Minggu, Oktober 18, 2026

Viverricula indica, Musang Rase Berbulu Indah

  Budiarto Eko Kusumo       Minggu, Oktober 18, 2026
Pernahkah Anda membayangkan bertemu satwa liar di ruang tamu seseorang? Senin (12/10), di Desa Sarimulyo, Kecamatan Cluring, Kabupaten Banyuwangi, saya mengalaminya. Saat menyaksikan jalannya pemeriksaan ulang spirometri perdana, saya diajak ngopi oleh Kepala Dusun atau Kamituwo Pandansari Agus Salim, sang pemilik rumah. Di ruang tamunya, dua musang rase berbulu indah muncul, dan membuat percakapan kami berhenti sejenak.
Mereka adalah dua musang rase peliharaan Kamituwo Agus Salim. Bulu mereka berwarna cokelat, kuning, hingga oranye kecokelatan. Pola cincin hitam-putih menghiasi lehernya, sementara bintik-bintik kecil di punggung menyatu membentuk enam sampai delapan garis gelap yang menjalar ke arah ekor. Ekor panjangnya berbelang hitam-putih, seperti dibuat untuk menyembunyikan diri di antara semak dan bayangan.
Dalam sekejap, kopi yang tadinya menjadi alasan untuk menunggu, berubah menjadi pintu menuju cerita lain, yaitu cerita tentang hewan kecil yang hidup dekat manusia, tetapi sering luput dari perhatian.
Nama ilmiah musang rase adalah Viverricula indica (É. Geoffroy Saint-Hilaire, 1803). Nama genusnya, Viverricula, berasal dari bahasa Latin dari gabungan kata viverra berarti musang dan akhiran -cula berarti kecil. Secara harfiah, Viverricula bermakna “musang kecil” [
1Merriam-Webster. (n.d.). Viverricula. In Merriam-Webster.com dictionary. Retrieved October 16, 2026, from https://www.merriam-webster.com/dictionary/Viverricula
] - penamaan yang tepat karena tubuhnya lebih kecil dibanding kerabatnya dalam genus Viverra yang umumnya lebih besar.
Sedangkan, julukan khusus indica berasal dari kata Latin indicus, -a, -um, yang berarti “India” [
2Mahoney, K. D. (n.d.). Latin Definition for: Indicus, Indica, Indicum (ID: 23402) - Latin Dictionary and Grammar Resources - Latdict. Latin-Dictionary. Retrieved October 16, 2026, from https://latin-dictionary.net/definition/23402/Indicus-Indica-Indicum
]. Nama itu merujuk pada asal geografis utama spesies ini serta penyebarannya yang membentang di anak benua India hingga Asia Selatan dan Asia Tenggara.

Musang rase (Viverricula indica) peliharaan Kepala Dusun Pandansari, Desa Sarimulyo, Kecamatan Cluring, Kabupaten Banyuwangi

Spesies ini pertama kali dideskripsikan oleh naturalis Prancis Étienne Geoffroy Saint-Hilaire (1772–1844) pada 1803 sebagai Civetta indica. Kemudian, ketika Brian Houghton Hodgson (1800–1894) menetapkan genus Viverricula pada 1838, spesies itu ditempatkan ke dalam genus baru tersebut.
Itulah sebabnya nama penulis dan tahunnya ditulis dalam tanda kurung, yaitu Viverricula indica (É. Geoffroy Saint-Hilaire, 1803). Dalam nomenklatur zoologi, tanda kurung menandakan bahwa spesies ini awalnya dideskripsikan dalam genus berbeda, lalu dipindahkan ke genus yang sekarang. Geoffroy Saint-Hilaire tetap diakui sebagai pendeskripsi pertamanya.
Musang rase juga dikenal dengan banyak nama. Dalam bahasa Inggris disebut lesser oriental civet, rasse, atau small Indian civet. Orang Jerman menyebutnya kleine Indische Zibetkatze, orang Prancis menyebutnya civette indienne atau civette rasse, sementara di Indonesia ia dikenal sebagai musang rase atau rase.
Musang rase dikenal sebagai hewan yang sangat adaptif. Sebarannya membentang dari Tiongkok bagian selatan dan tengah, melintasi Indochina, hingga India. Ke selatan, keberadaannya mencapai Indonesia (Sumatra, Jawa, dan Bali). Spesies ini bahkan telah diperkenalkan ke Zanzibar, Madagaskar, Komoro, Sokotra, serta beberapa pulau di Filipina. 

Musang rase (Viverricula indica) sedang melihat gerak-gerik cicak di dinding ruang tamu Kepala Dusun Pandansari

Thomas Horsfield (1773–1859), dokter medis dan naturalis Amerika Serikat yang banyak meneliti flora dan fauna di Indonesia, terutama Pulau Jawa, pernah menemukan musang rase dari Jawa dan menamai Viverricula rasse. Nama itu kini dianggap sebagai varietas dari Viverricula indica [
3Small Indian civet (Viverricula indica). (n.d.). Thai National Parks. Retrieved October 16, 2026, from https://www.thainationalparks.com/species/small-indian-civet
].
Habitatnya pun beragam, seperti hutan, semak, padang rumput, hingga kawasan tepi sungai. Mereka lebih menyukai area terbuka dan jarang ditemukan di hutan lebat dengan kanopi rapat.
Di banyak tempat, musang rase hidup sangat dekat dengan manusia. Mereka kadang terlihat memangsa unggas, bersembunyi di saluran pembuangan, berlindung di bangunan tambahan rumah, atau berkeliaran di sekitar tempat pembuangan sampah. Kemampuan beradaptasi itulah yang membuatnya tetap bertahan di tengah perubahan lanskap akibat aktivitas manusia.
Musang rase umumnya bersifat soliter dan nocturnal. Ia lebih aktif saat malam, menjelajah sendirian dalam gelap, mencari makan, dan kembali bersembunyi sebelum pagi benar-benar terang.
Kehadiran musang rase dalam kehidupan manusia tidak berhenti pada pertemuan visual di ruang tamu. Dalam kajian etnozoologi, masyarakat Desa Traspur di Assam, India, diketahui memburu musang rase untuk diambil dagingnya, sementara kulitnya diolah menjadi obat.
Kelenjar musang rase juga menghasilkan zat yang dikenal sebagai musk atau civet. Zat ini dilaporkan banyak digunakan dalam pengobatan tradisional maupun parfum oriental. Xavier & Balakrishnan (1999) mencatat penggunaan tersebut [
4Xavier, F., & Balakrishnan, M. (1999). The ultrastructure of the civet gland in Small Indian Civet (Viverricula indica). Zoos’ Print Journal, 14(11), 147–150. https://doi.org/10.11609/jott.zpj.14.11.147-50.
], sementara Hussain & Tynsong (2021) menceritakan bahwa musang rase telah digunakan sebagai obat asma dalam praktik pengobatan tradisional [
5Hussain, J. F., & Tynsong, H. (2021). Review: Ethno-zoological study of animals-based medicine used by traditional healers of North-east India. Asian Journal of Ethnobiology, 4(1). https://doi.org/10.13057/asianjethnobiol/y040101
].

Musang rase (Viverricula indica) sedang berisitirahat usai bermain dengan saudaranya

Namun, di balik nilai ekonomi dan budaya itu, ada sisi lain yang perlu dipikirkan, yakni hubungan manusia dengan satwa liar tidak selalu berpihak pada kelestarian. Ketika hewan semakin dekat dengan permukiman, konflik bisa muncul, terutama ketika musang rase dianggap mengganggu unggas peliharaan.
Di sinilah edukasi menjadi penting. Memahami bahwa musang rase adalah bagian dari ekosistem, bukan sekadar hewan pengganggu, dapat mengubah cara masyarakat melihatnya.
Ketika dua musang rase peliharaan Agus Salim muncul di ruang tamu, yang terlihat bukan hanya bulu indah atau ekor berbelang. Yang terlihat adalah bukti bahwa satwa liar masih hidup berdampingan dengan manusia, bahkan di tengah desa yang ramai aktivitas.
Mereka mungkin tidak menyadari bahwa kehadiran mereka sedang diamati. Bagi mereka, itu hanyalah bagian dari rutinitas, seperti mencari makanan, mencari tempat aman, lalu kembali bersembunyi.
Namun bagi saya, pertemuan singkat itu menjadi pengingat. Di balik kesibukan pemeriksaan kesehatan manusia, alam juga sedang “memeriksa” dirinya - menunjukkan bahwa masih ada ruang bagi satwa liar untuk bertahan, asalkan manusia mau memberi ruang pula.
Musang rase (Viverricula indica) memang kecil. Tubuhnya seukuran kucing, dan suaranya mungkin tak terdengar. Tetapi justru dari makhluk kecil seperti inilah kita belajar bahwa keanekaragaman hayati tidak selalu hadir dalam bentuk yang megah. Kadang, ia hadir dalam wujud dua musang bertubuh ramping yang berlalu di ruang tamu, meninggalkan aroma kopi, cerita, dan rasa kagum. *** [181026]


logoblog

Thanks for reading Viverricula indica, Musang Rase Berbulu Indah

Previous
« Prev Post

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Sahabat Blog