang dipanggang kemudian diambil sarinya dipercaya membantu mengencerkan dahak ketika dicampur madu dan diberikan dalam jumlah sedikit.
Getahnya juga dimanfaatkan untuk menghilangkan kutil, mengobati luka bakar, hingga membantu penyembuhan beberapa penyakit kulit. Di beberapa daerah, tanaman ini bahkan digunakan sebagai pestisida nabati dan ditanam sebagai pagar hidup untuk melindungi tanaman budidaya.
Bagian akar sesudu juga memiliki peran dalam pengobatan tradisional. Akar yang ditumbuk bersama lada hitam digunakan sebagai ramuan untuk membantu mengurangi gejala akibat gigitan ular maupun sengatan kalajengking. Sementara itu, rebusan kulit akar dimanfaatkan untuk membantu mengatasi pembengkakan atau edema.
Meski memiliki banyak manfaat dalam pengobatan tradisional, penggunaan sesudu memerlukan kehati-hatian. Getah putihnya mengandung senyawa aktif yang dapat bersifat iritan.
Masyarakat Chhattisgarh di India, misalnya, menggunakan tanaman ini di bawah bimbingan tabib tradisional karena konsumsi berlebihan dapat menimbulkan mual, muntah, bahkan efek toksik lainnya. Oleh karena itu, tanaman ini tidak dianjurkan digunakan sebagai obat secara mandiri tanpa pengetahuan yang memadai.
![]() |
| Daun sesudu (Euphorbia neriifolia) |
Ketertarikan terhadap sesudu tidak hanya datang dari para tabib tradisional, tetapi juga dari para peneliti modern. Tinjauan ilmiah yang dilakukan Sultana et. al. (2022) merangkum berbagai bukti etnomedis mengenai pemanfaatan Euphorbia neriifolia.
Mereka melaporkan bahwa hampir seluruh bagian tanaman, mulai dari getah, daun, batang, hingga akar, telah dimanfaatkan secara turun-temurun untuk membantu mengatasi berbagai gangguan kesehatan, terutama penyakit saluran pernapasan, gangguan pencernaan, peradangan, penyakit kulit, dan penyembuhan luka [
4Sultana, A., Hossain, M. J., Kuddus, M. R., Rashid, M. A., Zahan, M. S., Mitra, S., Roy, A., Alam, S., Sarker, M. M. R., & Naina Mohamed, I. (2022). Ethnobotanical Uses, Phytochemistry, Toxicology, and Pharmacological Properties of Euphorbia neriifolia Linn. against Infectious Diseases: A Comprehensive Review. Molecules (Basel, Switzerland), 27(14), 4374. https://doi.org/10.3390/molecules27144374
].Penelitian fitokimia kemudian mengungkap bahwa sesudu mengandung beragam senyawa bioaktif, antara lain flavonoid, diterpenoid, triterpenoid, saponin, tanin, dan senyawa fenolik. Flavonoid diketahui berkontribusi terhadap aktivitas antiinflamasi dan analgesik, sementara beberapa triterpenoid menunjukkan aktivitas antiproliferatif pada penelitian laboratorium.
Kajian yang dipublikasikan Chaudhary et. al. (2023) memperkuat temuan tersebut. Mereka melaporkan bahwa Euphorbia neriifolia memiliki potensi aktivitas antivirus, antiasma, antiartritis, antidiare, antiulkus, antikonvulsan, radioprotektif, hingga antiinflamasi.
![]() |
| Batang sesudu (Euphorbia neriifolia) yang bagian bawah sudah tua dan berkayu dengan warna keabu-abuan |
Berbagai senyawa diterpenoid yang berhasil diisolasi bahkan dilaporkan menunjukkan aktivitas anti-HIV dan efek sitotoksik terhadap kultur sel kanker tertentu. Di sisi lain, beberapa triterpenoid dari batang tanaman ini juga memperlihatkan aktivitas antiproliferatif dan antiinflamasi yang menjanjikan [
5Chaudhary, P., Singh, D., Swapnil, P., Meena, M., & Janmeda, P. (2023). Euphorbia neriifolia (Indian Spurge Tree): A Plant of Multiple Biological and Pharmacological Activities. Sustainability, 15(2), 1225. https://doi.org/10.3390/su15021225
].Namun demikian, para peneliti menegaskan bahwa sebagian besar hasil tersebut masih berasal dari penelitian praklinis, baik secara in vitro maupun in vivo pada hewan percobaan. Artinya, efektivitas dan keamanan sesudu sebagai obat pada manusia masih memerlukan uji klinis yang lebih komprehensif sebelum dapat direkomendasikan dalam praktik medis.
Pertemuan singkat dengan sesudu di halaman rumah warga Banyuwangi itu menjadi pengingat bahwa tumbuhan di sekitar kita sering kali menyimpan kisah yang jauh lebih besar daripada penampilannya. Tanaman yang sekilas hanya tampak seperti kaktus ternyata memiliki sejarah botani yang panjang, tercatat dalam literatur pengobatan kuno, dimanfaatkan oleh berbagai budaya selama berabad-abad, dan kini terus menjadi objek penelitian ilmiah modern.
Sesudu mengajarkan bahwa kekayaan hayati Indonesia tidak hanya indah dipandang, tetapi juga menyimpan potensi ilmu pengetahuan yang masih terus digali. Di balik batangnya yang berduri dan daunnya yang menyerupai oleander, tersimpan warisan pengetahuan tradisional sekaligus harapan akan lahirnya temuan-temuan baru yang bermanfaat bagi dunia kesehatan pada masa mendatang. *** [020826]





Tidak ada komentar:
Posting Komentar