Ribuan lampion berpendar perlahan menghiasi langit malam Desa Kaliploso, menjadi penutup syahdu bagi perhelatan tahunan yang dinanti. Di tengah gemerlap itu, ada bisik-bisik doa yang naik, ada tarian yang menghentak, dan ada hasil bumi yang dipersembahkan dengan penuh hormat. Kaliploso Horti Carnival (KHC) 2026 bukan sekadar karnaval; ia adalah ritual budaya, panggung seni, dan pasar ekonomi kreatif yang menyatu dalam satu semangat: "Kirim Leluhur dan Gerakan Kebudayaan serta Ekonomi Kreatif".
Berlangsung pada Ahad (06/09/2026) di Lapangan Desa Kaliploso, Kecamatan Cluring, Kabupaten Banyuwangi, acara yang telah memasuki tahun keenam ini berhasil memadukan nuansa sakral dengan hiruk-pikuk kebersamaan warga.
![]() |
| Staf Ahli Hukum dan Pemerintahan berpose bersama Forkompinda Kabupaten Banyuwangi, Camat Cluring, Kades Kaliploso, dan talenta Banyuwangi Ethno Carnival |
Menghormati Leluhur, Merayakan Hasil Bumi
Sebelum sorak-sorai dan musik memecah keheningan malam, KHC 2026 dibuka dengan khidmat melalui upacara adat selametan. Momen ini menjadi inti dari tema "Kirim Leluhur", di mana warga dari berbagai Rukun Warga (RW) datang membawa ubarampe tradisi seperti kue apem dan ayam ingkung.
"Kita ingin mengenalkan satu budaya yang dulu dialami oleh para generasi di atas kita, agar generasi sekarang mengenal dan berkenan untuk nguri-uri atau melestarikan tradisi tersebut," ujar Kepala Desa Kaliploso, Rudi Hartono, S.Th.I., menjelaskan filosofi di balik gelaran ini.
Setelah doa bersama dan pembagian makanan tradisional, suasana berubah menjadi semarak. Parade belasan talent dari Banyuwangi Ethno Carnival (BEC) membuka panggung hiburan, disusul dengan pertunjukan tari Nusantara yang menampilkan busana adat dari Sabang sampai Merauke. Penampilan ini melibatkan lintas generasi - dari anak-anak hingga lansia - menunjukkan bahwa budaya adalah milik semua usia.
![]() |
| Selametan Ngujubne yang diikuti semua RW yang ada di Desa Kalploso |
Lebih dari Sekadar Pesta: Mesin Ekonomi Kreatif
Jika "Kirim Leluhur" menjadi fondasi spiritual, maka "Gerakan Kebudayaan dan Ekonomi Kreatif" adalah motor penggerak yang membuat KHC terus berkembang. Karnaval ini mengubah hasil pertanian menjadi karya seni. Tumpeng-tumpeng raksasa berisi sayur mayur dan buah-buahan - mulai dari padi, jagung, terong, tomat, hingga nanas dan pisang - dihias dengan apik di area panggung, menjadi simbol syukur sekaligus daya tarik visual yang memukau.
Kreativitas warga tidak berhenti di situ. Sejak tahun 2018, KHC telah dikenal dengan arak-arakan kostum unik yang seluruh bahannya terbuat dari dedaunan, sayuran, dan buah-buahan hasil panen sendiri. Ini adalah wujud nyata bahwa pertanian dan seni bisa berkolaborasi.
![]() |
| Treatikal SDN 3 Kaliploso menjadi penutup syahdu KHC 2026 |
Pemerintah Kabupaten Banyuwangi pun memberikan perhatian serius terhadap potensi ini. Staf Ahli Bupati Bidang Hukum dan Pemerintahan, Alief Rachman Kartiono, yang hadir mewakili Bupati, memberikan apresiasi tinggi.
"Kegiatan ini kalau tidak salah setiap tahun temanya berubah. Ini luar biasa... sehingga nanti bisa kita upgrade dan masuk dalam rangkaian Banyuwangi Festival," ujarnya.
Lebih lanjut, Alief menegaskan bahwa Desa Kaliploso merupakan pusat komoditas hortikultura di Banyuwangi Selatan. Pemerintah mendorong para petani lokal agar tidak hanya menjadi produsen, tetapi juga mampu mengemas dan memasarkan produk secara digital hingga menembus pasar ekspor . Dukungan ini sejalan dengan harapan agar KHC bisa menjadi lokomotif peningkatan ekonomi desa, terutama bagi para pelaku UMKM yang turut meramaikan acara.
Sebagai penutup, suasana sakral dan meriah menyatu dalam tradisi pelepasan puluhan lampion ke udara. Masyarakat bersama tamu undangan melepas lampion, diikuti dengan tradisi mengambil hasil pertanian yang telah disusun dalam tumpeng. Tradisi ini menjadi simbol harapan dan keberkahan yang dilepas ke langit.
KHC 2026 di Desa Kaliploso bukan hanya sebuah acara tahunan. Ia adalah model bagaimana sebuah desa bisa melestarikan tradisi leluhur, menggerakkan kebudayaan, sekaligus membuka peluang ekonomi baru. Di sini, petani adalah seniman, UMKM adalah pahlawan ekonomi, dan seluruh warga adalah pelaku utama dalam menjaga identitas budaya. *** [070926]





Tidak ada komentar:
Posting Komentar