Kabut tipis dan gerimis yang turun perlahan menjadi latar perjumpaan saya dengan peneliti Fisika Lingkungan Universitas Brawijaya, Eko Teguh Purwito Adi, pada Sabtu, 20 April 2024. Rumahnya yang berada di kawasan sejuk Jalan Gajah Mada Gang III, Kelurahan Tulungrejo, Kecamatan Bumiaji, Kota Batu, tidak jauh dari kawasan wisata Selecta, tampak teduh di bawah cuaca pegunungan yang lembap.
Saat itu, usai bertemu Pongky yang sedang mengikuti pelatihan survei pengolahan lahan dan budidaya kopi di Pondok Ilona Batu, saya bersilaturahmi dengan peneliti Fisika Lingkungan tersebut. Di sisi barat rumah Eko, tiga pohon lokwat tumbuh subur dengan tajuk hijau yang rimbun. Sayangnya, suasana berkabut dan rintik hujan membuat hasil foto yang saya ambil kurang memuaskan.
Dua tahun dua bulan kemudian, tepat pada Ahad, 7 Juni 2026, kenangan itu kembali hadir melalui sebuah pesan WhatsApp yang masuk pukul 10.28 WIB. Sebuah foto buah lokwat berwarna kuning cerah dikirimkan kepada saya. Warna buah yang matang itu seolah menjadi penanda musim sekaligus pengingat bahwa pohon yang dahulu hanya saya lihat dari kejauhan kini sedang berada pada fase paling menariknya.
Lokwat, atau Eriobotrya japonica (Thunb.) Lindl., merupakan salah satu anggota suku mawar-mawaran atau Rosaceae yang memiliki daya tarik tersendiri. Daunnya besar, tebal, dan berwarna hijau tua mengilap. Ketika berbunga, pohon ini menghasilkan bunga putih yang harum, kemudian berkembang menjadi buah berwarna kuning hingga jingga dengan cita rasa manis bercampur sedikit asam.
Di Nusantara, tanaman ini dikenal dengan beragam nama. Masyarakat Sunda menyebutnya papalaan, masyarakat Melayu mengenalnya sebagai panginggong, sedangkan warga Kota Batu lebih akrab dengan sebutan biwa, nama yang juga digunakan di Jepang.
![]() |
| Pohon lokwat atau biwa (Eriobotrya japonica) di kawasan Selecta, Kota Batu (Foto: Eko Teguh Purwito Adi) |
Nama ilmiahnya menyimpan kisah linguistik yang menarik. Nama genus Eriobotrya berasal dari bahasa Yunani, gabungan érion yang berarti “wol” atau “berbulu” dan botrys yang berarti “gugusan”, merujuk pada malai bunganya yang tampak berbulu dan berkelompok [
1El Aouni, N., Dahmani, W., Ali, A., Evariste Akissi, L. Z., Dib, I., Legssyer, A., Sahpaz, S., & Ziyyat, A. (2025). Eriobotrya japonica (Thunb.) Lindl.: Ethnomedicinal uses, phytochemical contents and pharmacological properties: A Review. Ethnobotany Research and Applications, 31, 1–43. Retrieved from https://ethnobotanyjournal.org/index.php/era/article/view/6901
]. Sementara itu, epitet japonica berasal dari bahasa Latin japonicus yang berarti “berasal dari Jepang” [2Merriam-Webster. (n.d.). Japonica. In Merriam-Webster.com dictionary. Retrieved June 7, 2026, from https://www.merriam-webster.com/dictionary/japonica
].Sejarah penamaannya pun cukup panjang. Pada tahun 1784, botanis Swedia Carl Peter Thunberg (1743-1828) pertama kali mendeskripsikan spesies ini sebagai Mespilus japonica dalam karya Systema Vegetabilium [
3Linné, Carl von, & Murray, Johann Andreas. (1784). Caroli a Linné equitis Systema vegetabilium, secundum classes ordines genera species cum characteribus et differentiis (Editio Decima Quarta). Gottingae: Typis et impensis Jo. Christ. Dieterich. https://www.biodiversitylibrary.org/page/1479439
]. Beberapa dekade kemudian, tepatnya tahun 1821, ahli botani Inggris John Lindley (1799-1865) memindahkannya ke genus Eriobotrya melalui publikasi Transactions of the Linnean Society of London [4Linnean Society of London. & Linnean Society of London. (1821). Transactions of the Linnean Society of London (Vol. 13, Issue 1, p. i). [London: The Society], 1791-1875. https://www.biodiversitylibrary.org/page/754722
]. Meski pernah diusulkan untuk dimasukkan ke genus Rhaphiolepis dengan nama sinonim Rhaphiolepis bibas [5Galasso, G., Domina, G., Adorni, M., Angiolini, C., Apruzzese, M., Ardenghi, N. M. G. (2020). Notulae to the Italian alien vascular flora: 9. Italian Botanist. 9:47–70. https://doi.org/10.3897/italianbotanist.9.53401
], nama Eriobotrya japonica hingga kini tetap menjadi nama yang paling luas diterima.Secara geografis, lokwat berasal dari kawasan subtropis Asia Timur hingga Asia Tenggara [
6Liu B-B, Wang Y-B, Hong D-Y, Wen J (2020) A synopsis of the expanded Rhaphiolepis (Maleae, Rosaceae). PhytoKeys 154: 19-55. https://doi.org/10.3897/phytokeys.154.52790
]. Di Indonesia, keberadaannya cukup dikenal di sejumlah daerah dataran tinggi, antara lain Kabupaten Karo, Tapanuli Utara, Simalungun, Toba, dan Dairi di Sumatra Utara; wilayah Cianjur di Jawa Barat; serta Tondano di Sulawesi Utara [7Socfindo Conservation. (n.d.). Biwa. Socfindo Conservation. Retrieved June 07, 2026, from https://socfindoconservation.co.id/plant/347
]. Di Kota Batu sendiri, pohon ini tumbuh baik berkat suhu sejuk dan kondisi lingkungan yang menyerupai habitat asalnya.Banyak orang mengenal lokwat karena buahnya yang lezat, tetapi sesungguhnya perannya jauh melampaui itu. Tajuknya yang rindang menjadikannya tanaman lanskap yang digemari di berbagai negara. Bunganya yang kaya nektar juga menjadi sumber pakan penting bagi lebah madu dan berbagai serangga penyerbuk lainnya [
8Zheng, S., Johnson, A. J., Li, Y., Chu, C., & Hulcr, J. (2019). Cryphalus eriobotryae sp. nov. (Coleoptera: Curculionidae: Scolytinae), a New Insect Pest of Loquat Eriobotrya japonica in China. Insects, 10(6), 180. https://doi.org/10.3390/insects10060180
]. Kehadiran pohon ini tidak hanya mempercantik halaman, tetapi juga mendukung keseimbangan ekologi.Di balik penampilannya yang sederhana, lokwat menyimpan kekayaan senyawa bioaktif yang menarik perhatian dunia ilmiah. Kajian terbaru yang dilakukan oleh Nabia El Aouni dan rekan-rekannya (2025) menunjukkan bahwa Eriobotrya japonica memiliki berbagai aktivitas biologis, antara lain sebagai antioksidan, antidiabetik, kardioprotektif, hepatoprotektif, antitumor, antiinflamasi, hingga neuroprotektif. Sejumlah penelitian juga melaporkan potensi efek bronkodilator, hipoglikemik, dan hipolipidemik pada tanaman ini [
1El Aouni, N., Dahmani, W., Ali, A., Evariste Akissi, L. Z., Dib, I., Legssyer, A., Sahpaz, S., & Ziyyat, A. (2025). Eriobotrya japonica (Thunb.) Lindl.: Ethnomedicinal uses, phytochemical contents and pharmacological properties: A Review. Ethnobotany Research and Applications, 31, 1–43. Retrieved from https://ethnobotanyjournal.org/index.php/era/article/view/6901
].Temuan serupa disampaikan oleh Rony Abdi Syahputra dan timnya (2025) [
9Syahputra, R. A., Helen, H., Gunawan, M. C., Utari, Z. D., Dalimunthe, A., Salim, E., Bastian, M., Taslim, N. A., Pitriani, P., Nugraha, S. E., Situmorang, P. C., Nurkolis, F., & Zainalabidin, S. (2025). Eriobotrya japonica a review: Phytochemical constituents, traditional uses, and therapeutic potentials. Journal of Agriculture and Food Research, 22, 102091. https://doi.org/10.1016/j.jafr.2025.102091
]. Menurut mereka, daun dan buah lokwat mengandung beragam senyawa fitokimia penting, termasuk fenol, flavonoid, triterpen, alkaloid, glikosida, karotenoid, fitosterol, hingga berbagai jenis asam organik. Kekayaan senyawa inilah yang diyakini berkontribusi terhadap berbagai aktivitas farmakologis yang dilaporkan dalam banyak penelitian.![]() |
| Buah lokwat atau biwa (Eriobotrya japonica) (Foto: Eko Teguh Purwito Adi) |
Dalam pengobatan tradisional Asia Timur, pemanfaatan lokwat telah berlangsung selama berabad-abad. Di China, buahnya digunakan untuk membantu meredakan muntah, mengurangi rasa haus, menenangkan tubuh, serta membantu penyembuhan luka. Daun dan buahnya lama dikenal sebagai bahan ekspektoran untuk meredakan batuk. Sementara itu di Jepang, daun lokwat digunakan sebagai diuretik, penurun panas, dan penunjang kesehatan pencernaan.
Catatan pengobatan tradisional bahkan menunjukkan bahwa rebusan daun lokwat pernah digunakan untuk membantu mengatasi gangguan lambung, peradangan, penyakit kulit, keluhan paru-paru, hingga berbagai masalah kesehatan lainnya. Penggunaan tersebut tercatat dalam literatur klasik Tiongkok seperti Zheng Lei Ben Cao dan Compendium of Materia Medica, yang menjelaskan budidaya, klasifikasi, serta manfaat pengobatan pohon ini.
Para peneliti juga menemukan bahwa bagian-bagian tanaman lokwat menyimpan komposisi kimia yang berbeda. Buah matang kaya akan senyawa fenolik seperti asam klorogenik, asam neoklorogenik, asam ferulat, asam ellagik, dan berbagai turunan asam kafeoilkuinat. Bijinya mengandung tanin, pati, mineral, dan protein. Bunganya merupakan sumber flavonoid yang baik, sedangkan daun mengandung asam fenolik, flavonoid, tanin, seskuiterpen, triterpen, dan berbagai senyawa bioaktif lainnya. Salah satu komponen yang paling sering ditemukan pada daun, bunga, maupun buah adalah asam klorogenik, senyawa yang banyak dikaitkan dengan aktivitas antioksidan.
Namun, di luar semua data ilmiah tersebut, ada sesuatu yang lebih sederhana sekaligus berharga dari pohon lokwat, yaitu kemampuannya menghubungkan manusia dengan ruang dan waktu. Sebatang pohon di halaman rumah, yang pernah saya lihat di tengah kabut lereng Batu pada April 2024, kini kembali hadir melalui selembar foto buah kuning yang matang. Dari sana tersingkap sebuah cerita panjang, tentang sejarah botani, kearifan pengobatan tradisional, kekayaan hayati Asia, hingga hubungan akrab antara manusia dan tanaman yang tumbuh di sekitarnya.
Lokwat atau biwa mungkin bukan buah yang paling populer di Indonesia. Namun bagi mereka yang pernah melihatnya berbuah di udara sejuk pegunungan, pohon ini menyimpan pesona yang sulit dilupakan, yakni perpaduan antara keindahan, pengetahuan, dan warisan budaya yang terus hidup dari generasi ke generasi. *** [070626]



Tidak ada komentar:
Posting Komentar