“I like this place and could willingly waste my time in it.” -- William Shakespeare
Siang itu, pekerjaan belum benar-benar usai. Di sela istirahat, Tim Maintenance Alat Sensor Kualitas Udara NIHR UB - Eko Teguh Purwito A., S.Si., M.Si.; Azarine Aisyah W., S.Si.; dan Maria Pramundhitya W.W., S.Si. - bersama Teknisi Nafas, Syaiful Umar, serta saya, menyempatkan diri makan siang di Kuliner nDeso Kampung Bethek.
Setelah perut terisi, kami tidak langsung kembali bekerja. Hanya beberapa langkah dari Kampung Bethek, terdapat sebuah kawasan yang seolah mengundang siapa pun untuk berhenti sejenak, yaitu De Djawatan Forest.
Hutan De Djawatan berada di Dusun Purwosari, Desa Benculuk, Kecamatan Cluring, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur. Daya tarik utamanya bukan bangunan megah atau wahana permainan, melainkan jajaran pohon trembesi (Samanea saman) berusia tua yang tumbuh besar dan kokoh. Ranting-rantingnya melebar, saling bertaut, lalu membentuk kanopi alami yang menaungi kawasan di bawahnya.
![]() |
| De Djawatan Forest di Dusun Purwosari, Desa Benculuk, Kecamatan Cluring, Kabupaten Banyuwangi |
Dari kejauhan, pepohonan itu tampak seperti gerbang menuju dunia lain. Batang-batangnya yang besar dan berliku menciptakan suasana menyerupai hutan fantasi yang teduh, sejuk, sekaligus fotogenik. Tak mengherankan jika De Djawatan kerap menjadi tujuan pencinta fotografi, wisata alam, maupun pasangan yang ingin mengabadikan momen pre-wedding.
Kami pun berjalan santai, sekadar mengusir gerah dan menikmati udara yang berbeda dari panas siang hari. Angin bergerak perlahan di antara pepohonan. Cahaya matahari menyusup melalui celah dedaunan, jatuh dalam bentuk bayangan yang berubah-ubah di tanah.
Tidak ada keharusan untuk berjalan jauh atau melakukan trekking berat. Dalam waktu sekitar satu hingga dua jam, seseorang sudah bisa menikmati suasana hutan, mengambil gambar, dan merasakan jeda dari rutinitas.
Di antara rindangnya trembesi, kami melihat beberapa orang sedang menjalani sesi pemotretan. Ada pasangan yang mengabadikan foto pre-wedding, ada pula pengunjung yang bergaya ala nonik Belanda. Pose-pose mereka berpadu dengan latar batang pohon raksasa, menciptakan gambar yang unik dan berkarakter.
Namun, De Djawatan bukan sekadar latar foto. Kawasan ini memperlihatkan bagaimana pepohonan besar dapat menghadirkan manfaat yang lebih luas bagi kehidupan manusia. Tutupan pohon membantu menciptakan keteduhan, meredam panas, dan memberi ruang bagi tubuh serta pikiran untuk beristirahat [
1Mouratidis, K. (2019). The impact of urban tree cover on perceived safety. Urban Forestry & Urban Greening, 44, 126434. https://doi.org/10.1016/j.ufug.2019.126434
].![]() |
| Teknisi Nafas Indonesia asal Depok sedang menikmati kesejukan De Djawatan Forest |
Berbagai penelitian juga menunjukkan bahwa kedekatan dengan ruang terbuka hijau dan kanopi pepohonan berkaitan dengan tingkat stres, kecemasan, dan depresi yang lebih rendah.
Di bawah pohon-pohon trembesi itu, manfaat tersebut terasa tanpa perlu dijelaskan panjang lebar. Kami datang dalam keadaan masih membawa urusan pekerjaan, tetapi beberapa saat kemudian suasana hati menjadi lebih ringan. Semilir angin dan teduhnya pepohonan memberi kesempatan bagi pikiran untuk mengambil napas.
Frederick Law Olmsted, arsitek lanskap Amerika Serikat pada abad ke-19, pernah menekankan pentingnya ruang terbuka hijau dan sinar matahari untuk “memulihkan kembali” diri seseorang [
2Ulmer, J. M., Wolf, K. L., Backman, D. R., Tretheway, R. L., Blain, C. J., O’Neil-Dunne, J. P., & Frank, L. D. (2016). Multiple health benefits of urban tree canopy: The mounting evidence for a green prescription. Health & Place, 42, 54–62. https://doi.org/10.1016/j.healthplace.2016.08.011
]. Gagasan itu terasa relevan di De Djawatan di mana alam tidak selalu harus dikunjungi dalam waktu lama untuk memberi pengaruh. Kadang-kadang, sebuah persinggahan singkat sudah cukup untuk mengembalikan tenaga.
William Shakespeare (1564-1616), seorang dramawan, pujangga, dan aktor Inggris, mungkin akan menggambarkan pengalaman itu dengan kalimat:
“Aku menyukai tempat ini dan dengan senang hati bisa menghabiskan waktuku di sini.”
![]() |
| Deretan pohon trembesi berusia ratusan tahun membentuk kanopi alam yang rindang |
Kutipan tersebut, yang berasal dari As You Like It, seakan menemukan tempatnya di antara jajaran trembesi De Djawatan.
Pepohonan besar memang memiliki cara sendiri untuk membuat manusia merasa kecil sekaligus terlindungi. Di hadapan batang-batang yang telah tumbuh selama ratusan tahun, kesibukan sehari-hari terasa sementara. Kita diingatkan bahwa waktu bergerak lebih lambat di alam, dan bahwa keteduhan adalah bentuk keramahan yang tidak banyak menuntut.
Sayangnya, singgah tetaplah singgah. Usai menikmati kesejukan De Djawatan Forest, kami harus kembali pada tugas utama, yakni melakukan maintenance alat sensor kualitas udara di Desa Kaliploso, Kecamatan Cluring. Perjalanan pun berlanjut.
Akan tetapi, jeda singkat itu meninggalkan kesan yang panjang. De Djawatan bukan hanya tempat untuk berfoto atau berteduh dari matahari. Ia adalah ruang pemulihan kecil di tengah perjalanan - tempat manusia dapat berhenti sebentar, menghirup udara, menikmati pepohonan, lalu kembali bekerja dengan pikiran yang lebih segar. *** [240826]




Tidak ada komentar:
Posting Komentar