Jumat, September 25, 2026

Cinnamomum burmanni, Kiamis Si Kayu Manis

  Budiarto Eko Kusumo       Jumat, September 25, 2026
Ia tidak menyimpan aroma di mahkota bunga, melainkan di balik kulit batangnya. Di halaman belakang Café Cokelat, Doesoen Kakao Kedunglembu, Desa Karangharjo, Kecamatan Glenmore, Banyuwangi, sebatang pohon kayu manis tumbuh tenang, nyaris luput dari perhatian di antara lanskap perkebunan kakao. Namun sekali mengenalinya, pohon ini mudah dibedakan, yaitu pucuk daunnya memerah, batangnya putih keabu-abuan, sementara daun tuanya hijau mengilap.
Pohon itu adalah Cinnamomum burmanni (Nees & T. Nees) Blume, salah satu tanaman rempah penting dari famili Lauraceae. Dalam bahasa Sunda, ia disebut kiamis, sebuah nama yang kemudian menjadi judul kecil dalam sejarah botani Jawa. 
Di berbagai daerah Indonesia, kayu manis memiliki banyak nama: holim; modang siak-siak dalam tradisi Batak; madang kulit manih di Minangkabau; huru mentek dan keningar dalam bahasa Jawa; kanyengar di Kangean; cingar di Bali; serta kazu manu di Flores.
Secara fisik, Cinnamomum burmanni merupakan pohon hijau sepanjang tahun yang dapat tumbuh hingga sekitar 15 meter. Daunnya tersusun berhadapan, berbentuk lonjong hingga elips. Saat muda, daun itu berwarna kemerahan seperti disapu cat tipis, lalu berubah menjadi hijau mengilap ketika menua. Bunganya kecil, berwarna kuning, dan tumbuh dalam rangkaian di ketiak daun. Bagian paling berharga justru tersembunyi, yakni lapisan dalam kulit batang yang mengandung aroma khas, hangat, manis, sekaligus tajam.

Daun, bunga dan ranting pohon kayu manis (Cinnamomum burmanni)

Nama yang Menyimpan Sejarah
Nama Cinnamomum berakar dari bahasa Yunani kinnamōmon, yang merujuk pada rempah atau kayu manis [
1Kumar, S., Kumari, R. and Mishra, S. (2019), Pharmacological properties and their medicinal uses of Cinnamomum: a review. J Pharm Pharmacol, 71: 1735-1761. https://doi.org/10.1111/jphp.13173
]. Adapun epitet burmanni berasal dari nama Johannes Burman (1707–1779), dokter dan botanis Belanda, yang namanya dilatinkan menjadi Burmannus. Burman dikenal antara lain melalui karyanya, Thesaurus zeylanicus, yang terbit pada 1737 [
2International Plant Names Index. (n.d.). Laurus burmanni Nees & T.Nees, Cinnam. Disp. 35, 57-58; t. 4 (1823). IPNI. Retrieved September 24, 2026, from https://www.ipni.org/n/464793-1
].
Spesies ini pertama kali dideskripsikan pada 1823 oleh dua botanis Jerman, Christian Gottfried Daniel Nees von Esenbeck (1776-1858) dan Theodor Friedrich Ludwig Nees von Esenbeck (1787-1837). Ketika itu, tanaman tersebut diberi nama Laurus burmanni dan dipublikasikan dalam De Cinnamomo Disputatio [
3Nees & T.Nees. ((1823). De Cinnamomo disputatio, qua hortum medieum bonnensem, feliciter instructum, rite inauguraturi res eius viris, rei herbariae studiosis, commendant. Cum tabulis septem iconographicis. Bonnae [Bonn]. https://dn721700.ca.archive.org/0/items/b22014846/b22014846.pdf
]. 
Beberapa tahun kemudian, sekitar 1825–1826, Carl Ludwig Blume (1796-1862) merevisi klasifikasinya dan memasukkannya ke dalam genus Cinnamomum. Nama baru itu dicatat dalam Bijdragen tot de flora van Nederlandsch Indië [
4Blume, C. L. (1825). Bijdragen tot de flora van Nederlandsch Indië (Issue 7, p. 284). Batavia: Ter Lands Drukkerij. https://www.biodiversitylibrary.org/page/421880
].
Blume bahkan menulis catatan habitatnya: pohon ini tumbuh di hutan pegunungan provinsi-provinsi bagian barat Pulau Jawa, berbunga pada Desember, dan dikenal dengan nama kiamis. Catatan tersebut menjadi semacam potret awal keberadaan kayu manis di Jawa, jauh sebelum tanaman ini dikenal luas sebagai komoditas perdagangan.
Sebaran alaminya membentang dari Tiongkok Selatan hingga Asia Tenggara dan wilayah Indonesia. Di Indonesia, kayu manis tumbuh dari dataran rendah hingga ketinggian sekitar 2.000 meter, meski kawasan pada ketinggian 500–1.500 meter dikenal sangat sesuai bagi pertumbuhannya. Literatur botani menyebutnya dengan banyak nama: Batavia cinnamon, Indonesian cinnamon, Indonesian cassia, dan Java cinnamon. Di Jerman ia dikenal sebagai Padang-Zimtbaum, sementara dalam bahasa Jepang disebut Jawa Nikkei.

Pohon kayu manis (Cinnamomum burmanni) di halaman belakang Cafe Cokelat di Doesoen Kakao Kedunglembu, Desa Karangharjo, Kecamatan Glenmore, Kabupaten Banyuwangi

Rempah yang Melintasi Zaman
Kayu manis termasuk rempah tua dalam sejarah peradaban manusia. Pemanfaatannya telah dikenal di Mesir sejak sekitar 3000 sebelum Masehi [
5Thomas, J., & Kuruvilla, K. M. (2012). 10 - Cinnamon. In K. V. Peter (Ed.), Handbook of Herbs and Spices (pp. 182–196). Woodhead Publishing. https://www.sciencedirect.com/science/chapter/edited-volume/abs/pii/B9780857090393500104
]. Dari kulit batangnya, manusia menemukan cara sederhana untuk mengawetkan aroma, dengan dikeringkan, digulung menjadi batang, atau ditumbuk menjadi bubuk.
Di dapur, kayu manis menjadi penyedap makanan dan bahan minuman. Aromanya memperkaya kue, hidangan berbumbu, permen, hingga minuman cokelat. Di Meksiko, rempah ini bahkan digunakan dalam pengolahan cokelat dan pemberi aroma pada produk kembang gula serta minuman beralkohol.
Nilainya tidak berhenti di meja makan. Minyak hasil penyulingan kulit batang dan oleoresinnya dimanfaatkan dalam pembuatan sabun serta parfum. Kayunya dapat digunakan sebagai bahan bangunan dan kayu bakar. Karena itu, sebatang pohon kayu manis bukan semata tanaman pekarangan, melainkan sumber pangan, aroma, energi, dan penghidupan.
Dalam pengobatan tradisional, bubuk kulit kayu dipercaya membantu meredakan mual, gangguan pencernaan disertai perut kembung, batuk, keluhan dada, diare, kolik, dan malaria. Minyaknya juga dilaporkan memiliki aktivitas antibakteri, karminatif - membantu mengurangi gas dalam saluran cerna - serta antijamur.
Sejumlah penelitian farmakologis menemukan potensi lain, antara lain aktivitas antioksidan, antiinflamasi, antitrombotik, antitumor, serta kemampuan menghambat pembentukan plak gigi dan penyakit periodontal. Dalam pengobatan tradisional, Cinnamomum burmanni juga dikaitkan dengan peredaan nyeri otot dan tulang, keseleo, memar jaringan lunak, artritis reumatik, serta upaya melancarkan sirkulasi darah [
6Al-Dhubiab B. E. (2012). Pharmaceutical applications and phytochemical profile of Cinnamomum burmannii. Pharmacognosy reviews, 6(12), 125–131. https://doi.org/10.4103/0973-7847.99946
]. Temuan-temuan itu menunjukkan potensi, bukan pengganti diagnosis atau terapi medis.
Di belakang Café Cokelat Glenmore, pohon kiamis itu mungkin hanya tampak sebagai penghias halaman. Tetapi di balik pucuk merah dan kulit batangnya yang sederhana, tersimpan sejarah panjang, yakni dari hutan pegunungan Jawa, meja makan, laboratorium, hingga perdagangan rempah dunia.
Ia adalah Cinnamomum burmanni - kayu manis Indonesia yang barangkali paling mudah dikenali setelah aromanya menguar. *** [250926]


logoblog

Thanks for reading Cinnamomum burmanni, Kiamis Si Kayu Manis

Newest
You are reading the newest post

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Sahabat Blog