“Food history is as important as a baroque church. Governments should recognize cultural heritage and protect traditional foods. A cheese is as worthy of preserving as a sixteenth-century building.” -- Carlo Petrini
Ketika memasuki area Pantiarjo Convention Hall di Kusuma Sahid Prince Hotel (KSPH), alumni Reuni FISIP 87 Universitas Sebelas Maret (UNS) seakan tidak sedang menghadiri sebuah reuni biasa. Ruangan yang berada di antara lobi dan Sriwedari Convention Hall itu menjelma menjadi sebuah festival kuliner khas Solo yang menggoda mata sekaligus membangkitkan kenangan.
Pada Ahad (14/06), tiga ruang di KSPH yang beralamat di Jalan Sugiyopranoto No. 20, Kelurahan Kampung Baru, Kecamatan Pasar Kliwon, Kota Surakarta, atau yang dikenal dengan sebutan Kota Solo itu, memiliki fungsi berbeda.
![]() | ||
|
Di ruangan inilah panitia dan pihak hotel menghadirkan pengalaman bersantap yang tidak sekadar mengenyangkan, melainkan juga mengajak alumni menelusuri jejak sejarah dan budaya Kota Solo.
Begitu memasuki hall, para tamu disambut deretan stan makanan yang ditata menyerupai festival kuliner tradisional. Aroma rempah-rempah menguar dari sudut-sudut ruangan. Uap hangat dari kuah tengkleng bercampur dengan harum santan nasi liwet yang baru disajikan. Di meja lain, jajanan pasar berwarna-warni tersusun rapi dalam tenongan bambu, menghadirkan suasana pasar rakyat yang akrab dalam ingatan masyarakat Jawa.
![]() |
| Menu tengkleng yang laris manis di Reuni FISIP 87 UNS |
Para alumnus tampak berkeliling dari satu stan ke stan lain. Ada yang berburu hidangan favorit masa muda, ada pula yang antusias memperkenalkan kuliner khas Solo kepada alumni dari luar Kota Solo yang hadir. Percakapan, tawa, dan cerita lama mengalir bersamaan dengan aktivitas mencicipi aneka sajian. Festival kuliner itu seolah menjadi ruang perjumpaan antara nostalgia, persahabatan, dan kekayaan budaya lokal.
Menu yang disajikan merupakan representasi kuliner khas Solo yang sarat makna. Tengkleng, misalnya, hadir dengan kuah bening kaya rempah yang membungkus tulang dan jeroan kambing. Hidangan ini lahir dari kreativitas masyarakat pada masa lalu yang mampu mengolah bagian-bagian kambing yang tersisa menjadi sajian bernilai tinggi.
![]() |
| Outlet selat Solo di Pantiarjo Convention Hall |
Tak jauh dari sana, selat Solo menawarkan kisah berbeda. Sepiring daging sapi empuk yang disiram kuah kecap manis-gurih dan ditemani aneka sayuran memperlihatkan jejak pertemuan budaya Jawa dan Eropa. Nama “selat” diyakini berasal dari kata salade dalam bahasa Belanda, menjadi penanda bagaimana masyarakat Solo mengadaptasi pengaruh asing tanpa kehilangan identitas lokalnya.
Sementara itu, nasi liwet yang tersaji lengkap dengan areh, suwiran ayam, telur, dan sayur labu siam mengingatkan bahwa tradisi kuliner Jawa telah hidup selama berabad-abad. Jejak hidangan ini bahkan tercatat dalam Serat Centhini, karya sastra monumental Jawa yang ditulis pada awal abad ke-19.
![]() |
| Nasi liwet yang termaktub dalam Serat Centhini |
Timlo juga memiliki cerita menarik. Sup berkuah bening yang berisi suwiran ayam, sosis Solo, telur pindang, jamur kuping, dan soun ini merupakan hasil akulturasi budaya. Banyak sejarawan kuliner meyakini timlo berakar dari sup “Kimlo” yang diperkenalkan para pedagang Tionghoa dan kemudian bertransformasi menjadi hidangan khas Solo.
Keberagaman itu semakin terasa melalui tenongan yang dipenuhi aneka jajanan pasar seperti klepon, kue lumpur, pastel, kue sus, dan kue lapis. Ada pula sosis Solo yang dibungkus telur dadar tipis, cabuk rambak dengan saus wijen khasnya, hingga carang gesing yang manis dan lembut dalam balutan daun pisang.
![]() |
| Tenongan |
Carang gesing sendiri menyimpan filosofi yang dekat dengan kehidupan masyarakat Jawa. Pisang sebagai bahan utama melambangkan kesuburan, keberuntungan, dan kelimpahan. Simbol-simbol seperti inilah yang membuat kuliner tradisional tidak sekadar menjadi makanan, tetapi juga medium pewarisan nilai budaya dari generasi ke generasi.
Sebagai penutup alumni menikmati serabi Solo yang lembut, ditemani segelas gula asem yang menyegarkan. Di atas meja juga tersedia karak, kerupuk khas Solo yang membuktikan bagaimana masyarakat mampu mengolah bahan sederhana menjadi makanan yang tetap lestari hingga sekarang.
![]() |
| Cabuk rambak, karak, sosis solo, carang gesing, dan serabi |
Pengalaman menikmati hidangan-hidangan tersebut menjadikan Pantiarjo Convention Hall lebih dari sekadar ruang konsumsi. Ia berubah menjadi ruang wisata gastronomi mini yang memperkenalkan sejarah, filosofi, teknik memasak, hingga kehidupan sosial masyarakat yang melahirkan berbagai kuliner khas Solo.
Aktivis dan penulis Italia yang merupakan pendiri Gerakan Slow Food Internasional dan festival Terra Madre, Carlo Petrini (1949-2026), pernah mengatakan:
“Sejarah makanan sama pentingnya dengan gereja barok. Pemerintah harus mengakui warisan budaya dan melindungi makanan tradisional. Keju sama berharganya untuk dilestarikan seperti bangunan abad keenam belas.”
![]() |
| Gula asem |
Pernyataan tersebut terasa menemukan relevansinya di tengah Reuni FISIP 87 UNS. Deretan hidangan yang tersaji bukan hanya suguhan untuk memanjakan lidah alumni. Di balik setiap mangkuk tengkleng, sepiring selat Solo, semangkuk timlo, atau sepotong carang gesing, tersimpan cerita panjang tentang peradaban, kreativitas masyarakat, serta identitas budaya yang terus hidup dari masa ke masa.
Karena itu, ketika alumni menikmati hidangan yang disajikan secara mono suko - bebas mengambil dan mencicipi sesuka hati - sesungguhnya mereka tidak hanya sedang menyantap makanan khas Solo. Mereka juga sedang menikmati warisan budaya yang telah diwariskan oleh generasi-generasi sebelumnya dan tetap bertahan sebagai bagian penting dari jati diri Kota Bengawan. *** [190626]








Tidak ada komentar:
Posting Komentar