Perjalanan dari Pos Resor Pancur menuju Gua Istana dalam Kawasan Taman Nasional Alas Purwo (TNAP) memang tak pernah membosankan bagi mata yang jeli. Di antara rimbun pepohonan, sebuah batang tumbang yang telah lama lapuk menyimpan harta karun kecil yang kerap terabaikan.
Di sanalah, tak jauh dari kerabatnya Ganoderma applanatum yang kokoh, tumbuh sekelompok jamur bracket dengan tudung berwarna putih krem yang menempel di kulit kayu. Sabtu (22/09) itu, alam seakan sedang memamerkan salah satu rahasianya yang paling halus, yaitu Trametes pubescens.
Jamur ini bukanlah primadona yang mencolok. Tudungnya berwarna krem pucat hingga cokelat kekuningan, dengan tepi yang tidak rata melainkan bergelombang. Tidak ada zona warna kontras yang mencolok pada permukaannya - sebuah pembeda penting dari sebagian besar spesies Trametes lain yang kerap menyerupai ekor kalkun (turkey tail) dengan pola lingkaran yang jelas.
Yang membuatnya istimewa justru ada pada sentuhan di mana permukaan atasnya ditumbuhi bulu-bulu halus yang terasa seperti beludru, terutama pada tubuh buah yang masih muda.
Nama ilmiahnya pun bercerita. Genus Trametes berasal dari awalan bahasa Latin tram yang berarti "tipis", dengan akhiran -etes yang bermakna "sesuatu yang bersifat demikian". Isyaratnya jelas, yakni tubuh buah jamur dalam genus ini memang tipis [
1Trametes pubescens, a bracket fungus. (n.d.). First-Nature. Retrieved October 6, 2026, from https://www.first-nature.com/fungi/trametes-pubescens.php
]. ![]() |
| Trametes pubescens di Taman Nasional Alas Purwo, Banyuwangi |
Sedangkan julukan pubescens berasal dari kata Latin pubescere, yang berarti "mencapai kedewasaan" atau "mulai ditumbuhi bulu halus", dari akar kata pubes yang berarti bulu halus [
2Plant Reference. (n.d.). Pubescens. Plant Reference. Retrieved October 6, 2026, from https://www.plantref.org/glossary/pubescens
]. Nama itu merujuk tepat pada bulu-bulu halus yang menutupi permukaan atas tubuh buah muda spesies ini.Sejarah taksonominya pun tak kalah menarik. Jamur ini pertama kali dideskripsikan secara ilmiah pada tahun 1803 oleh ahli mikologi asal Denmark, Heinrich Christian Friedrich Schumacher (1757–1830), yang memberinya nama Boletus pubescens - pada masa ketika segala sesuatu yang memiliki pori-pori ditempatkan dalam genus Boletus.
Baru pada tahun 1939, ahli mikologi asal Ceko, Albert Pilát (1903–1974), memindahkannya ke genus yang lebih tepat, yaitu Trametes. Sejak itu, nama Trametes pubescens (Schumach.) Pilát melekat pada jamur mungil ini.
Di berbagai belahan dunia, ia dikenal dengan nama-nama umum lainnya. Orang Inggris menyebutnya white-rot fungus; orang Norwegia mengenalnya sebagai fløyelskjuke atau snøsilkekjuke; orang Swedia memanggilnya sammetsticka; orang Finlandia menyapanya nukkavyökääpä; orang Denmark menamainya dunet læderporesvamp; orang Jerman menyebutnya samtige Tramete; orang Belanda memanggilnya fluweelelfenbankje - yang secara harfiah berarti "jamur kayu bertekstur beludru", sebuah nama yang terdengar seperti dalam dongeng.
![]() |
| Batang sebuah pohon yang telah tumbang dan lapuk di Taman Nasional Alas Purwo yang ditumbuhi jamur Trametes pubescens |
Orang Prancis menyebutnya coriole pubescent atau tramète pubescente; orang Spanyol memanggilnya poliporo pubescente; orang Thailand mengenalnya sebagai h̄ĕd h̄îng n̂ảtāl k̄hxb k̄hāw; orang China menyebutnya róngmáo shuān jūn; dan orang Jepang menamainya yakifutake.
Meski kecil dan tipis, Trametes pubescens adalah pengurai kayu mati dari pohon berkayu keras yang tersebar luas hampir di semua benua. Permukaan porinya berubah menjadi kekuningan seiring bertambahnya usia, dengan 3–5 pori bersudut per milimeter [
3Trametes pubescens (MushroomExpert.Com). (n.d.). MushroomExpert. Retrieved October 6, 2026, from https://www.mushroomexpert.com/trametes_pubescens.html
].Seperti kerabatnya Ganoderma applanatum, jamur ini tidak dapat dimakan (unedible). Namun di Jepang, jamur bracket ini kabarnya telah diresepkan sebagai terapi pendamping untuk pengobatan kanker usus besar [
1Trametes pubescens, a bracket fungus. (n.d.). First-Nature. Retrieved October 6, 2026, from https://www.first-nature.com/fungi/trametes-pubescens.php
]. Di negara-negara Asia, Trametes pubescens telah lama digunakan dalam pengobatan tradisional untuk mengatasi berbagai penyakit seperti kanker dan gangguan saluran pencernaan. Ekstrak tubuh buahnya terbukti memiliki aktivitas antidiabetes, antidemensia, dan antiinflamasi yang berkaitan dengan sifat antioksidannya [4Im, K. H., Nguyen, T. K., Choi, J., & Lee, T. S. (2016). In Vitro Antioxidant, Anti-Diabetes, Anti-Dementia, and Inflammation Inhibitory Effect of Trametes pubescens Fruiting Body Extracts. Molecules (Basel, Switzerland), 21(5), 639. https://doi.org/10.3390/molecules21050639
].Yang tak kalah menakjubkan, Trametes pubescens dikenal sebagai jamur pelapuk putih yang mampu memproduksi lakase - enzim yang sangat berguna dalam industri - dengan adanya ion tembaga. Ia memiliki ketahanan yang kuat terhadap logam berat, dan telah dilaporkan penggunaannya dalam pengolahan air limbah.
![]() |
| Tudung jamur Trametes pubescens berwana putih krem dengan pelipir berlekuk atau bergelombang |
Toleransinya yang luar biasa terhadap kadmium (Cd) membuatnya diteliti secara khusus. Dalam kultur bersama dengan bibit padi, terbukti bahwa kolonisasi Trametes pubescens mampu secara signifikan mengurangi toksisitas Cd dan memberikan perlindungan bagi bibit padi tersebut [
5Liu J, Fu P, Wang L, Lin X and Enayatizamir N (2022) A fungus (Trametes pubescens) resists cadmium toxicity by rewiring nitrogen metabolism and enhancing energy metabolism. Front. Microbiol. 13:1040579. doi: 10.3389/fmicb.2022.1040579
]. Bayangkan, jika sebuah jamur kecil berbulu halus yang tumbuh di batang lapuk, ternyata menyimpan harapan bagi pertanian di tanah yang tercemar.Di balik penampilannya yang sederhana dengan tudung krem bergelombang, tepi berlekuk, dan permukaan beludru yang lembut, Trametes pubescens adalah bukti bahwa alam tidak pernah kehabisan cara untuk mengejutkan.
Ia mungkin bukan jamur yang akan membuat orang berhenti dan berselfie ria, tetapi ia adalah pekerja keras yang tak kenal lelah sebagai pengurai kayu, penghasil enzim, penawar racun, dan mungkin suatu hari nanti, sekutu bagi petani yang tanahnya tercemar.
Dari batang tumbang di perjalanan menuju Gua Istana, si krem berbulu halus ini mengingatkan kita bahwa keajaiban sering kali datang dalam bentuk yang paling sederhana, dan paling lembut. *** [061026]




Tidak ada komentar:
Posting Komentar