Rabu, November 04, 2026

Junonia orithya, Kupu-Kupu Solek Biru yang Atraktif

  Budiarto Eko Kusumo       Rabu, November 04, 2026
Ada keindahan yang tidak perlu dicari jauh-jauh. Terkadang, ia hadir begitu saja di antara rerumputan, bunga liar, dan hamparan tanah terbuka. Seperti kupu-kupu berukuran sedang yang dua kali saya jumpai saat menghadiri pemeriksaan ulang spirometri di Pendopo Kalirejo, Dusun Kalirejo RT 02 RW 07, Desa Kaliploso, Kecamatan Cluring, Kabupaten Banyuwangi. Namanya kupu-kupu solek biru (Junonia orithya), serangga bersayap indah yang penampilannya seolah mengenakan busana bermotif rumit.
Pertemuan pertama terjadi pada Sabtu, 24 Oktober, kemudian kembali terulang pada Senin, 26 Oktober. Dua kesempatan itu menghadirkan pemandangan serupa, yaitu seekor kupu-kupu solek biru terbang dengan kecepatan sedang, sesekali melakukan gerakan spiral ketika melayang lebih tinggi. Di tengah aktivitas siang hari, ia tampak berkeliling di sekitar bunga-bunga kecil, sebelum akhirnya hinggap dan berjemur dengan kedua sayap terbentang penuh.
Di lahan kosong di samping pendopo, kupu-kupu itu bahkan terlihat mengisap nektar bunga rondo mopol (Tridax procumbens). Pemandangan sederhana, tetapi cukup untuk membuat mata sejenak berpaling dari urusan pemeriksaan kesehatan.



Keindahan di Balik Sepasang Sayap
Daya tarik utama Junonia orithya terletak pada corak sayapnya. Bagian atas sayap menampilkan perpaduan warna cokelat beludru, biru langit, kuning pucat, serta bercak-bercak menyerupai mata berwarna oranye. Sementara itu, bagian bawahnya dihiasi kombinasi kuning pucat dan cokelat dengan pola mata palsu yang senada.
Bukan sekadar ornamen, bercak menyerupai mata tersebut merupakan salah satu mekanisme pertahanan diri. Pola mata palsu atau eyespots dapat mengecoh predator, seperti burung dan reptil kecil, dengan memberikan kesan bahwa kupu-kupu memiliki ukuran lebih besar atau bagian tubuh yang mengancam. Sebuah strategi alam yang menarik di mana keindahan sekaligus menjadi perlindungan.
Kupu-kupu ini termasuk famili Nymphalidae, ordo Lepidoptera, dan kelas Insecta. Dalam bahasa Inggris, ia dikenal dengan beberapa nama, antara lain blue argus, blue pansy, eyed pansy, dan ox-eyed pansy. Sebutan lokalnya di Indonesia adalah kupu-kupu solek biru.



Nama yang Menyimpan Kisah Mitologi
Di balik nama ilmiahnya, tersimpan kisah yang tak kalah menarik. Nama genus Junonia memiliki kaitan dengan mitologi Romawi. Salah satu tafsir menghubungkannya dengan Juno, dewi tertinggi dalam mitologi Romawi, istri Jupiter (Zeus), sekaligus pelindung pernikahan dan kaum perempuan. Akhiran -ia dapat dimaknai sebagai sesuatu yang berkaitan atau menjadi milik Juno.
Tafsiran lainnya mengaitkan nama tersebut dengan Junonius, yang berhubungan dengan burung merak [
1Merriam-Webster. (n.d.). Junonia. In Merriam-Webster.com dictionary. Retrieved November 3, 2026, from https://www.merriam-webster.com/dictionary/junonia
], satwa yang identik dengan keindahan dan pola menyerupai mata pada bulunya. Kemiripan pola itulah yang dianggap mencerminkan corak sayap kupu-kupu dalam genus Junonia.
Sementara itu, julukan spesifik orithya berakar dari kisah Orithyia dalam mitologi Yunani. Ia adalah seorang putri yang kemudian menjadi istri Boreas, Dewa Angin Utara. Menurut legenda, Orithyia diculik Boreas dari tepi Sungai Ilissos dekat Athena dan dibawa ke Thrake. Di sana, ia tinggal bersama sang dewa di Gunung Haimos dan kemudian dikenal sebagai ibu Khione, Dewi Salju.
Nama Orithyia juga memiliki makna yang berkaitan dengan pegunungan dan angin. Ia diyakini berhubungan dengan gambaran dewi angin pegunungan yang dingin [
2ORITHYIA (Oreithyia) - Wind Nymph of Greek Mythology. (n.d.). Theoi. Retrieved November 3, 2026, from https://www.theoi.com/Nymphe/NympheOreithyia1.html
]. Penggunaan nama-nama tokoh mitologi untuk menamai serangga menjadi bagian menarik dari tradisi penamaan dalam dunia entomologi.



Perjalanan Panjang Sebuah Nama Ilmiah
Kisah taksonomi Junonia orithya bermula pada 1758. Saat itu, naturalis Swedia Carolus Linnaeus (1707–1778) pertama kali mendeskripsikan spesies ini dengan nama Papilio orithya. Dalam perjalanan klasifikasinya, kupu-kupu tersebut sempat menggunakan nama Precis orithyia pada 1994, sebelum akhirnya ditempatkan dalam genus Junonia pada 2007 [
3WILLIAMS, M.C., DESLOGES, T., NOSS, A., & DOBSON, J. (eds.) 2026. Afrotropical Butterflies: A Lepidopterists’ Society of Africa Digital Encyclopaedia. Available at: https://metamorphosis.org.za/?p=articles&s=atb
].
Nama ilmiah yang diterima hingga sekarang adalah Junonia orithya (Linnaeus, 1758). Tanda kurung yang mengapit nama penemu dan tahun deskripsi memiliki arti khusus dalam tata nama zoologi. Penanda tersebut menunjukkan bahwa spesies ini pertama kali dideskripsikan dengan nama genus berbeda dari genus yang digunakan saat ini.



Penghuni Kawasan Tropis yang Gemar Bertualang
Kupu-kupu solek biru memiliki wilayah persebaran cukup luas di kawasan tropis Dunia Lama, meliputi Afrika sub-Sahara, Jazirah Arab, Asia Selatan, Asia Tenggara, hingga Australia [
4Lukhtanov, V. A., Pazhenkova, E. A., & Novikova, A. V. (2016). Mitochondrial chromosome as a marker of animal migratory routes: DNA barcoding revealed Asian (non-African) origin of a tropical migrant butterfly Junonia orithya in south Israel. Comparative Cytogenetics, 10(4), 671–677. https://doi.org/10.3897/compcytogen.v10i4.11085
]. Spesies ini juga dikenal memiliki kemampuan melakukan migrasi jarak jauh.
Di Indonesia, catatan pengamatannya telah mencapai 1.179 rekaman yang tersebar di 32 provinsi, dengan catatan paling awal pada 1904. Angka tersebut memperlihatkan bahwa kupu-kupu ini bukan penghuni langka dalam lanskap keanekaragaman hayati Nusantara [
5Biodiversitas Nusantara. (n.d.). Junonia orithya (Junonia orithya) — Biodiversitas Nusantara | Biodiversitas Nusantara. Biodiversitas Nusantara. Retrieved November 4, 2026, from https://www.gbif.co.id/spesies/junonia-orithya
].
Dalam siklus hidupnya, kupu-kupu solek biru berkembang biak dengan bertelur atau ovipar. Betina meletakkan telur satu per satu pada daun tanaman inang. Telurnya berwarna kehijauan, berbentuk agak bulat dengan bagian atas tumpul dan memiliki tonjolan-tonjolan memanjang pada permukaannya.
Setelah menetas, larva memanfaatkan daun muda dan tunas rumput Israel (Asystasia gangetica subsp. micrantha) sebagai sumber makanan. Tumbuhan ini lazim ditemukan di lahan terbuka, sehingga kawasan dengan vegetasi semacam itu dapat menjadi bagian penting dari habitat dan siklus kehidupannya.



Keindahan Kecil, Makna Besar bagi Alam
Kehadiran kupu-kupu solek biru bukan hanya memperkaya pemandangan. Seperti kupu-kupu lainnya, aktivitasnya mengunjungi bunga turut membantu proses penyerbukan. Keberadaannya juga menjadi salah satu bagian dari jaring-jaring kehidupan sekaligus dapat memberikan petunjuk mengenai kondisi lingkungan tempatnya berkembang.
Menariknya, hubungan manusia dengan kupu-kupu ini tidak hanya tercatat dalam kajian ekologi. Dalam inventarisasi etnozoologi masyarakat Jammu dan Kashmir, India, Junonia orithya juga disebut dalam kehidupan keseharian masyarakat. Anak-anak dahulu kerap bermain dengan kupu-kupu tersebut di area persawahan dan ladang. Bahkan, terdapat kepercayaan bahwa kemunculan kupu-kupu biru berukuran besar di sekitar kebun rumah merupakan pertanda akan datangnya sesuatu yang baik [
6Hassan, M., Haq, S. M., Amjad, M. S., Ahmad, R., Bussmann, R. W., & Pérez de la Lastra, J. M. (2023). Invertebrates and herptiles for livelihoods-ethnozoological use among different ethnic communities in Jammu and Kashmir (Indian Himalayas). Frontiers in pharmacology, 13, 1043155. https://doi.org/10.3389/fphar.2022.1043155
]. Mungkin, kepercayaan itu lahir dari kekaguman manusia terhadap keindahan yang dibawanya.
Dua kali perjumpaan di Pendopo Kalirejo memberikan kesan sederhana, tetapi membekas. Di tengah agenda pemeriksaan kesehatan, seekor kupu-kupu kecil seolah mengingatkan bahwa alam selalu memiliki cara untuk menghadirkan kejutan. Ia tidak membutuhkan taman bunga yang tertata atau lanskap yang megah untuk menunjukkan pesonanya.
Cukup sebidang tanah terbuka, beberapa bunga liar, dan sepasang sayap yang terbentang di bawah cahaya matahari. Di sanalah Junonia orithya memperlihatkan keistimewaannya. Kupu-kupu solek biru yang atraktif, bukan hanya elok dipandang, melainkan juga menyimpan kisah evolusi, mitologi, dan peran ekologis yang patut diapresiasi. *** [041126]


logoblog

Thanks for reading Junonia orithya, Kupu-Kupu Solek Biru yang Atraktif

Newest
You are reading the newest post

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Sahabat Blog