Di antara akar yang basah dan dedaunan kering di jalur Pos Resor Pancur menuju Gua Istana di Taman Nasional Alas Purwo (TNAP) Banyuwangi, sebuah batang pohon tumbang terbaring tenang. Ia tampak seperti sisa kehidupan yang telah selesai - sampai mata tertuju pada sekelompok jamur kecil yang berdiri seperti goblet (gelas minum berkaki) mungil di atas kayunya. Tangkai kuningnya menyala lembut di tengah kehijauan hutan, seolah hutan sengaja menaruh lampu-lampu kecil di atas kayu mati.
Jamur itu bernama Microporus xanthopus (Fr.) Kuntze, spesies polipora yang dikenal luas sebagai yellow-footed polypore atau jamur pori berkaki kuning. Bentuknya memang tidak sebesar tudung Ganoderma applanatum yang pernah saya jumpai sebelumnya, juga tidak sepolos Trametes pubescens. Namun, ia memiliki pesona tersendiri, yakni tubuh buah berbentuk corong, mangkuk, hingga setengah lingkaran, dengan permukaan atas berzona dan tangkai kuning yang menjadi ciri khasnya.
Nama Microporus berasal dari bahasa Yunani dari gabungan kata mikrós berarti kecil dan póros berarti pori [
1Mindat. (n.d.). Microporus. Mindat. Retrieved October 6, 2026, from https://www.mindat.org/taxon-2078797.html
]. Nama itu merujuk pada pori-pori mikroskopis yang sangat halus di sisi bawah tudung jamur - bagian tempat spora dihasilkan. Sedangkan, julukan khusus xanthopus berasal dari xanthós yang berarti kuning dan poús yang berarti kaki, merujuk warna kuning pada tangkai serta cakram dasar yang melekat pada kayu [2Daintree Rainforest. (2015, February 2). Yellow-footed Micropore. Daintree Rainforest. https://daintreerainforest.au/yellow-footed-micropore/
].Spesies ini pertama kali dideskripsikan pada 1818 oleh mikolog dan botanis Swedia, Elias Magnus Fries (1794-1878), dengan nama Polyporus xanthopus. Kemudian, pada 1898, botanis dan mikolog Jerman Carl Ernst Otto Kuntze (1843-1907) memindahkannya ke nama yang kini diterima, yaitu Microporus xanthopus [
3Kuntze, Otto. (1898). Revisio generum plantarum:vascularium omnium atque cellularium multarum secundum leges nomenclaturae internationales cum enumeratione plantarum exoticarum in itinere mundi collectarum ... (Vol. 3, Issue 1). A. Felix [etc.]. https://www.biodiversitylibrary.org/page/2746
].![]() |
| Tudung jamur pori berkaki kuning (Microporus xanthopus) berbentuk seperi corong, mangkuk atau goblet |
Nama ilmiah mungkin terdengar asing, tetapi jamur ini telah dikenal di berbagai belahan dunia dengan sebutan yang lebih akrab. Dalam bahasa Inggris ia disebut yellow-footed polypore, yellow-footed tinypore, atau yellow-stemmed micropore. Di Thailand dikenal sebagai h̄ĕd krwy thxng takū, di komunitas Melayu disebut cendawan pengering, di Jepang sebagai tsuyajougotake, dan di Tiongkok sebagai huáng bǐng xiǎo kǒng jūn.
Microporus xanthopus termasuk dalam famili Polyporaceae, kelompok jamur yang umum dikenal sebagai polipora atau jamur rak. Ia hidup sebagai pengurai kayu dan sering ditemukan menempel pada ranting, batang pohon mati, maupun kayu lapuk di kawasan tropis.
Jalur dari Pos Resor Pancur menuju Gua Istana menyediakan habitat yang nyaman baginya. Ranting dan batang pohon yang tumbang berserakan di tanah, kelembapan udara yang tinggi, serta kondisi tanah yang lembap menciptakan lingkungan ideal bagi jamur ini untuk tumbuh.
Pada tahap awal, tubuh buahnya baru tampak sebagai bercak putih kecil di permukaan kayu. Perlahan, ia membentuk bantalan setengah bola selebar sekitar satu milimeter sebelum meluas dan mengembangkan tudung khasnya. Tudung itu dapat berbentuk corong, mangkuk, atau goblet dengan permukaan atas berkilau dan berzona konsentris dalam gradasi cokelat.
Sisi bawah tudungnya berwarna putih hingga kuning pucat, dipenuhi pori-pori sangat kecil. Dari situlah spora dilepaskan untuk melanjutkan siklus hidupnya. Tangkainya yang kuning, kadang di tengah kadang sedikit menyamping, menopang tudung di atas kayu seperti gelas minum berkaki kecil yang siap menampung embun pagi.
![]() |
| Jamur Microporus xanthopus menempel di batang pohon yang telah tumbang dan mati |
Meski bentuknya menarik, Microporus xanthopus bukan jamur yang dapat dikonsumsi. Teksturnya keras dan liat membuatnya kurang layak sebagai bahan pangan. Berbagai sumber taksonomi dan penelitian juga mencantumkannya sebagai jamur non-edibel.
Namun, ketidakmampuannya untuk dimakan tidak berarti ia kehilangan nilai. Justru di sanalah peran ekologisnya menjadi penting. Sebagai jamur pelapuk kayu, Microporus xanthopus membantu menguraikan selulosa dan lignin dalam kayu mati. Proses ini mempercepat pelapukan serat kayu dan mengembalikan unsur hara ke dalam tanah [
4Out Grow. (n.d.). Yellow-toothed Micropore (Microporus xanthopus) Liquid Culture Syringe. Out Grow. Retrieved October 6, 2026, from https://www.out-grow.com/products/microporus-xanthopus?srsltid=AU7gw4XyQ6uxxAOOjeDWGm1BanrKaq3qIzxO3Ap7ONFO_CUVKfpmCoaA
].Dalam siklus hutan tropis, kayu tumbang bukanlah akhir. Ia menjadi rumah bagi jamur, serangga, lumut, dan mikroorganisme lain. Microporus xanthopus adalah salah satu aktor kecil dalam proses itu yang menjadi pekerja senyap yang mengubah sisa kehidupan menjadi bahan baru bagi kehidupan berikutnya.
Di balik penampilannya yang sederhana, jamur ini menyimpan potensi yang menarik bagi dunia penelitian. Ekstrak Microporus xanthopus dilaporkan mengandung berbagai senyawa bioaktif, termasuk alkaloid, flavonoid, steroid, triterpenoid, dan kumarin. Senyawa-senyawa tersebut menarik perhatian karena berpotensi memiliki aktivitas farmakologis.
![]() |
| Jamur Microporus xanthopus yang dijumpai di Taman Nasional Alas Purwo, Banyuwangi |
Beberapa studi melaporkan aktivitas antelmintik, antibakteri, antikanker, dan antiangiogenik dari ekstrak jamur ini [
5Gebreyohannes, G., & Sbhatu, D. B. (2023). Wild Mushrooms: A Hidden Treasure of Novel Bioactive Compounds. International journal of analytical chemistry, 2023, 6694961. https://doi.org/10.1155/2023/6694961
]. Ekstraknya juga menunjukkan aktivitas antibakteri terhadap beberapa jenis bakteri, termasuk Staphylococcus aureus, Salmonella typhi, dan Escherichia coli [6Gautam, S., Tuladhar, E., Regmi, S., Chaudhary, S., Basnet, B. B., & Munankarmi, N. N. (2026). Study of Biological Activities of Microporus xanthopus and Phylloporia pectinata From Gulmi, Nepal. Scientifica, 2026(1). https://doi.org/10.1155/sci5/9261243
].Keberadaannya memperkuat pesan bahwa jamur liar bukan hanya penghias kayu mati, melainkan juga sumber pengetahuan yang belum sepenuhnya tergali.
Ketika saya melanjutkan perjalanan menuju Gua Istana, jamur itu tetap tertinggal di tempatnya dengan menempel tenang pada kayu yang pernah berdiri tegak. Ia tidak menuntut perhatian, tidak bersuara, dan tidak bergerak. Namun, kehadirannya menyimpan cerita tentang siklus, ketergantungan, dan kehidupan yang terus berputar di dalam hutan.
Microporus xanthopus mengingatkan kita bahwa keindahan hutan tidak selalu hadir dalam bentuk besar. Kadang, ia justru muncul dalam ukuran kecil, berdiri di atas kayu tumbang, dengan tangkai kuning yang bersinar di tengah keheningan Alas Purwo.
Dan mungkin, justru dari bentuk yang paling sederhana itulah kita belajar bahwa alam tidak pernah benar-benar selesai. Ia hanya berubah wujud, dari pohon menjadi kayu, dari kayu menjadi jamur, lalu dari jamur kembali menjadi bagian dari tanah yang menopang kehidupan berikutnya. *** [071026]




Tidak ada komentar:
Posting Komentar