Di halaman depan kantin kecil dekat Museum Sembulungan, dalam kawasan Taman Nasional Alas Purwo, Banyuwangi, sebatang pohon berdiri tanpa banyak suara. Ia tidak mencolok seperti pohon-pohon besar lain di hutan, tetapi justru di sanalah letak pesonanya, tenang, bersahaja, dan menyimpan kisah panjang yang merentang dari botani hingga budaya.
Perjumpaan itu terjadi saat Ekspedisi Gandrung bersama tim Enumerator COM-B Cluring pada Ahad (05/04). Di sela kegiatan, perhatian tertambat pada pohon yang tumbuh tepat di depan kantin. Orang-orang menyebutnya walikukun. Di Pasuruan, ia dikenal sebagai gempol [
1Hiemstra, G. (2026, March 08). Meaning and History of Gempol. Wisdom Library. https://www.wisdomlib.org/cities/gempol-120400
]. Dua nama, dua tempat, satu identitas: Schoutenia ovata.Secara morfologis, pohon ini menghadirkan karakter yang mudah dikenali. Akar tunggangnya bercabang, batangnya silindris dengan permukaan berkerak. Daunnya tunggal, tersusun berseling, bertekstur seperti kertas dengan bentuk oval hingga lonjong, seolah menjelaskan asal-usul nama “ovata” itu sendiri.
![]() |
| Pohon walikukun (Schoutenia ovata) di Taman Nasional Alas Purwo SPTN II Wilayah Muncar Resort Sembulungan, Banyuwangi |
Dari ketiak daun hingga ujung ranting, bunga-bunga majemuk tumbuh sederhana, lalu berbuah kecil yang kelak membelah. Tingginya bisa menjulang dari dua hingga puluhan meter, menyesuaikan habitat kering yang menjadi rumah alaminya.
Namun, walikukun tidak hanya hidup dalam ranah botani. Ia menjelma menjadi bagian dari bahasa dan ingatan kolektif. Di berbagai daerah Nusantara, memiliki nama lokal di berbagai daerah: ki kuku di tanah Sunda, walikukun di Jawa Tengah dan Jawa Timur, kokon di Madura, kalikukun dan lekukun di Bali, kukun di Lombok, hingga luhu di Bima. Variasi nama ini mencerminkan kedekatan masyarakat dengan pohon tersebut, sebuah relasi yang melampaui sekadar pengetahuan ilmiah.
Nama ilmiahnya sendiri, Schoutenia ovata Korth, menyimpan jejak sejarah pelayaran dunia. “Schoutenia” diambil untuk menghormati Willem Corneliszoon Schouten, penjelajah Belanda yang membuka jalur ke Samudra Pasifik melalui Tanjung Horn [
2Mellis, A. (n.d.). Glossary – Ra – Sy. The Bible of Botany. Retrieved April 24, 2026, from https://bibleofbotany.com/index/glossary-introduction/glossary-page-7/
]. Sedangkan, julukan khusus ovata berasal dari dari bahasa Latin “ovatus “(berbentuk oval atau telur), mengacu pada bentuk daunnya, yang digambarkan sebagai oval hingga lonjong [3Australian Native Plants Society (Australia). (n.d.). Eremophila ovata. Australian Native Plants Society (Australia). Retrieved April 24, 2026, from https://anpsa.org.au/plant_profiles/eremophila-ovata/
].![]() |
| Daun dan bunga walikukun (Schoutenia ovata) |
Nama ilmiah Schoutenia ovata pertama kali dideskripsikan oleh botanis dan penjelajah Belanda di Hindia Timur Pieter Willem Korthals (1807-1892), dan dipublikasikan dalam Bijdrage tot de kennis der Myrtaceae [
4Korthals, P.W. (1847), Bijdrage tot de kennis der Myrtaceae. Nederlandsch Kruidkundig Archief 1 [313]
].Selain nama binomial, Schoutenia ovata mempunyai nama-nama umum: East Indian meat-wood (Inggris); Oost-Indisch paardenvleesch, vleeschhout (Belanda); deng ke ye (Laos); popel thuge, ach-sat (Kamboja); daeng samae, kasin, khi thao, daeng sa ngae, daeng nieo (Thailand); walikukun (Indonesia).
Pohon walikukun (Schoutenia ovata) termasuk dalam famili Malvaceae (suku kapas-kapasan), dan daerah sebaran asalnya adalah Indochina, Jawa dan Kepulauan Sunda Kecil (Nusa Tenggara) dan bisa hidup hingga ketinggian 900 meter, terutama di habitat kering [
5ROEKMOWATI, & HARTONO. (1965). A MONOGRAPH OF THE GENUS SCHOUTENIA*) Korth. (Tiliaceae). REINWARDTIA, 7(2), 91—138. https://biologyjournal.brin.go.id/index.php/reinwardtia/article/view/122/106
]. Pohon ini banyak ditemukan di Jawa dan Kepulauan Sunda Kecil [6Wolff, J. U. (1994). The place of plant names in reconstructing Proto-Austronesian. In A. K. Pawley and M. D. Ross (Eds.), Austronesian terminologies: continuity and change, Pacific Linguistics (Series C-127) (pp. 511-540).
], dan tergolong tanaman asli dari kedua daerah tersebut.![]() |
| Batang bawah walikukun (Schoutenia ovata) |
Dari hutan ke kehidupan sehari-hari, walikukun menjelma menjadi pohon serbaguna. Kayunya keras dan bernilai, digunakan sejak lama untuk busur, konstruksi rumah, hingga peralatan berat seperti bantalan rel dan kereta.
Dalam praktik etnobotani, batangnya diolah menjadi kerajinan, sementara kulitnya dimanfaatkan sebagai bahan pengikat. Bahkan, sebagian masyarakat memaknainya secara spiritual [
7Arisandi R, Figyantika A, Harli-ando BP, Putra FY, Kiranu Pasquale VA, Lukmandaru G, 2025. Radial Distribution of Lipophilic Extractives in Walikukun (Schoutenia ovata Korth.) Wood. South-east Eur for 16(1): 53-61. https://doi.org/10.15177/seefor.25-07
] di mana cabang-cabang tertentu dipercaya memiliki kekuatan penolak bala.Di sisi lain, dunia pengobatan tradisional juga mengenalnya. Dari Jawa hingga Bima, walikukun digunakan untuk mengatasi luka, gangguan pencernaan, hingga sariawan. Rebusan daun dan bunga diminum sebagai jamu, meski praktik ini masih menunggu pembuktian ilmiah lebih lanjut [
8Setyowati, E., & Yasti Agustin, H. (2025). Phytochemical study and pharmacological activity of the schoutenia ovata korth. stems from the hills of Tulungagung. Science Midwifery, 13(4), 1106–1114.
, 9Amy, A. I., Andayani, Y., & Hidayati, A. R. (2022). Studi Etnofarmakologi Tumbuhan Obat Luka Terbuka di Kecamatan Ambalawi, Kabupaten Bima. Jurnal Sains Dan Kesehatan, 4(6), 585–595. https://doi.org/10.25026/jsk.v4i6.1279
].![]() |
| Pohon walikukun (Schoutenia ovata) di antara himpitan pohon besar lainnya yang tumbuh di Taman Nasional Alas Purwo SPTN ii Wilayah Muncar Resort Sembulungan, Banyuwangi |
Penelitian modern mulai mengungkap kandungan fitokimia di dalamnya: alkaloid, flavonoid, dan steroid yang berpotensi sebagai antioksidan, antiinflamasi, bahkan antikanker.
Menariknya, kisah walikukun tidak berhenti pada manfaatnya. Ia juga hidup dalam peta. Di Jawa Timur, nama-nama tempat seperti Desa Gempol (Pasuruan) [
1Hiemstra, G. (2026, March 08). Meaning and History of Gempol. Wisdom Library. https://www.wisdomlib.org/cities/gempol-120400
] dan Desa Walikukun (Ngawi) [10Wulandari, V. (2023, December 20). Analisis Potensi Desa Walikukun. Kompasiana.Com. https://www.kompasiana.com/verawulandari2856/65824cfd12d50f436b10e622/analisis-potensi-desa-walikukun?page=2&page_images=1
] diyakini lahir dari keberadaan pohon ini. Sebuah konvensi lama, ketika manusia menamai ruang berdasarkan apa yang tumbuh dan memberi makna di sekitarnya.Maka, pohon yang berdiri di depan kantin itu bukan sekadar vegetasi. Ia adalah penghubung antara ilmu dan tradisi, antara masa lalu dan masa kini, antara Gempol di Pasuruan dan Walikukun di Ngawi. Dalam diamnya, Schoutenia ovata merawat cerita tentang bagaimana manusia mengenali, memanfaatkan, dan akhirnya mengabadikan alam ke dalam identitas mereka sendiri. *** [250426]





Tidak ada komentar:
Posting Komentar