Minggu, September 27, 2026

Luffa acutangula: Gambas, Sayur Bertekstur Spon yang Kaya Manfaat

  Budiarto Eko Kusumo       Minggu, September 27, 2026
Di sebuah ladang di seberang rumah Kader Restining Ayem, Dusun Krajan RT 03 RW 01, Desa Purwodadi, Kecamatan Gambiran, Kabupaten Banyuwangi, beberapa orang tengah sibuk memanen gambas. Keranjang dan karung mulai terisi buah lonjong kehijauan yang menggantung di antara sulur-sulur tanaman merambat. 
Ladang itu milik warga setempat, namun sedang disewa oleh seorang pensiunan Kantor Camat Gambiran asal Desa Bangorejo, desa tetangga. Di tanah sewaan itulah gambas tumbuh subur, menjadi pemandangan yang menarik ketika saya menghadiri pemeriksaan spirometri kelima di rumah Kader Restining.
Gambas, atau dalam bahasa ilmiah Luffa acutangula (L.) Roxb., adalah tanaman merambat tropis yang tumbuh cepat dan agresif. Sulur melingkarnya mampu menjangkau penyangga dengan lincah, sementara bunga kuning uniseksual bermunculan di sepanjang batang. Buahnya berbentuk lonjong, berwarna kehijauan saat muda, dan berubah menjadi sewarna jerami ketika matang. Panjangnya bisa mencapai sekitar 30 cm.
 
Pemilik sedang memanen gambas (Luffa acutangula) di ladang yang disewanya di Dusun Krajan RT 03 RW 01 Desa Purwodadi, Kecamatan Gambiran, Kabupaten Banyuwangi

Namun, daya tarik utama gambas bukan sekadar penampilannya. Di dalam buahnya terdapat jaringan pembuluh yang saling bertautan rapat, menyerupai tekstur spons setelah kulit, daging buah, dan bijinya dibuang [
1Britannica Editors (2026, August 31). loofah. Encyclopedia Britannica. https://www.britannica.com/plant/loofah
]. Jaringan kompleks inilah yang membuat gambas dikenal sebagai tanaman dengan buah berspons.
Nama genus Luffa berasal dari bahasa Arab lūfa (لُوفَة), yang merujuk pada tanaman dengan karakteristik spon tersebut. Istilah ini telah dideskripsikan dalam tulisan-tulisan Mesir kuno. Nama Luffa kemudian diperkenalkan ke dalam nomenklatur botani Barat oleh ahli botani Johann Vesling (1598–1649), yang mengunjungi Mesir pada akhir tahun 1620-an [
2Kusumo, B. E. (2025, July 10). Luffa aegyptiaca, Tanaman Blustru Yang Merambat Dan Berbunga Kuning. BaEK. https://budiartoekokusumo.blogspot.com/2025/07/luffa-aegyptiaca-tanaman-blustru-yang.html
]. 
Adapun julukan khusus acutangula berasal dari bahasa Latin dari gabungan kata sifat acutus, a, um yang berarti tajam atau runcing, dan kata benda angulus yang berarti sudut atau titik. Julukan ini mengacu pada buah gambas yang biasanya memiliki penampang melintang berbentuk segi empat dengan sudut-sudut menonjol [
3Puccio, P. (n.d.). Barringtonia acutangula (M. Beltramini, Trans.). Monaco Nature Encyclopedia. Retrieved September 27, 2026, from https://www.monaconatureencyclopedia.com/barringtonia-acutangula-2/?lang=en
].

Buah gambas (Luffa acutangula) bergelantungan di pohon yang merambat di anjang-anjang

Spesies ini pertama kali dideskripsikan oleh botanis Swedia Carolus Linnaeus (1707–1778) pada tahun 1753 sebagai Cucumis acutangulus, dan dipublikasikan dalam Species Plantarum [
4Linné, Carl von, & Salvius, Lars. (1753). Caroli Linnaei ... Species plantarum: exhibentes plantas rite cognitas, ad genera relatas, cum differentiis specificis, nominibus trivialibus, synonymis selectis, locis natalibus, secundum systema sexuale digestas... (Tomus II). Holmiae: Impensis Laurentii Salvii. https://www.biodiversitylibrary.org/page/358580
]. Baru pada tahun 1832, botanis dan dokter asal Skotlandia William Roxburgh (1751–1815) merevisi dan mengklasifikasikan spesies tersebut ke dalam genus Luffa, lalu dipublikasikan dalam Flora Indica [
5Roxburgh, William, & Carey, William. (1832). Flora indica, or, Descriptions of Indian plants (Vol. 3). Serampore: Printed for W. Thacker. https://www.biodiversitylibrary.org/page/793289
]. Sejak itu, nama Luffa acutangula melekat pada tanaman yang akrab di dapur Asia ini.
Gambas memiliki banyak nama umum di berbagai belahan dunia. Di Inggris dikenal sebagai angled loofah, Chinese okra, dishcloth gourd, atau East Indian okra. Di Prancis disebut papangaye atau torchon, di Spanyol esponja atau servilleta, di Hindi tortui, di Benggala jhinga. Di Indonesia sendiri, tanaman ini dikenal sebagai gambas atau oyong. Sementara di China, namanya guǎng dōng sī guā. 
Gambas termasuk dalam famili Cucurbitaceae, suku labu-labuan. Wilayah asalnya adalah anak benua India, mencakup Pakistan, India, Sri Lanka, dan Bangladesh. Dari sana, gambas diperkenalkan ke Asia Tengah, Indochina, Tiongkok, Senegal, Mauritania, Burkina Faso, Chad, Zaire, Mozambik, Amerika Serikat, Karibia [
6EPPO Database. (n.d.). Luffa acutangula(LUFAC). EPPO. Retrieved September 27, 2026, from https://gd.eppo.int/taxon/LUFAC
], hingga akhirnya menyebar luas ke banyak negara lain.

Bunga gambas (Luffa acutangula)

Sebagai tanaman merambat tropis, gambas banyak dibudidayakan di Asia. Tanaman ini dihargai karena buahnya yang lunak dan kaya akan serat pangan, vitamin, serta mineral esensial. Kandungan gizinya berkontribusi signifikan terhadap kebutuhan gizi manusia.
Buah gambas umum dikonsumsi sebagai sayuran dan memiliki rasa agak manis setelah dimasak. Teksturnya ringan, mudah dicerna, dan rendah kalori, sehingga cocok bagi penderita diabetes. Dalam pengobatan tradisional, gambas atau oyong dikenal memiliki khasiat diuretik, pencahar, ekspektoran, dan hipoglikemik. 
Kulit buahnya yang sering dianggap limbah ternyata merupakan produk sampingan bernilai gizi tinggi karena kaya serat pangan. Kulit gambas kerap diolah menjadi chutney yang bermanfaat bagi kesehatan. Baik daging buah maupun kulitnya dapat dimanfaatkan dalam berbagai olahan kuliner.

Daun gambas (Luffa acutangula)

Selain nilai gizinya, gambas mengandung beragam fitokimia, termasuk saponin, flavonoid, sapogenin, luffangulin, asam oleanolat, dan kukurbitasin B. Senyawa-senyawa ini berkontribusi pada potensi terapeutiknya. 
Tanaman ini juga merupakan sumber vitamin esensial seperti riboflavin (B2), niasin (B3), vitamin C, dan karoten, serta mengandung sejumlah kecil mineral seperti kalsium, fosfor, dan zat besi. Semua itu mendukung kesehatan secara menyeluruh. Penelitian farmakologis telah menunjukkan khasiat gambas sebagai hepatoprotektor, antidiabetes, antioksidan, antijamur, dan abortifasien [
7Shailaja, G., Pagadala, S. P., Mandava, H., Dulam, S., Kadarla, C., Chittem, V. P., Shaik, N. M., & Rajneesh, K. (2026). Performance and stability of ridge gourd (Luffa acutangula (L.) Roxb. var. Arka Prasan) under integrated nutrient management in Telangana. Plant Science Today, 13(sp1). https://doi.org/10.14719/pst.12017
]. 
Konsumsi rutin gambas dilaporkan dapat meningkatkan kekebalan tubuh, menurunkan suhu tubuh, membersihkan darah, serta berfungsi sebagai agen detoksifikasi alami. Berkat kandungan kalori yang rendah dan serat yang tinggi, gambas juga dianggap sebagai komponen diet ideal untuk pengendalian berat badan.

Batang gambas (Luffa acutangula)

Dalam beberapa tahun terakhir, meningkatnya kesadaran konsumen akan keamanan pangan dan kesehatan lingkungan telah mendorong lonjakan permintaan terhadap sayuran hasil pertanian organik. 
Tren pasar ini menghadirkan peluang besar untuk mengembangkan dan mempromosikan praktik pertanian berkelanjutan yang tidak lagi bergantung pada input sintetis. Gambas, dengan segala keunggulannya, berada di garis depan sayuran tropis yang ramah lingkungan dan bernilai gizi tinggi. 
Dari ladang di Banyuwangi hingga meja makan di berbagai negara, Luffa acutangula terus membuktikan diri sebagai tanaman serbaguna, sebagai sayur yang lezat, sumber serat, sekaligus warisan botani yang kaya makna. *** [270926]


logoblog

Thanks for reading Luffa acutangula: Gambas, Sayur Bertekstur Spon yang Kaya Manfaat

Previous
« Prev Post

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Sahabat Blog