Jumat, Juni 26, 2026

Ada Bajaj dalam Nongki ASA 87 di Gayasa

  Budiarto Eko Kusumo       Jumat, Juni 26, 2026
Meski bersahaja, raungan roda tiga bajaj membuktikan bahwa ketekunan mampu membuka jalan dan peluang ekonomi di tengah hiruk-pikuk kota. Kendaraan mungil beroda tiga ini telah lama menjadi ikon transportasi jalanan Indonesia, terutama di Jakarta. 
Kini, pemandangan bajaj tak lagi hanya menjadi ciri khas ibu kota. Di Kota Solo, kendaraan asal India tersebut mulai terlihat hilir mudik, bahkan telah menjadi bagian dari layanan transportasi daring melalui aplikasi Maxride yang memang mengkhususkan diri pada kendaraan roda tiga.
Namun, kehadiran bajaj dalam acara Nongki ASA 87 di Gayasa beberapa waktu lalu bukanlah sebagai kendaraan angkutan umum, melainkan dibawa oleh seorang teman Adi Sasmito, S.Sos., Ketua Reuni FISIP 87 UNS dari Alumni Sosiologi Angkatan 1987 (ASA 87).
Bajaj berwarna kuning cerah itu langsung mencuri perhatian para peserta. Bentuknya yang unik, suara mesinnya yang khas, hingga tampilannya yang mengingatkan pada jalanan Jakarta tempo dulu menjadi daya tarik tersendiri.
Bajaj yang dibawa merupakan Bajaj RE (बजाज रे) produksi tahun 2025. Kendaraan roda tiga berkapasitas empat penumpang ini memiliki dimensi panjang 2.635 mm, lebar 1.300 mm, dan wheelbase 2.000 mm.
 
Bajaj RE di halaman parkir Gayasa Restaurant & Cafe Solo (Ahad, 14/06)

Menggunakan bahan bakar bensin, Bajaj RE dibekali mesin empat langkah spark ignition dengan sistem pendingin udara paksa (forced air cooled engine), transmisi manual, serta kopling tipe multi plates yang dilengkapi teknologi anti judder sehingga perpindahan gigi terasa lebih halus. 
Tahun 2025, Bajaj RE dipasarkan dalam empat pilihan warna, yakni hitam, putih, kuning, dan merah. Bajaj milik sahabat ASA 87 tersebut tampil mencolok dengan warna kuning. "Harganya sekitar Rp58 juta," ujarnya sambil tersenyum.
Menariknya, nama "bajaj" ternyata bukan berasal dari jenis kendaraan, melainkan dari nama keluarga pendiri perusahaan otomotif India, Jamnalal Bajaj. Perusahaan yang didirikannya di Mumbai pada tahun 1926 itu kemudian berkembang menjadi salah satu konglomerasi terbesar di India. 
Kendaraan roda tiga produksinya mulai diekspor ke Indonesia sejak dekade 1970-an dan perlahan menjadi ikon transportasi perkotaan. Secara etimologis, nama keluarga Bajaj berasal dari bahasa Punjabi bəjāj atau bəzāz yang berarti pedagang pakaian atau penjual kain, yang diserap dari bahasa Arab bazzāz. Sementara di India sendiri, kendaraan ini lebih dikenal dengan sebutan auto rickshaw.
Perjalanan panjang Grup Bajaj juga tak lepas dari sejarah India modern. Pada tahun 1931, atas permintaan Mahatma Gandhi, Jamnalal Bajaj mendirikan pabrik gula di Lakhimpur Kheri, Uttar Pradesh, yang kemudian berkembang menjadi Hindusthan Sugar Mills Ltd.
Putranya, Kamalnayan Bajaj, melanjutkan diversifikasi bisnis keluarga ke berbagai sektor seperti sepeda motor, kendaraan roda tiga, semen, baja, hingga peralatan listrik setelah menyelesaikan pendidikan di University of Cambridge.
 
Selesai acara nongki bersama ASA 87, salah seoran teman cewek berpose di Bajaj RE

Selanjutnya, estafet kepemimpinan diteruskan oleh Rahul Bajaj, lulusan Harvard Business School, yang membawa Bajaj Auto menjadi salah satu produsen kendaraan roda dua dan roda tiga terkemuka di India.
Usai acara Nongki ASA 87 di Gayasa, saya mendapat kesempatan yang mungkin jarang dirasakan banyak orang, yakni pulang menaiki bajaj tersebut. Kebetulan rumah kami searah. Dari kawasan Sekarpace menuju Mutihan, saya menikmati sensasi berkendara dengan kendaraan khas India itu. 
Begitu mesin dinyalakan, terdengar raungan khas yang mengingatkan pada hiruk-pikuk jalanan Jakarta. Posisi duduk yang lebih terbuka membuat angin senja bebas menerpa wajah, sementara bodinya yang ramping membuat bajaj lincah menyusuri jalan-jalan Solo. Setiap kali melintas, beberapa pengendara dan pejalan kaki tampak menoleh, bahkan tersenyum melihat kendaraan bajaj yang saya naiki itu.
Perjalanan sejauh 8 kilometer tersebut menghadirkan pengalaman yang berbeda. Bajaj bukan sekadar alat transportasi, melainkan bagian dari sejarah mobilitas perkotaan yang masih bertahan mengikuti perkembangan zaman. 
Dari jalan-jalan Jakarta hingga kini mengaspal di Solo, kendaraan sederhana ini terus membuktikan bahwa inovasi tidak selalu harus mewah. Kadang, cukup dengan tiga roda, mesin yang tangguh, dan semangat untuk terus bergerak, sebuah kendaraan mampu menjadi simbol ketekunan sekaligus membuka peluang ekonomi bagi banyak orang. *** [260626]


logoblog

Thanks for reading Ada Bajaj dalam Nongki ASA 87 di Gayasa

Previous
« Prev Post

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Sahabat Blog