Di depan Balai Desa Sumberejo, Kecamatan Pagak, Kabupaten Malang, dua tanaman jarak merah menjadi pusat perhatian setiap pengunjung yang datang. Sepasang tumbuhan ini berdiri tegak dengan batang yang kokoh, membentuk simetri yang menawan di sisi kanan dan kiri pintu masuk kantor desa.
Daun hijau tua merah keunguan yang lebar dan berbentuk jari-jari itu memancarkan kesegaran, sedangkan bunga merah cerah yang tumbuh di ujung ranting memberi sentuhan warna yang kontras, bagaikan kilau api yang mempesona di tengah hijau subur.
Karena daun mudanya berwarna merah keungunan, tanaman ini dikenal dengan jarak merah. Sepintas memang mirip dengan kerabatnya, yaitu tanaman jarak pagar (Jatropa curcas), namun warna dan bentuk daunnya menjadi pembeda yang khas.
Di Indonesia, tanaman jarak merah mempunyai nama lokal. Orang Lampung menyebutnya jarak ulung. Orang Jawa mengenalnya dengan jarak merah, jarak landi, atau jarak china. Orang Madura menamainya dengan kaleke bacu atau kaleke jharat. Sedangkan, orang Bali umumnya menyebut jarak keliki.
![]() |
Bunga tanaman jarak merah (Jatropha gossypiifolia) di depan Balai Desa Sumberejo, Kecamatan Pagak, Kabupaten Malang |
Tanaman jarak merah memiliki nama ilmiah Jatropha gossypiifolia L. Nama genus Jatropha berasal dari bahasa Yunani dari gabungan kata “iatrόs” (dokter) dan “trophé” (makanan), mengacu pada khasiat obat yang dikaitkan dengan spesies yang termasuk dalam genus tersebut [
1Puccio, P. (n.d.). Jatropha gossypiifolia (M. Beltramini, Ed.). Monaco Nature Encyclopedia: Discover the Biodiversity. Retrieved February 12, 2025, from https://www.monaconatureencyclopedia.com/jatropha-gossypiifolia/?lang=en#:~:text=The%20Jatropha%20gossypiifolia%20L.,exceed%20the%201%2C5%20m
].Sedangkan, julukan khusus gossypiifolia berasal dari bahasa Latin dari kombinasi kata “gossypium” (kapas) dan “folium” (daun), yang menunjukkan bahwa daunnya tampak mirip dengan daun tanaman kapas [
2Bebawi,Faiz, cabicompendium.28394, CABI Compendium, doi:10.1079/cabicompendium.28394, CABI International, Jatropha gossypiifolia (bellyache bush), (2022)
].Spesies tanaman ini diperkenalkan dan dideskripsikan oleh botaniwan Swedia Carolus Linnaeus (1707-1778) pada tahun 1753, dan dipublikasikan dalam Species Plantarum: Exhibentes Plantas Rite Cognitas, Ad Genera Relatas, Cum Differentiis Specificis, Nominibus Trivialibus, Synonymis Selectis, Locis Natalibus, Secundum Systema Sexuale Digestas. (Tomus II) [
3Linnaei, Caroli. (1753). Species Plantarum: Exhibentes Plantas Rite Cognitas, Ad Genera Relatas, Cum Differentiis Specificis, Nominibus Trivialibus, Synonymis Selectis, Locis Natalibus, Secundum Systema Sexuale Digestas. (Tomus II). Holmiae: Impensis Laurentii Salvii. https://www.biodiversitylibrary.org/page/358580
], atau Sp. Pl. 2: 1006 (1753).Nama-nama umum (common names) dari Jatropha gossypiifolia: bellyache bush (Inggris); jatrophe à feuilles de cotonnier (Prancis); cimarrona, higuereta, jaquillo, tua-tua (Spanyol); dravanti, rakta-vyaaghraianda (Sansekerta); lal bheranda, jaljeol, erenda, karachuni, kander (Bangladesh); nhao luat (Laos); daafu kai tias (Vietnam); sabu lueat, sabuu daeng, salot daeng (Thailand); jarak beremah, jarak belanda, jarak china (Malaysia); jarak merah, jarak china (Indonesia); lansi-lansindan (Tagalog); ye lie yan ma feng shu (China); yatorofa goshipiforia (Jepang); cottonleaf physic nut (Australia); chagas-velhas, pinhão-roxo, raiz-de-tiu (Brasil); pinon (Bolivia); tuba-tuba, tuatua (Kuba).
![]() |
Buah jarak merah (Jatropha gossypiifolia) yang belum matang berwarna hijau |
Tanaman jarak merah (Jatropha gossypiifolia) termasuk dalam famili Euphorbiaceae (suku kastuba-kastubaan), dan daerah asal spesies ini adalah Meksiko, Amerika Tengah, Karibia, Amerika Selatan (kecuali kerucut selatan).
Jatropha gossypiifolia (jarak merah) adalah semak kecil yang memiliki daun berwarna merah keunguan yang panjangnya 16–19 cm dan lebar 10–13 cm dan berseling, menjari, dan berbulu, dengan ujung runcing, pangkal berbentuk hati, dan tepi bergerigi. Bunga merah kecil dengan bagian tengah berwarna kuning berkelamin tunggal dan muncul dalam kelompok. Buahnya berbentuk kapsul, dengan tiga alur, berisi biji berwarna gelap dengan bintik-bintik hitam [
4Wu, Q., Patocka, J., Nepovimova, E., & Kuca, K. (2019). Jatropha gossypiifolia L. and its biologically active metabolites: A mini review. Journal of Ethnopharmacology, 234, 197–203. https://doi.org/10.1016/j.jep.2019.01.022
].Selain dikenal sebagai tanaman hias untuk pagar, jarak merah (Jatropha gossypiifolia) memiliki khasiat dalam pengobatan. Beberapa penggunaan pada manusia dan hewan dalam pengobatan tradisional dijelaskan untuk berbagai bagian (daun, batang, akar, biji, dan lateks) dan sediaan (infus, rebusan, dan maserasi, antara lain) yang berbahan dasar tanaman ini, melalui berbagai rute (oral atau topikal).
Laporan yang paling sering muncul adalah tentang aktivitas antihipertensi, antiinflamasi, antiophidian, analgesik, antipiretik, antimikroba, penyembuhan, antianemia, antidiabetik, dan antihemoragik, di antara banyak contoh lainnya. Penggunaan lain juga terkait dengan tanaman ini, seperti produksi biodiesel, pestisida, insektisida, obat cacing, ornamen, dan bahkan penggunaannya dalam ritual keagamaan [
5Félix-Silva, J., Giordani, R. B., da Silva, A. A., Jr, Zucolotto, S. M., & Fernandes-Pedrosa, M.deF. (2014). Jatropha gossypiifolia L. (Euphorbiaceae): A Review of Traditional Uses, Phytochemistry, Pharmacology, and Toxicology of This Medicinal Plant. Evidence-based complementary and alternative medicine : eCAM, 2014, 369204. https://doi.org/10.1155/2014/369204
].![]() |
Tanaman jarak merah (Jatropha gossypiifolia) di depan Balai Desa Sumberejo dengan latar belakang Pendopo yang masih dibangun |
Di Indonesia, bagian tanaman jarak merah digunakan sebagai obat tradisional adalah getahnya, daun, buah, dan bijinya. Warga Indonesia memanfaatkan bagian-bagian tersebut untuk mengobati berbagai keluhan seperti keputihan, radang telinga, sakit gigi, sariawan, perut kembung, masuk angin, sembelit, jamur, bengkak, luka, pendarahan, rematik, batuk, dan dahak [
6Asep, S., Hening, H., Gema P, S., Gigih, S., Chicy Widya, M., & Sahidin, S. (2017). Anticancer Activity of Jatrophone an Isolated Compound from jatropha gossypifolia Plant Against Hepatocellular Cancer Cell HEP G2 1886. Biomedical and Pharmacology Journal, 10(02), 667–673. https://doi.org/10.13005/bpj/1154
]. Sedangkan, di Kabupaten Buleleng, Bali, daun Jatropha gossypiifolia digunakan untuk mengobati penyakit hati, hepatitis, dan keracunan [7Andila, P. S., Tirta, I. G., Warseno, T., & Sutomo, S. (2023). Medicinal Plants Diversity Used by Balinese in Buleleng Regency, Bali. Journal of Tropical Biodiversity and Biotechnology, 8(1), 73303. https://doi.org/10.22146/jtbb.73303
].Sementara itu, di India, beberapa bagian tanaman jarak merah yang dapat digunakan sebagai tanaman obat adalah getahnya yang berkhasiat sebagai antikanker dan akarnya yang dapat digunakan sebagai penawar racun gigitan ular. Selain itu, daun, biji, batang, dan rantingnya juga diyakini memiliki efek analgetik, antimikroba, antiserangga, antijamur, antikanker, dan antiradang.
Qinghua Wu et. al. dalam Jatropha gossypiifolia L. and its biologically active metabolites: A mini review (2019, Journal of Ethnopharmacology, 234, 197–203) melaporkan bahwa orang-orang di Trinidad menggunakan rebusan tanaman ini untuk menyembuhkan luka dan mengurangi rasa sakit. Di Tobago, Jatropha gossypiifolia digunakan untuk tujuan etnomedisinal untuk mengobati luka gores, luka dan pembengkakan. Selain itu, di Nigeria Selatan, ekstrak dari daun segar biasanya digunakan untuk menghentikan pendarahan dari kulit dan hidung.
Namun demikian, Wu et. al. juga mengingatkan bahwa penggunaan Jatropha gossypiifolia dalam pengobatan tradisional harus hati-hati karena spesies Jatropha dikenal karena potensi toksiknya, dan toksisitasnya terutama terkait dengan kandungan lateks dan bijinya. *** [120225]
Tidak ada komentar:
Posting Komentar