“The world is getting more connected through technology and travel. Cuisines are evolving. Some people are scared of globalization, but I think people will always take pride in cultural heritage.” -- John Mackey
Pekerjaan lapangan kerap menuntut ketepatan waktu dan ketahanan fisik. Begitu pula yang dijalani Tim Maintenance NIHR Universitas Brawijaya (UB) bersama teknisi Nafas dan Field Facilitator NIHR UB. Setelah menyelesaikan maintenance alat sensor kualitas udara di Desa Wringinrejo, Tamanagung, dan Sarimulyo, mereka masih harus melanjutkan pekerjaan ke Desa Kaliploso.
Namun, sebelum kembali menyusuri jalan, ada satu kebutuhan sederhana yang tak bisa ditunda, yaitu makan siang.
Di tengah perjalanan, tim memilih berhenti di Kuliner nDeso Kampung Bethek, Dusun Purwosari, Desa Benculuk, Kecamatan Cluring, Kabupaten Banyuwangi. Lokasinya berada tidak jauh dari pintu masuk De Djawatan Forest, salah satu kawasan wisata yang dikenal dengan pepohonan trembesi berukuran besar.
Bagi mereka yang baru pertama kali datang, Kampung Bethek segera menawarkan kesan yang berbeda. Bukan bangunan modern dengan ornamen kekinian yang menyambut pengunjung, melainkan bambu dalam berbagai bentuk.
![]() |
| Suasana di Kuliner nDeso Kampung Bethek di Dusun Purwosari, Desa Benculuk, Kecamatan Cluring, Kabupaten Banyuwangi |
Nama “Bethek” sendiri merujuk pada anyaman bambu khas Jawa. Material tersebut menjadi elemen utama yang membentuk wajah kawasan kuliner ini. Bangunan, meja, hingga sejumlah bagian fasilitasnya menghadirkan kesan sederhana yang lekat dengan kehidupan pedesaan.
Tidak ada kemewahan yang sengaja dipamerkan. Justru sebaliknya, Kampung Bethek seperti ingin membawa pengunjung kembali pada suasana desa yang barangkali pernah akrab dalam ingatan.
Lantai tanah, kursi kayu, meja bambu, hingga dapur tradisional dengan tungku kayu bakar menjadi bagian dari pengalaman tersebut. Ketika aroma masakan mulai keluar dari dapur, suasana semakin terasa seperti berada di rumah sendiri.
Bagi generasi yang pernah tumbuh di desa, pemandangan semacam itu dapat membangkitkan nostalgia. Ada ingatan tentang dapur sederhana, masakan rumahan, dan waktu makan bersama keluarga.
Sementara bagi pengunjung yang tidak memiliki pengalaman serupa, Kampung Bethek menghadirkan sesuatu yang justru terasa baru. Suasana masa lalu dikemas menjadi pengalaman wisata yang dapat dinikmati generasi sekarang.
Menikmati Masakan Desa
Salah satu daya tarik Kampung Bethek tentu saja makanannya. Pengunjung dapat mengambil sendiri hidangan yang tersedia secara prasmanan. Pilihannya cukup beragam, tetapi tetap mempertahankan karakter masakan rumahan.
Ada sayur bening bayam gambas, urap, sayur lodeh, pepes ikan laut, gulai ikan pe, aneka gorengan, dan berbagai menu sederhana lainnya.
Siang itu, saya mengambil nasi putih dan memilih ikan pe, teri, serta sambal tempong sebagai lauk. Semangkuk sayur bening bayam gambas kemudian menjadi pelengkap, sementara segelas teh panas dipilih sebagai teman makan.
Sepiring nasi putih yang masih hangat menjadi awal yang sederhana. Di atasnya, ikan pe menghadirkan rasa gurih dengan aroma khas ikan asap. Ketika disantap bersama sambal tempong, rasa gurih tersebut mendapatkan sentuhan pedas dan segar yang membuat selera makan semakin terbuka.
![]() |
| Prasmanan atau ambil sendiri lalu menuju ke kasir untuk dihitung |
Teri menambahkan rasa gurih yang lebih kuat. Ukurannya kecil, tetapi cukup memberikan aksen pada setiap suapan.
Sementara itu, sayur bening bayam gambas menghadirkan rasa yang lebih ringan. Kuah beningnya terasa segar, dengan bayam yang lembut dan gambas yang memberikan tekstur khas. Setelah menikmati lauk dan sambal, sayur bening menjadi penyeimbang yang menyegarkan.
Sebagai penutup, teh hangat tampaknya menjadi pilihan yang tepat. Kehangatannya sederhana, namun sempurna untuk menemani santap siang setelah menyelesaikan pekerjaan lapangan.
Tidak ada sesuatu yang rumit dari menu tersebut. Namun, justru kesederhanaan itulah yang membuat makanan terasa akrab. Rasanya seperti masakan yang tidak berusaha menjadi sesuatu yang bukan dirinya sendiri.
Ketika Kuliner Menjadi Warisan
Saat tim menikmati makan siang, Kampung Bethek cukup ramai oleh pengunjung. Percakapan terdengar dari berbagai sudut, sementara aktivitas di dapur terus berjalan menyiapkan makanan untuk mengisi tempat sayur yang telah berkurang dalam meja prasmanan.
Di sekitar bangunan utama terdapat gazebo-gazebo bambu yang menjadi tempat pengunjung menikmati hidangan. Semuanya terasa menyatu dengan konsep yang dibangun, yakni sebuah perkampungan kuliner dengan atmosfer pedesaan tempo dahulu.
Pada akhirnya, Kampung Bethek tidak sekadar menawarkan makanan. Tempat ini menawarkan sebuah pengalaman.
Pengunjung tidak sekadar datang, mengambil makanan, lalu menyantapnya. Mereka juga diajak merasakan kembali atmosfer kehidupan desa melalui bangunan, material, cara memasak, hingga menu yang disajikan.
![]() |
| Makan siang di Kuliner nDeso Kampung Bethek Banyuwangi |
Hal tersebut menjadi semakin relevan di tengah perubahan gaya hidup dan perkembangan wisata kuliner yang semakin modern. Ketika teknologi membuat dunia semakin terhubung, identitas lokal justru dapat menjadi kekuatan yang membuat sebuah tempat tetap memiliki daya tarik.
John Mackey, seorang wirausahawan serta salah satu pendiri dan sosok visioner di balik Whole Foods Market, pernah mengatakan,
“Dunia semakin terhubung berkat teknologi dan perjalanan. Kuliner pun terus berkembang. Ada orang-orang yang merasa takut akan globalisasi, namun menurut saya, orang akan selalu bangga akan warisan budaya mereka.”
Kampung Bethek seolah menjadi contoh kecil dari gagasan tersebut. Di tengah perkembangan zaman, warisan kuliner dan suasana pedesaan tidak harus ditinggalkan. Sebaliknya, keduanya dapat dihidupkan kembali menjadi pengalaman yang relevan bagi pengunjung masa kini.
Bambu, tungku kayu, masakan rumahan, dan cara penyajian prasmanan mungkin terlihat sederhana. Tetapi ketika dirangkai dalam satu pengalaman, semuanya menjadi identitas.
Sebelum Perjalanan Berlanjut
Makan siang di Kampung Bethek akhirnya menjadi jeda singkat sebelum pekerjaan kembali dilanjutkan. Setelah energi kembali terisi, Tim Maintenance NIHR UB, teknisi Nafas, dan Field Facilitator NIHR UB bersiap meneruskan perjalanan menuju Desa Kaliploso.
Pekerjaan lapangan masih menanti. Sensor kualitas udara masih harus dipastikan berfungsi dengan baik dan agenda maintenance berikutnya harus diselesaikan.
Namun, perjalanan siang itu menyisakan cerita lain. Bahwa di antara pekerjaan teknis, perjalanan dari satu desa ke desa berikutnya, dan rutinitas lapangan, selalu ada ruang untuk menikmati sesuatu yang sederhana.
![]() |
| Kalau di Lagu Dangdut ada gubuk derita, di Kuliner nDeso Kampung Bethek terdapat gubuk jajanan |
Sepiring nasi, ikan pe, teri, sambal tempong, sayur bening bayam gambas, dan segelas teh panas mungkin bukan hidangan yang mewah. Tetapi di Kampung Bethek, makanan sederhana tersebut hadir bersama suasana yang membawa pengunjung pada ingatan tentang desa.
Dengan konsep yang unik, harga yang bersahabat, serta cita rasa masakan rumahan yang autentik, Kampung Bethek menjadi salah satu pilihan wisata kuliner yang menarik untuk disinggahi di Banyuwangi.
Sebab terkadang, pengalaman perjalanan yang paling berkesan bukanlah tentang seberapa jauh seseorang pergi, melainkan tentang apa yang ditemukannya ketika berhenti sejenak di tengah perjalanan. *** [080826]





Tidak ada komentar:
Posting Komentar