Tuesday, June 07, 2011

DIMENSI KUALITAS MANUSIA

Sumber Daya Manusia (SDM) merupakan salah satu faktor kunci dalam setiap pembangunan sebuah negara karena tanpa SDM yang handal, sebuah negara akan mengalami kelambatan dan stagnasi dalam laju sebuah pembangunan, sehingga menjadi hal yang lazim manakala pemerintah berusaha keras untuk menciptakan SDM yang berkualitas dan memiliki ketrampilan serta berdaya saing tinggi dalam persaingan global ini.
Dalam rangka mewujudkan SDM yang berkualitas, perlu kita mengenal kualitas hidup maupun dimensi-dimensinya sehingga kelak dalam menciptakan SDM biar tidak terperangkap dalam pengertian yang tampak saja melainkan mencakup sisi yang tidak tampak juga.

Hakekat Kualitas
Era globalisasi menuntut kita untuk senantiasa meningkatkan kualitas hidup manusia. Kualitas hidup manusia kelak pada masa mendatang telah jauh berbeda dengan pada masa yang lalu. Perspektif kualitas hidup manusia Indonesia di masa depan, ditandai dan akan diwarnai oleh perubahan struktural demografis dan ekonomi serta berada dalam tantangan perkembangan ilmu dan teknologi yang semakin cepat.
Menurut publikasi BPS pada bulan Agustus 2010, jumlah penduduk Indonesia berdasarkan hasil sensus ini adalah sebanyak 237.556.363 orang, yang terdiri dari 119.507.580 laki-laki dan 118.048.783 perempuan.
Setiap makhluk hidup yang bernama manusia, di manapun yang berada di muka bumi ini, memiliki kualitas sendiri-sendiri. Namun bagi kita (baca: Indonesia), kualitas itu acapkali diidentikkan kepada Perguruan Tinggi. Artinya, setiap lulusan atau produk Perguruan Tinggi dianggap manusia yang berkualitas. Insan akademis merupakan barometer kualitas bagi masyarakat pada umumnya, meski sebenarnya kualitas itu variatif sifatnya. Kualitas mempunyai aneka macam aktulisasi diri. Karena kualitas itu menyangkut salah satu kelebihan manusia. Manusia itu sendiri merupakan makhluk sosial. Artinya dalam hidup ia juga memerlukan kualitas dari manusia yang lainnya. Misalnya, perihal kasus Stephen Hawkins, seorang pakar geofisika dunia. Dalam hidupnya ia terkena penyakit lumpuh, namun demikian otaknya yang cemerlang bisa memancarkan kualitasnya, kendati dari pandangan anak kecil, misalnya, Stephen Hawkins itu dianggap seorang yang lemah.
Jadi pendek katanya, semua orang memiliki potensi kualitas. Potensi kualitas tersebut bisa dikembangkan ke dalam karya yang seoptimal dan semaksimal mungkin. Semua orang bisa mengembangkan potensi kualitasnya secara baik berdasarkan kemampuan yang dimilikinya. Masyarakat Indonesia boleh berkiprah di mana saja. Masyarakat Indonesia dijamin mobilitasnya, baik vertikal maupun horisontal. Maka, apabila ada orang desa yang mampu berkiprah di lingkungan perkotaan (urban area) apa salahnya bila mereka berada di kota. Hanya yang menjadi masalah adalah apabila orang desa yang “datang” ke kota itu tidak mampu berkompetisi dalam kehidupan kota. Hal ini tentunya akan menimbulkan kendala yang kurang menyenangkan bagi makna urbanisasi. Urbanisasi akan disumpahserapahi sebagai biang kekumuhan dalam kehidupan perkotaan dengan berbagai implikasi sosialnya yang variatif macamnya.

Dimensi Kualitas Manusia
Kita terlalu banyak dan sering memperhatikan orang yang telah maju sehingga sering abai terhadap masyarakat yang rentan atau bahkan lupa akan potensi diri kita sendiri. Padahal dalam realitas hakiki, setiap manusia itu pada hakikatnya adalah sama. “Sama punya keunggulan individual namun juga memiliki kelemahan individual pula.”
Ditinjau dari aspek mikro dan makro, dimensi-dimensi kualitas manusia meliputi:
Dimensi Manusia dari Kualitas Pribadi.
Kualitas manusia adalah ciri pribadi seseorang yang dapat diibaratkan sebagai “kotak hitam” yang tidak diketahui isinya dari luar. Artinya, manusia mempunyai potensi pribadi yang tidak bisa diangkakan. Manusia memiliki kecerdasan rohaniah dan kecerdasan intelektualitas. Peningkatan kualitas individu melalui pendidikan dan dengan memilki kualitas hidup yang tinggi, motif selanjutnya diarahkan agar manusia sebagai pribadi senantiasa bekerja keras, sungguh-sungguh, punya keahlian dan ketrampilan dalam mengerjakan sesuatu sebagai manfestasi motif semangat profesionalisme dan selalu menghargai waktu.
Dimensi Manusia dari Kualitas Keluarga.
Bentuk keluarga masa kini berbeda dengan bentuk keluarga masa lampau. Keluarga masa kini semakin kecil bentuknya, namun nampak rapuh. Kerapuhan ini biasanya diakibatkan oleh adanya kemajuan zaman. Misalnya, ayah bekerja di Semarang, ibu berada di Jakarta, sedangkan anak-anaknya diikutkan kakek-neneknya atau indekost di Solo.
Situasi dan kondisi keluarga seperti ini mau tak mau akan mempengaruhi perkembangan kepribadian anak-anaknya.
Dimensi Manusia sebagai Anggota Kelompok atau Anggota Masyarakat.
Diharapkan manusia bisa menunjukkan potensi pribadinya, tetapi sekaligus juga tidak terlepas dari masyarakat. Kualitas manusia dan masyarakat pada dasarnya saling terkait, dalam matranya sebagai anggota keluarga, kelompok dari warga negara, manusia dapat ditentukan oleh kelompok interaksi dengan orang lain. Penciptaan kualitas perorangan tidak dapat dilepaskan dari lingkungan sosial dan hal-hal dalam masyarakat yang mengatur, mempengaruhi, menunjang serta membentuk pola hidupnya. Kualitas bermasyarakat merupakan ciri kualitas manusia yang penting. Sebailkinya, kualitas ini tidak pula dapat dibangun tanpa kualitas perorangan.
Dimensi Manusia sebagai Warga Negara.
Kewajiban seseorang selaku warga negara yang baik adalah memiliki rasa dan semangat nasionalisme. “Right or wrong is my country!”
Dimensi Manusia sebagai Humanitas atau sebagai Himpunan Demografi.
Manusia yang bijak adalah manusia yang sadar akan dirinya dan diimplementasikan ke dalam difusi dengan rasa tanggung jawab terhadap humanitas atau sosial.

Sumber Daya Manusia sebagai Kekuatan
Diakui oleh para analis yang berminat dalam pembangunan, SDM adalah transformasi secara sistematis menjadikan penduduk yang besar jumlahnya di Indonesia sebagai kekuatan efektif dalam pembangunan nasional baik sebagai subyek maupun obyek.
Dalam proses transformasi yang berkesinambungan dimungkinkan SDM Indonesia dalam segala keterbatasannya saat ini, mampu melaksanakan peranannya secara baik sebagai subyek dan sekaligus pembangunan. Sehingga ke depannya diperlukan konsistensi pemangku kebijakan yang mengarahkan SDM ke dalam beberapa sasaran, seperti: mendayagunakan tenaga kerja dalam berbagai lini pekerjaan, penguasaan ilmu dan teknologi serta peningkatan kualitas hidup.
Hanya saja dalam mengimplementasikan beberapa sasaran tersebut, kita harus benar-benar cermat. Karena, kualitas manusia merupakan ciri pribadi seseorang yang tidak tampak dari luar, ia dapat terwujud dalam perbuatan, penampilan atau manifestasi lain tetapi manifestasi itu pun belum tentu merupakan hasil dari kualitas. Dengan begitu, apa yang terlihat sebagai “kualitas” oleh masyarakat, biasanya adalah masukan (input), keluaran (output) atau lingkungan sekitar yang dapat dipantau. Misalnya, tingkat pendidikan, kekayaan, kedudukan, keturunan atau keadaan keluarga, penampilan atau cara berpakaian maupun gelar yang diperoleh, biasa digunakan sebagai ukuran kualitas. Padahal penampilan tersebut dapat berbeda jauh dari tingkat kualitas yang sesungguhnya. Ini menunjukkan juga mengapa upaya memperbaiki kualitas sering tidak berhasil, karena biasanya pengembangan atau perbaikan kualitas dilakukan dengan memperbaiki input, output dan lingkungan. Padahal kualitas yang bersangkutan sebetulnya tidak diketahui dan hanya diperkirakan saja. Akibatnya segala upaya untuk memperbaiki kualitas tidak berhasil mencapai sasaran.
Lalu, mampukah SDM kita memiliki daya saing yang unggul dalam persaingan global saat ini? Ini, tentunya tergantung dari kualitas-kualitas yang ada yang diaktualisasikan ke dalam kerja keras dan semangat membangun. ***

0 comments:

Post a Comment

Sahabat Blog

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Hot Sonakshi Sinha, Car Price in India