“You are not one you are a Thousand. Just Light your Lantern”. – Rumi
Malam baru saja menurunkan tirainya ketika langit Desa Sarimulyo berubah menjadi panggung cahaya.
Suara ledakan pertama memecah gempita aksi panggung nyanyian dan pesan dari Kepala Desa Sarimulyo, Budi Susilo, S.T. Dalam sekejap, bunga api berwarna keemasan merekah di angkasa, disusul semburat merah, hijau, biru, dan ungu yang saling bertumpuk membentuk lukisan raksasa.
Ribuan orang yang memadati lapangan desa serentak mendongakkan kepala. Sebagian mengabadikan momen melalui layar telepon genggam, sebagian lagi memilih menikmati keajaiban itu tanpa berkedip, seolah takut kehilangan satu percik cahaya pun.
Belum usai kekaguman mereka, cahaya lain mulai bermunculan dari permukaan bumi. Satu demi satu lampion menyala dari para penonton yang memadati Lapangan Mandala Cempokosari. Perlahan mengembang. Kemudian, dalam hitungan detik, ribuan tangan melepaskannya ke udara.
![]() |
| Gapura masuk Lapangan Mandala Cempokosari Desa Sarimulyo, tempat lokasi Hari Jadi Desa Sarimulyo yang ke-30 |
Sebanyak ribuan lampion terbang hampir bersamaan, bergerak perlahan mengikuti arah angin, menciptakan hamparan cahaya yang menjelma gugusan bintang baru di langit Sarimulyo.
Jumat malam, 31 Juli, menjadi malam yang akan lama dikenang warga Desa Sarimulyo, Kecamatan Cluring, Banyuwangi. Bukan semata karena pesta kembang api yang spektakuler, melainkan karena malam itu mereka merayakan perjalanan panjang sebuah desa yang telah menginjak usia tiga puluh tahun, sebuah usia yang cukup dewasa untuk mengenang masa lalu sekaligus menatap masa depan.
Di bawah langit yang diterangi lampion, tepuk tangan, dan sorak kegembiraan. Tak sedikit wajah yang tampak haru. Sebab, setiap lampion yang terbang seolah membawa doa-doa yang selama ini dipendam dalam hati, yaitu harapan agar desa terus tumbuh, masyarakat semakin sejahtera, dan kebersamaan tetap menjadi akar yang menguatkan.
Hari jadi itu memang bukan sekadar pesta. Ia adalah perayaan tentang perjalanan. Perjalanan itu dimulai sejak Rabu, 29 Juli 2026. Selama tiga hari berturut-turut, Sarimulyo menjelma menjadi ruang perjumpaan antara tradisi, pelayanan sosial, dan hiburan rakyat.
![]() |
| Tim Enumerator Baseline Survey dari Desa Sarimulyo dan Wringinrejo serta Field Facilitator NIHR UB ikut menonton Hari Jadi Desa Sarimulyo yang ke-30 |
Hari pertama dibuka dengan seremoni resmi yang menghadirkan Tari Gandrung. Gerak para penari yang luwes, diiringi tabuhan musik khas Banyuwangi, menjadi salam pembuka bagi seluruh tamu yang datang.
Malamnya, panggung budaya berlanjut melalui pementasan seni Damarwulan Krisna Buana yang berlangsung hingga dini hari. Cerita kepahlawanan itu seolah mengingatkan bahwa sebuah desa besar bukan hanya dibangun oleh jalan dan bangunan, melainkan juga oleh ingatan kolektif yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Esok harinya, wajah perayaan berubah. Keramaian berganti kekhusyukan. Lantunan ayat suci mengalun dalam khataman Al-Qur'an. Anak-anak mengikuti khitanan massal dengan didampingi keluarga mereka.
Di sudut lain, warga mengantre memanfaatkan pemeriksaan kesehatan gratis, sementara layanan administrasi kependudukan dari Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil membantu masyarakat mengurus berbagai dokumen. Hari itu, pesta berubah menjadi pelayanan.
![]() |
| Aksi panggung para juara tari dan penampilan musik |
Malam itu, ribuan umat berkumpul untuk mengikuti sholawat bersama Gus Dandi Banyuwangi. Suara doa bergema di seluruh Lapangan Mandala Cempokosari, menciptakan suasana sakral yang menyatukan ribuan orang dalam doa yang sama.
Puncak perayaan tiba pada Jumat, 31 Juli. Sejak pagi, denyut kehidupan sudah terasa lebih cepat. Ratusan peserta mengikuti jalan sehat. Kantong-kantong darah terkumpul melalui aksi donor darah. Anak-anak muda menampilkan kemampuan terbaik mereka dalam lomba tari. Alunan musik band menemani sore yang perlahan meredup. Namun semua itu seperti menjadi pengantar menuju satu pertunjukan yang paling dinanti.
Ketika malam turun sempurna, pesta kembang api dimulai. Dentuman demi dentuman mengguncang udara. Cahaya berloncatan memenuhi langit. Setiap letupan selalu diikuti suara takjub dari ribuan penonton. Anak-anak bertepuk tangan. Orang tua tersenyum. Para lansia mengangguk pelan sambil menikmati suasana yang mungkin belum pernah mereka saksikan sebelumnya dalam sejarah desa.
![]() |
| Pesta kembang api usai pesan kata dari Kepala Desa Sarimulyo, Kecamatan Cluring, Kabupaten Banyuwangi |
Lalu datanglah momen yang paling hening. Api kecil dinyalakan pada dasar lampion. Udara panas memenuhi lapangan. Satu demi satu lampion mulai terangkat. Tak lama kemudian, seribu lampion melayang bersama. Langit yang semula disinari mentari purnama perlahan berubah menjadi samudra cahaya.
Tak ada yang benar-benar ingin berbicara saat itu. Semua larut dalam pemandangan yang sulit dijelaskan dengan kata-kata. Lampion-lampion itu bergerak perlahan menjauh dari bumi, tetapi justru terasa semakin dekat dengan harapan setiap orang yang memandanginya.
"Kami ingin merayakan hari jadi desa ini dengan cara yang istimewa, yang tidak hanya menghibur tetapi juga menyatukan seluruh elemen masyarakat. Kembang api dan 1.000 lampion ini adalah simbol harapan dan cahaya untuk masa depan Sarimulyo yang lebih cerah," tutur Kepala Desa Sarimulyo, Budi Susilo.
![]() |
| Usai pesta kembang api, para penonton mulai berdiri dari menyalakan lampion |
Ungkapan itu terasa menemukan wujudnya pada malam itu. Karena yang diterbangkan bukan sekadar lampion. Melainkan harapan. Harapan yang datang dari warga Desa Sarimulyo maupun para penonton dari luar desa, termasuk di antaranya dari tiga enumerator baseline survey NIHR Global Health Research Centre for Non-Communicable Diseases and Environmental Change (NHR-GHRC NCDs & EC) untuk Desa Sarimulyo (Kiki Antikawati Rustandi, S.Kep.; Triana Rahmah, S.AB; dan Istifani Shafira, SKM), seorang enumerator untuk Desa Wringinrejo (Yunita Pratiwi Suprapto, S.T.), dan Field Facilitator NIHR Universitas Brawijaya (UB).
Di usia ke-30, Sarimulyo memperlihatkan bahwa sebuah perayaan dapat memiliki makna yang jauh melampaui kemeriahan panggung. Seni budaya tetap diberi ruang untuk hidup. Nilai-nilai keagamaan berjalan berdampingan dengan pelayanan sosial. Hiburan menjadi jembatan yang mempertemukan seluruh lapisan masyarakat tanpa sekat.
Perayaan itu akhirnya menjadi cermin tentang bagaimana sebuah desa merawat identitasnya di tengah perubahan zaman.
Bahwa pembangunan tidak hanya berbicara tentang infrastruktur, tetapi juga tentang menjaga rasa memiliki, gotong royong, dan kebanggaan terhadap kampung halaman.
![]() |
| Ribuan lampion berterbangan di atas langit Desa Sarimulyo |
Seribu lampion yang perlahan menghilang di balik langit malam memang akhirnya padam dari pandangan. Namun cahaya yang mereka tinggalkan sesungguhnya tetap tinggal - di dalam ingatan, di dalam harapan, dan di dalam keyakinan bahwa masa depan selalu dimulai dari cahaya-cahaya kecil yang dinyalakan bersama.
Penyair sufi Jalaluddin Rumi (1207-1273) dari Balkh, pernah menulis:
“Kamu bukan satu, kamu seribu. Nyalakan saja lenteramu”
Barangkali, itulah makna terdalam malam penuh cahaya di Sarimulyo. Yang diterbangkan bukan hanya seribu lampion.
Tetapi juga seribu mimpi, seribu doa, dan seribu harapan agar Desa Sarimulyo terus melangkah menjadi desa yang maju tanpa kehilangan akar budayanya. *** [010826]







Tidak ada komentar:
Posting Komentar